Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak di Tengah Penguatan USD
Senin, 12 Desember 2016 - 10:48 WIB
Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak di Tengah Penguatan USD
A
A
A
HONG KONG - Harga minyak mentah dunia melonjak ke level tertinggi dalam setengah tahun pada awal perdagangan hari ini, setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Dunia (OPEC) serta Non-OPEC sepakat untuk mengurangi produksi minyak mereka. Hal ini merupakan upaya mengendalikan pasokan global yang kerap membanjir, sehingga memberikan tekanan kepada harga minyak.
Dilansir Reuters, Senin (12/12/2016) penguatan minyak mentah terjadi saat dolar Amerika Serikat (USD) memperpanjang keuntungan sebelum Bank Sentral AS alias The Fed menggelar pertemuan pekan ini untuk membahas kenaikan suku bunga acuan AS atau Fed rate. Tercatat harga minyak berjangka Brent untuk pengiriman Februari naik 5% menjadi USD56,94 per barel saat harga minyak AS ada di livel USD54,07 per barel atau meningkat dari sebelumnya.
Perjanjian antara OPEC dan sejumlah negara-negara penghasil minyak lainnya memberikan sentimen positif kepada pasar, sementara itu langkah OPEC dan No-OPEC merupakan tindakan bersama untuk pertama kali sejak 2001, silam. Harga minyak sendiri telah lebih dari dua tahun berada pada level terendah yang juga dipengaruhi gejolak pada negara-negara dari Timur Tengah hingga Amerika Latin.
Lonjakan harga minyak belakangan telah memperbarui fokus kepada inflasi, ketika data akhir pekan kemarin menunjukkan lonjakan yang langka pada harga produsen di China untuk mendorong investor khawatir akan tekanan inflasi. "Kita telah melihat OPEC dan non-OPEC sepakat, yang juga akan meningkatkan harapan reflation di seluruh dunia," kata dealer IG Markets Chris Weston.
Sementara pada pasar mata uang, euro diperdagangkan lebih rendah dalam satu tahun terhadap USD ke level 1.055. Analis berharap pemulihan dapat berada pada kisaran level 1,07 per USD jika level 1,05 tidak rusak. Di sisi lain Harga emas menyusut di tengah peningkatan USD menjadi USD1.153,93 per ons dan turun 0,3%.
Dilansir Reuters, Senin (12/12/2016) penguatan minyak mentah terjadi saat dolar Amerika Serikat (USD) memperpanjang keuntungan sebelum Bank Sentral AS alias The Fed menggelar pertemuan pekan ini untuk membahas kenaikan suku bunga acuan AS atau Fed rate. Tercatat harga minyak berjangka Brent untuk pengiriman Februari naik 5% menjadi USD56,94 per barel saat harga minyak AS ada di livel USD54,07 per barel atau meningkat dari sebelumnya.
Perjanjian antara OPEC dan sejumlah negara-negara penghasil minyak lainnya memberikan sentimen positif kepada pasar, sementara itu langkah OPEC dan No-OPEC merupakan tindakan bersama untuk pertama kali sejak 2001, silam. Harga minyak sendiri telah lebih dari dua tahun berada pada level terendah yang juga dipengaruhi gejolak pada negara-negara dari Timur Tengah hingga Amerika Latin.
Lonjakan harga minyak belakangan telah memperbarui fokus kepada inflasi, ketika data akhir pekan kemarin menunjukkan lonjakan yang langka pada harga produsen di China untuk mendorong investor khawatir akan tekanan inflasi. "Kita telah melihat OPEC dan non-OPEC sepakat, yang juga akan meningkatkan harapan reflation di seluruh dunia," kata dealer IG Markets Chris Weston.
Sementara pada pasar mata uang, euro diperdagangkan lebih rendah dalam satu tahun terhadap USD ke level 1.055. Analis berharap pemulihan dapat berada pada kisaran level 1,07 per USD jika level 1,05 tidak rusak. Di sisi lain Harga emas menyusut di tengah peningkatan USD menjadi USD1.153,93 per ons dan turun 0,3%.
(akr)
Lihat Juga :