RI Akan Banyak Hadapi Gejolak Ekonomi Global di Tahun Depan

Minggu, 18 Desember 2016 - 19:27 WIB
RI Akan Banyak Hadapi...
RI Akan Banyak Hadapi Gejolak Ekonomi Global di Tahun Depan
A A A
JAKARTA - Institute Development of Economic and Finance (Indef) mengungkapkan bahwa kondisi perekonomian global di tahun depan masih dibayangi oleh kelesuan. Pemerintah pun diminta untuk mengantisipasinya, agar tidak terlalu berdampak terhadap kondisi ekonomi di Tanah Air.

Peneliti Indef ‎Abra P. G Talattov mengungkapkan, kondisi global yang harus diantisipasi pemerintah adalah kecenderungan meningkatnya harga komoditas di spot internasional. Indeks harga komoditas yang mulai terkerek pasca keterpurukan yang dalam beberapa waktu lalu, akan mengerek penerimaan negara-negara yang kaya akan komoditas seperti Indonesia.

"Ini jadi ekspor dan penerimaan negara‎ akan meningkat karena kenaikan harga komoditas. Misal harga minyak dunia, karet, batubara, dan nikel yang akan naik. Nah itu jadi pemicu peningkatan ekonomi kita kedepan," katanya dalam sebuah diskusi bertajuk 'Catatan Akhir Tahun' di Kedai Tjikini, Jakarta, Minggu (18/12/2016).

Namun di sisi lain, sambung dia, kenaikan harga minyak dunia dan sejumlah harga komoditas lainnya juga akan berdampak pada kondisi fiskal di masa yang akan datang. Terutama, terkait dengan potensi adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) karena harga minyak dunia yang mu‎lai naik.

Sebab, jika harga BBM naik cukup signifikan akibat hal tersebut, maka akan memengaruhi daya beli masyarakat. Tak hanya itu, harga-harga kebutuhan pokok lainnya juga akan ikut terkerek seiring dengan kenaikan tersebut.

"‎Itu akan jadi beban fiskal kita terutama untuk peningkatan harga BBM. Apakah kalau kedepan ada peningkatan harga BBM, apa akan ada kenaikan subsidi atau justru subsidinya diturunkan," imbuh dia.

Abra juga menyoroti kenaikan tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Fund Rate), yang dinilainya juga sebagai salah satu risiko global yang harus‎ diantisipasi pemerintah. Apalagi, Bank Sentral AS juga berencana kembali menaikkan tingkat suku bunga acuannya di tahun depan.

Pada kenaikan The Fed kemarin, lanjut dia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terpuruk cukup dalam. Jika tidak diantisipasi kedepannya, maka asumsi nilai tukar rupiah ‎akan meleset dan akan menjadi beban fiskal di masa yang akan datang.

"Ini selalu jadi hantu perekonomian kita. Sejak 2008, Fed kecenderungannya memang turun karena krisis ekonomi di AS, dan mulai 2015 sampai sekarang pemerintah AS optimis ada peningkatan ekonomi, akhirnya mereka sudah dua kali tahun ini naikkan tingkat suku bunga," tuturnya.

Selanjutnya, tambah Abra, kebijakan fiskal AS pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS juga perlu diantisipasi pemerintah. Pasalnya, Trump memiliki ambisi untuk mendongkrak ekonomi AS, dan salah satunya dengan penambahan utang.

"‎Dan itu pada akhirnya akan menarik dana negara berkembang keluar ke AS. Pada akhirnya yeild obligasi pemerintah Indonesia akan meningkat dan akan jadi beban tambahan untuk fiskal Indonesia," ungkap Abra.

Terakhir, katanya, stabilitas ekonomi di Uni Eropa juga menjadi hal yang harus diantisipasi. Misalnya, pasca hengkangnya Inggris dari Uni Eropa, referendum Italia, hingga Pemilihan Umum yang akan berlangsung di Jerman dan Prancis.

"‎Ada kelompok nasionalisme baru yang menghendaki masing-masing negara (Jerman dan Prancis) keluar dari UE, akhirnya memengaruhi ekonomi global tramsuk investasi dan perdagangan Indonesia," tandasnya.
(dol)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Prospek Bisnis Seiring...
Prospek Bisnis Seiring Pertumbuhan Ekonomi RI
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Berita Terkini
Menangkap Pangsa Terbesar...
Menangkap Pangsa Terbesar Wisata Medis, Malaysia Fair 2026 Hadir di Jakarta
21 menit yang lalu
Petani Sawit: Margin...
Petani Sawit: Margin dan Kewenangan BUMN Tentukan Harga Jadi Beban Berat Ekosistem Sawit
1 jam yang lalu
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
3 jam yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
6 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
6 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
16 jam yang lalu
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved