Sektor Industri China Tumbuh Lebih Kuat

Selasa, 27 Desember 2016 - 13:30 WIB
Sektor Industri China...
Sektor Industri China Tumbuh Lebih Kuat
A A A
BEIJING - Sektor industri China menunjukkan pertumbuhan laba terkuat dalam tiga bulan pada November, menunjukkan ekonomi terbesar kedua di dunia ini membaik. Meskipun, pembuat kebijakan mencatat keuntungan ini masih terlalu bergantung pada kenaikan harga minyak, besi dan baja.

Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (27/12/2016), keuntungan industri naik cukup solid tahun ini setelah jatuh tahun lalu. Hal ini didorong pemulihan harga komoditas sebagai pasokan yang diperketat karena kapasitas reduksi dan ledakan infrastruktur.

Biro Statistik Nasional (NBS) mencatat, keuntungan pada November naik 14,5% menjadi 774,6 miliar yuan (USD111 miliar) dari tahun lalu, tertinggi sejak rekor pada Agustus yang melonjak 19,5% dan keuntungan pada Oktober naik 9,8%.

Keuntungan industri naik 9,4% dalam 11 bulan pertama dari tahun sebelumnya, atau naik dari 8,6% pada Januari-Oktober.

"Keuntungan industri naik relatif cepat karena basis rendah tahun lalu, dan pertumbuhan itu terlalu bergantung pada kenaikan harga di industri bahan baku seperti penyulingan minyak, besi dan baja," kata He Ping, seorang pejabat NBS.

Keuntungan di bidang manufaktur naik 13,7% untuk periode Januari-November dari tahun sebelumnya, sedangkan untuk industri pengolahan logam besi serta minyak dan bahan bakar nuklir penyulingan lebih dari tiga kali lipat.

Begitu juga dengan harga produsen naik di laju tercepat dalam lebih dari lima tahun pada November karena harga batu bara, baja dan bahan bangunan lainnya melonjak, meningkatkan keuntungan industri dan memberikan perusahaan lebih banyak uang untuk melunasi benyaknya utang.

Namun, para analis mengatakan sinyal terbaru dari pemimpin tertinggi China yang akan dilakukan pemimpin China pada 2017 untuk menindak gelembung aset adalah meletakkan tekanan pada harga bahan baku, keraguan atas keberlanjutan seperti kenaikan harga.

"Pertanyaannya adalah apakah kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir akibat peningkatan asli permintaan atau spekulasi keuangan," kata Zhou Hao, ekonom senior di Commerzbank.

"Pemerintah mungkin memperkenalkan langkah-langkah kebijakan baru untuk mengekang pertumbuhan harga bahan baku," imbuh Zhou Hao.

Harga baja di China turun tajam pada Senin ke level terendah dalam lebih dari satu bulan, karena para pedagang mengambil isyarat dari pembicaraan pasar bahwa Beijing mungkin mentolerir pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat di tengah meningkatnya utang dan kondisi global yang tidak menentu.

Data hari ini menunjukkan perusahaan besar dengan pendapatan tahunan lebih dari 20 juta yuan dari operasi utama mereka. Pertumbuhan China stabil tahun ini, dengan ekspektasi 6,7% dalam produk domestik bruto pada tiga kuartal pertama.

Namun, utang perusahaan terus meningkat, meningkatkan risiko China terlihat untuk mendorong maju reformasi struktural. Perusahaan melihat lebih pembayaran yang tertunda, seperti piutang pada akhir November naik 9% dari tahun sebelumnya.

Peningkatan itu terbesar dari kenaikan pendapatan dari operasi utama. "Kesulitan dalam membuat pembayaran masih menjadi rintangan relatif besar yang membatasi produksi dan operasi perusahaan," kata NBS.

Data juga menunjukkan kewajiban perusahaan industri China pada akhir November sebesar 5,6% lebih tinggi dari periode sama tahun lalu, meskipun naik pada kecepatan yang lebih lambat dari aset yang dimiliki. Produksi industri China harus tumbuh sekitar 6% pada 2017, seperti tahun ini.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
1 jam yang lalu
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
2 jam yang lalu
Menteri PU Tinjau IPTC,...
Menteri PU Tinjau IPTC, Nindya Karya Dukung Penambahan Fasilitas Atlet Difabel
2 jam yang lalu
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
3 jam yang lalu
MANU dan Universitas...
MANU dan Universitas Jember Kolaborasi Perkuat Pengembangan SDM Pertanian
3 jam yang lalu
Ini Jenis Produk Sawit...
Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
4 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved