Sri Mulyani Ragukan Lonjakan Harga Minyak Dunia Bertahan Lama

Selasa, 06 Desember 2016 - 14:30 WIB
Sri Mulyani Ragukan...
Sri Mulyani Ragukan Lonjakan Harga Minyak Dunia Bertahan Lama
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengaku kaget dengan keputusan organisasi negara pengekspor minyak (Organization of Petroleum Exporting Countries/OPEC) untuk memangkas jumlah produksinya sebesar 1,2 juta barel per hari. Namun, dia memastikan pemerintah tidak akan mengubah asumsi harga minyak dunia dalam APBN 2017, yaitu sebesar USD45 per barel.

Dia mengatakan, keputusan OPEC untuk memangkas produksi minyaknya memang berpotensi membuat harga minyak dunia terkerek. Namun, mantan Menkeu era Presiden SBY ini meyakini di tahun depan permintaan masih lemah sehingga kemungkinan harga minyak dunia melonjak naik menjadi tertahan dengan lemahnya permintaan tersebut.

"Dari sisi harga minyak sesuai asumsi kita USD45. Karena nampaknya dengan perkembangan sekarang, dilihat dari prospek permintaan tidak mengalami kenaikan kemungkinan saja penguatan dari harga minyak itu akan terpengaruh atau dilemahkan, dengan permintaan yang melemah juga. Dengan demikian juga, dia tidak bisa bertahan lama dalam posisi yang terlalu tinggi," katanya di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (6/12/2016).

(Baca Juga: Sri Mulyani Sebut OPEC Pangkas Produksi Minyak Positif bagi RI)

Menurutnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia akan memengaruhi permintaan (demand) mereka terhadap harga minyak dunia. Sementara saat ini, apa yang terjadi di Eropa seperti Brexit, referendum Italia, hingga pemilihan presiden di Prancis, Jerman, dan Belanda sudah pasti akan memberikan pengaruh terhadap rencana pemulihan ekonomi di Eropa.

Sementara AS, tambah dia dengan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS memang akan merangsang permintaan Negeri Paman Sam -julukan AS- terhadap minyak dunia. Namun, perlu diingat pula bahwa kebutuhan energi di negara tersebut juga bisa disubstitusi dengan energi nonminyak seperti shalegas.

"Jadi secara total di 2017 saya rasa masih dianggap imbang. Harga minyak dunia itu kan analis, tapi dari sisi apakah proyeksi komitmen dari OPEC sebagai produsen minyak terbesar secara terorganisasi, maupun dari sisi permintaan masih sangat mix. Dari sisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang kemudian turunannya adalah pemintaan terhadap minyak, saya melihat bahwa itu kans-nya masih 50:50 dari sisi kenaikan harga minyak yang terlalu tinggi," paparnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Minyak Dunia Terus Merosot,...
Minyak Dunia Terus Merosot, Defisit APBN Melebar Capai Rp12,2 T
Harga Minyak Bergejolak,...
Harga Minyak Bergejolak, G7 Siapkan Taktik Gempur Keuangan Rusia
Beda Sendiri dengan...
Beda Sendiri dengan Dunia, Harga Minyak Mentah RI Menguat ke USD38,07 Per Barel
Optimisme Pasar Mencuat,...
Optimisme Pasar Mencuat, Harga Patokan Minyak Mentah RI Tembus USD63,50/Barel
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Indonesia Naik ke Level USD40,67 per Barel
Pasokan Minyak Dunia...
Pasokan Minyak Dunia Terganggu, ICP Naik Menjadi USD72,20 per Barel
Berita Terkini
Lindungi Bursa Saham...
Lindungi Bursa Saham dari Ancaman Siber, ADIGSI Gandeng APEI
8 jam yang lalu
Tak Sekadar Nyaman,...
Tak Sekadar Nyaman, Hunian Masa Depan Kini Mengandalkan Energi Hijau
8 jam yang lalu
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Janji Menkeu Purbaya
9 jam yang lalu
Program CID Pertamina...
Program CID Pertamina Patra Niaga Ubah Tantangan Lokal Jadi Peluang Usaha
9 jam yang lalu
SIG Berdayakan UMKM...
SIG Berdayakan UMKM Berbasis Potensi Lokal di Tuban
9 jam yang lalu
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
9 jam yang lalu
Infografis
Harga Tiket Indonesia...
Harga Tiket Indonesia vs Australia di Kualifikasi Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved