Prospek Properti 2017 Cerah, BTN Siapkan Amunisi
Rabu, 14 Desember 2016 - 12:55 WIB
Prospek Properti 2017 Cerah, BTN Siapkan Amunisi
A
A
A
JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) akan terus memacu penciptaan para pengembang baru dan memoles layanan digital banking untuk menggarap potensi besar sektor properti tahun depan.
Direktur Utama Bank BTN Maryono mengatakan, sektor perumahan nasional tahun depan akan terus membaik. Hal ini karena adanya penopang berupa perbaikan beberapa faktor penentu pertumbuhan bisnis properti.
Di antaranya, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi positif, tingkat suku bunga acuan cenderung turun, bonus demografi, hingga pembangunan infrastruktur yang terus tumbuh.
Selain itu, lanjut dia, ruang bisnis sektor perumahan pun masih luas untuk dikembangkan. Hingga September 2016, kontribusi sektor perumahan terhadap PDB berkisar 2,5%-2,8%.
"Dengan kontribusi itu, artinya masih banyak ruang bisnis yang bisa dikembangkan. Untuk itu, Bank BTN mendorong penciptaan pengembang baru di sisi supply dan terus berinovasi dalam digital banking untuk akselerasi demand," ujar dia di Jakarta, Rabu (14/12/2016).
Proyeksi positif bagi sektor perumahan, tambah Maryono, juga melihat sektor properti menjadi salah satu prioritas pemerintah. Apalagi, dalam sektor properti nasional, Bank BTN tak hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan, tapi juga menjadi inisiator dan integrator serta pusat informasi dan keahlian.
Menurutnya, dalam mendorong lahirnya wirausaha baru di bidang properti, Bank BTN memiliki program mini MBA in Property. Hingga kini, program tersebut telah meluluskan 235 calon wirausaha di sektor properti. Targetnya, lulusan program ini akan meningkat menjadi 1.000 orang pada 2017.
Pada tahun depan Bank BTN juga akan mengokohkan digital mortgage perseroan. "Dengan sistem ini, masyarakat bisa mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR) secara online," tuturnya.
Adapun, hingga Oktober 2016 pertumbuhan bisnis Bank BTN (unaudited) masih berada di atas industri. Perseroan mencatat peningkatan aset sebesar 18,08% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp167,74 triliun di Oktober 2015 menjadi Rp197,72 triliun di bulan yang sama tahun ini.
Kredit pun naik 16,63% secara yoy dari Rp132,89 triliun pada Oktober 2015 menjadi Rp154,99 triliun di Oktober 2016. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 19,01% yoy dari Rp124,4 triliun per Oktober 2015 menjadi Rp148,05 triliun pada Oktober tahun ini.
Direktur Utama Bank BTN Maryono mengatakan, sektor perumahan nasional tahun depan akan terus membaik. Hal ini karena adanya penopang berupa perbaikan beberapa faktor penentu pertumbuhan bisnis properti.
Di antaranya, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi positif, tingkat suku bunga acuan cenderung turun, bonus demografi, hingga pembangunan infrastruktur yang terus tumbuh.
Selain itu, lanjut dia, ruang bisnis sektor perumahan pun masih luas untuk dikembangkan. Hingga September 2016, kontribusi sektor perumahan terhadap PDB berkisar 2,5%-2,8%.
"Dengan kontribusi itu, artinya masih banyak ruang bisnis yang bisa dikembangkan. Untuk itu, Bank BTN mendorong penciptaan pengembang baru di sisi supply dan terus berinovasi dalam digital banking untuk akselerasi demand," ujar dia di Jakarta, Rabu (14/12/2016).
Proyeksi positif bagi sektor perumahan, tambah Maryono, juga melihat sektor properti menjadi salah satu prioritas pemerintah. Apalagi, dalam sektor properti nasional, Bank BTN tak hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan, tapi juga menjadi inisiator dan integrator serta pusat informasi dan keahlian.
Menurutnya, dalam mendorong lahirnya wirausaha baru di bidang properti, Bank BTN memiliki program mini MBA in Property. Hingga kini, program tersebut telah meluluskan 235 calon wirausaha di sektor properti. Targetnya, lulusan program ini akan meningkat menjadi 1.000 orang pada 2017.
Pada tahun depan Bank BTN juga akan mengokohkan digital mortgage perseroan. "Dengan sistem ini, masyarakat bisa mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR) secara online," tuturnya.
Adapun, hingga Oktober 2016 pertumbuhan bisnis Bank BTN (unaudited) masih berada di atas industri. Perseroan mencatat peningkatan aset sebesar 18,08% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp167,74 triliun di Oktober 2015 menjadi Rp197,72 triliun di bulan yang sama tahun ini.
Kredit pun naik 16,63% secara yoy dari Rp132,89 triliun pada Oktober 2015 menjadi Rp154,99 triliun di Oktober 2016. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 19,01% yoy dari Rp124,4 triliun per Oktober 2015 menjadi Rp148,05 triliun pada Oktober tahun ini.
(izz)
Lihat Juga :