Rupiah Ambruk, Analis Diminta Sudahi Pandangan Negatif ke Trump
Sabtu, 12 November 2016 - 16:43 WIB
Rupiah Ambruk, Analis Diminta Sudahi Pandangan Negatif ke Trump
A
A
A
JAKARTA - Analis Ekonomi Indosurya Securities William Surya Wijaya mengatakan banyak kemungkinan yang menyebabkan rupiah dan Indeks harga saham gabungan sempat anjlok minggu ini. Salah satunya karena analisis-analisis yang berlebihan terhadap majunya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS).
(Baca Juga: BI Sebut Analis Jadi Penyebab Rupiah Anjlok)
Analisis pasar atau pelaku ekonomi tentang Trump efek, belakangan diyakini membuat rupiah dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sempat mencapai posisi terburuk. Bahkan rupiah sempat terperosok ke level Rp13.800/USD. Hal-hal seperti ini yang seharusnya dihindari, karena menurut William, tidak akan baik untuk ke depannya.
"Analisis-analisis ini sebetulnya mengganggu. Karena jika dilihat, analisis ekonomi dari efek Trump lah yang sebetulnya membuat pasar negatif, bukan karena Trump terpilih, tapi karena analisisnya yang berlebihan," kata dia kepada Sindonews, Jakarta, Sabtu (12/11/2016).
(Baca Juga: Kejatuhan Rupiah dan Pasar Modal Bukan Donald Trump Efek)
Dia juga mengatakan bahwa, tidak perlu khawatir berlebih karena kebijakan yang dianggap kurang baik yang dibuat oleh Trump selama kampanye. Karena pada dasarnya, tidak mungkin seorang pemimpin negara dengan basic seorang pengusaha ingin membuat ekonomi gonjang-ganjing.
"Ya yakin saja sekarang. Karena Trump itu kan sama kayak Jokowi. Sama-sama pengusaha. Sekarang kalau mau membuat ekonomi dunia enggak stabil, usahanya dia juga enggak akan bagus," tegasnya.
Maka, William mengimbau agar analisis-analisis dan pandangan negatif tentang arah kebijakan Trump disudahi, agar tidak membuat kondisi pasar Indonesia menjadi tidak stabil. "Kalau semua tenang, tidak ditanggapi berlebihan, pasti semua akan kembali seperti semula. Rupiah membaik, IHSG membaik," pungkasnya.
(Baca Juga: BI Sebut Analis Jadi Penyebab Rupiah Anjlok)
Analisis pasar atau pelaku ekonomi tentang Trump efek, belakangan diyakini membuat rupiah dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sempat mencapai posisi terburuk. Bahkan rupiah sempat terperosok ke level Rp13.800/USD. Hal-hal seperti ini yang seharusnya dihindari, karena menurut William, tidak akan baik untuk ke depannya.
"Analisis-analisis ini sebetulnya mengganggu. Karena jika dilihat, analisis ekonomi dari efek Trump lah yang sebetulnya membuat pasar negatif, bukan karena Trump terpilih, tapi karena analisisnya yang berlebihan," kata dia kepada Sindonews, Jakarta, Sabtu (12/11/2016).
(Baca Juga: Kejatuhan Rupiah dan Pasar Modal Bukan Donald Trump Efek)
Dia juga mengatakan bahwa, tidak perlu khawatir berlebih karena kebijakan yang dianggap kurang baik yang dibuat oleh Trump selama kampanye. Karena pada dasarnya, tidak mungkin seorang pemimpin negara dengan basic seorang pengusaha ingin membuat ekonomi gonjang-ganjing.
"Ya yakin saja sekarang. Karena Trump itu kan sama kayak Jokowi. Sama-sama pengusaha. Sekarang kalau mau membuat ekonomi dunia enggak stabil, usahanya dia juga enggak akan bagus," tegasnya.
Maka, William mengimbau agar analisis-analisis dan pandangan negatif tentang arah kebijakan Trump disudahi, agar tidak membuat kondisi pasar Indonesia menjadi tidak stabil. "Kalau semua tenang, tidak ditanggapi berlebihan, pasti semua akan kembali seperti semula. Rupiah membaik, IHSG membaik," pungkasnya.
(akr)