Kedapatan Pungli, Struktur Bea Cukai Didorong Perlu Reformasi

Selasa, 29 November 2016 - 14:27 WIB
Kedapatan Pungli, Struktur...
Kedapatan Pungli, Struktur Bea Cukai Didorong Perlu Reformasi
A A A
JAKARTA - Perilaku pungutan liar (Pungli) yang masih ada dalam tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, seperti beberapa waktu lalu terjadi di Semarang oleh pegawai Bea Cukai terhadap salah satu importir. Menurut Direktur Center For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi hal ini bisa menjadi momentum untuk melakukan reformasi dan perombakan struktur organisasi dalam tubuh Bea Cukai.

(Baca Juga: Dirjen Pajak dan Bea Cukai Minta Maaf ke DPR Soal Korupsi)

Lebih lanjut dia menerangkan selain persoalan pungli, hal lain yang harusnya dicermati adalah penerimaan negara dari target Bea Cukai dinilai harus dievaluasi menyeluruh. "Penting melakukan perombakan struktur di Bea Cukai. Karena strukturnya sudah tidak wajar dan memalukan," terang dia di Jakarta, Selasa (29/11/2016).

Sementara menanggapi permintaan maaf Direktur Jenderal (Dirjen) Bea Cukai Heru Pambudi sebelum memaparkan bahan rapat kerja (Raker) kepada Komisi XI DPR, terkait insiden penangkapan pelaku pungli oleh Bareskrim. Menurut Uchok permintaan maaf tersebut tidak lebih hanya formalitas belaka.

Pasalnya, praktik korupsi yang ada di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tidak dapat dipantau aparat penegak hukum dan masyarakat. "Kalau minta maaf Menteri Kuangan seperti hanya makan sambel pedes. Hari ini minta maaf besok hilang lagi rasa pedes, dan praktik yang sama berulang lagi," sambungnya.

(Baca Juga: Nonaktifkan Pelaku Pungli, Dirjen Bea Cukai Bentuk Tim Khusus)

Selain itu, kata dia, Kemekeu dinilai perlu melakukan pembenahan penerimaan negara. Hal ini untuk membuat penerimaan negara menjadi transparan. Dia membandingkan penerimaan negara dari target kedua institusi di bawah Kemenkeu tersebut.

"Karena sistem penerimaan negara berbasis asumsi, kalau asumsi penerimaan itu bisa lebih dan kurang. Kalau tidak korupsi bisa bertambah (penerimaan-red), kalau korupsi berkurang," jelas dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XI Achmad Hafisz Tohir menambahkan, Kementerian Keuangan perlu mengkaji stuktur organisasi di Direktorat Jenderal Pajak dan Ditjen Bea Cukai. Sebab, hal ini untuk melakukan penyesuaian sesuai dengan dinamika yang terjadi. "Struktur organisasi mesti dikaji kembali. Selain itu, perlu pemanfaatan sistem IT yang bisa memotong potensi penyimpangan dan efisiensi pelayanan," tutur Hafisz.

Dia menambahkan, Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai merupakan jantung untuk mengatur ekonomi terkait fiskal. Karena itu, dua istansi tersebut tidak hanya mengurusi masalah penerimaan negara.

"Harus memompa kegiatan ekonomi sesuai dengan arah kebijakan fiskal. Insentif fiskal kerap disusun pemerintah untuk mendorong investasi agar target pertumbuhan ekonomi atau penciptaan lapangan kerja tercapai. Hal yang sama juga berlaku dengan bea cukai. Jadi dua duanya hrs di reformasi," tutupnya.

Sebagai informasi sebelumnya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi dan Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Ken Dwijugiasteadi melayangkan permintaan maaf terkait Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK dan kasus Pungli terhadap anak buah mereka kepada DPR.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pemerintah Resmi Menaikkan...
Pemerintah Resmi Menaikkan Cukai Rokok 10 Persen untuk Tahun Depan
DJBC Sulawesi Bagian...
DJBC Sulawesi Bagian Selatan Ikut Meriahkan Hari Bea Cukai ke-75
Cukai Naik, Kemenkeu...
Cukai Naik, Kemenkeu Prediksi Produksi Rokok Turun 3,3 Persen
Gaji dan Tunjangan Pegawai...
Gaji dan Tunjangan Pegawai Bea Cukai Berbagai Golongan, Ada Sampai Puluhan Juta Sebulan
Pelayanan Bea dan Cukai...
Pelayanan Bea dan Cukai Dipastikan Tetap Lancar Meski Gunakan Sistem Manual
Sebut Netizen Babu dan...
Sebut Netizen Babu dan Bacot, Pegawai Bea Cukai Ini Kena Sanksi
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Hadirkan Beragam Inovasi Engineering Melalui PINDEX 2026
40 menit yang lalu
Ika Unpad Luncurkan...
Ika Unpad Luncurkan Forum Ekonomi Hijau, Dorong Transformasi Nasional
1 jam yang lalu
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
2 jam yang lalu
IHSG Berakhir Menguat...
IHSG Berakhir Menguat usai Libur Panjang, Hari Ini Sentuh Level 6.195
2 jam yang lalu
Jangan Lewatkan Penawaran...
Jangan Lewatkan Penawaran Umum Obligasi dan Sukuk Ijarah Global Mediacom Tahap II Tahun 2026!
3 jam yang lalu
Ekspor April 2026 Melesat...
Ekspor April 2026 Melesat 21,98% Tembus Rp449.6 Triliun, Ini Penopangnya
4 jam yang lalu
Infografis
4 Hal Perlu Diperhatikan...
4 Hal Perlu Diperhatikan Penderita Asam Urat saat Makan Mi Instan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved