Ini Penyebab Kenaikan Upah Buruh di NTT Paling Kecil

Senin, 28 November 2016 - 22:08 WIB
Ini Penyebab Kenaikan...
Ini Penyebab Kenaikan Upah Buruh di NTT Paling Kecil
A A A
JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mengungkapkan, kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2017 di Nusa Tenggara Timur (NTT) paling kecil se-Indonesia. Persentase kenaikannya hanya sebesar 7,02%.

Kasubdit Standarisasi dan Fasilitasi Pengupahan Kemenaker Dinar Tirtus mengatakan, angka itu berada di bawah standar formula yang ditentukan di Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan. Dalam PP tersebut. UMP 2017 diputuskan naik 8,25% setiap wilayah.

Dinar menjelaskan, rendahnya kenaikan upah ini disebabkan oleh produktivitas buruh di NTT yang masih lesu. Jika dipaksakan sesuai PP 78 maka dikhawatirkan akan merusak perekonomian daerah.

"NTT itu mohon maaf, dia (gubernur) mengaku produktivitas buruh dan ekonomi lambat, enggak mungkin nambah 8,25%. Gubernur tahu, enggak mungkin naik lebih dari itu, dipaksa seperti apa, jatuh itu," ujarnya di Gedung Kemenaker, Jakarta, Senin (28/11/2016).

Menurut dia, formulasi UMP 2017 yang dihitung berdasarkan angka pertumbuhan ekonomi nasional dan inflasi tetap tidak bisa diterapkan di NTT. Sebab, setiap wilayah memiliki keterbatasan untuk mendorong perekonomiannya.

"Kami menghitung formula dari inflasi dan PDB tapi NTT terlalu rendah. Didorong untuk terlalu tinggi enggak bisa, ditahan, dengan begini NTT juga belum bisa didorong (perekonomiannya)" katanya.

Mirisnya lagi, dia melanjutkan, belum ada sektor unggulan yang bisa menggerakan perekonomian di NTT karena produktivitasnya rendah. Sehingga pengusaha yang ada di sana memiliki keterbatasan dalam mengembangkan bisnis.

"Perusahaan umum saja, enggak ada unggulan. Bayar (buruh) tetap di atas upah minimum tapi kalau dinaikkan lagi upahnya naik tinggi, perusahaan enggak akan mampu bayar," pungkasnya.

Sekedar informasi, UMP Nusa Tenggara Timur (NTT) 2017 di bawah ketentuan PP 78 yang hanya naik sebesar 7,02% dari Rp1.425.000 menjadi Rp1.525.000. Persentase tersebut berada 1,23% di bawah hitungan formula 8,25%.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tolak Usulan Pengusaha,...
Tolak Usulan Pengusaha, Kemnaker: Negara Ini Tak Mengenal Istilah No Work No Pay
Surat Edaran Menaker...
Surat Edaran Menaker Lindungi Usaha dan Upah di Tengah Pandemi
Kajian Buruh: UU Cipta...
Kajian Buruh: UU Cipta Kerja Mengembalikan Rezim Upah Murah
KSPI Sebut Hilangnya...
KSPI Sebut Hilangnya Upah Minimum Rugikan Buruh secara Konstitusi
Hadapi Bonus Demografi,...
Hadapi Bonus Demografi, Pengamat Ketenagakerjaan Minta Pemerintah Perluas Lapangan Kerja
Kadin Minta Kebijakan...
Kadin Minta Kebijakan Pengupahan Berorientasi pada Pertumbuhan Ekonomi
Berita Terkini
Peneliti: Manfaat Ekonomi...
Peneliti: Manfaat Ekonomi Digital Lebih Banyak Dinikmati sebagai Konsumsi
1 jam yang lalu
Dulu Rakyatnya Ngungsi...
Dulu Rakyatnya Ngungsi ke RI, Kini Vietnam Naik Kelas Lampaui Indonesia
3 jam yang lalu
Tarif Listrik Tidak...
Tarif Listrik Tidak Naik hingga September 2026, Dirut PLN Bicara soal Pasokan
4 jam yang lalu
Cadangan Energi AS Ternyata...
Cadangan Energi AS Ternyata Keropos: Stok Minyak Dikuras Habis, Stok Terendah Sejak 1983!
8 jam yang lalu
Sistem Payment Gateway...
Sistem Payment Gateway Revolusioner untuk UMKM & Startup Dirilis, Jaminan Uptime 99,95%
16 jam yang lalu
Liburan Sekolah Penuh...
Liburan Sekolah Penuh Aktivitas Seru, Edukatif, dan Bermakna Bersama Paramount Gading Serpong
17 jam yang lalu
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved