Indeks Kemiskinan di Yogyakarta Menurun

Selasa, 10 Januari 2017 - 22:02 WIB
Indeks Kemiskinan di...
Indeks Kemiskinan di Yogyakarta Menurun
A A A
BANTUL - Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2016 mengalami penurunan. Indeks kedalaman kemiskinan turun dari 2,32 pada bulan September 2015 menjadi 1,75 pada September 2016. Demikian juga indeks keparahan kemiskinan turun dari 0,63 menjadi 0,36 pada periode yang sama.

Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statitistik (BPS) Yogyakarta, Soman Wisnu Dharma mengungkapkan, permasalahan kemiskinan bukan hanya terletak pada berapa jumlah dan prosentase penduduk miskin. Tetapi ada dimensi lain yang perlu diperhatikan, yaitu tingkat kedalaman (poverty gap index) dan tingkat keparahan (poverty severity index). Artinya, selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan terkait kemiskinan juga harus bisa mengurangi keduanya.

"Kebijakan pengurangan angka kemiskinan harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan tingkat keparahan kemiskinan itu sendiri," tandasnya, Selasa (10/1/2017).

Baca: Sri Mulyani: Kemiskinan di Indonesia Menurun 10 Tahun Terakhir

Menurut Soman, dengan penurunan kedua indeks tersebut, mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung mendekati garis kemiskinan. Dan ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin semakin kecil. September 2016 yang lalu, garis kemiskinan di Yogyakarta berada di angka Rp360.169 per kapita per bulan.

Selain itu, pihaknya mencatat indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan pada September 2016 di daerah pedesaan, lebih tinggi dibanding dengan perkotaan. Pada September 2016, indeks kedalaman kemiskinan untuk pedesaan mencapai 2,83, sementara di daerah perkotaan mencapai 1,26. Sementara indeks keparahan kemiskinan di daerah pedesaan sebesar 0,67 dan di perkotaan sekitar 0,22.

Hal ini berarti rata-rata pengeluaran konsumsi penduduk miskin terhadap garis kemiskinan di pedesaan, lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan. Kesenjangan pengeluaran konsumsi antar penduduk miskin di daerah pedesaan juga lebih lebar dibandingkan dengan di daerah perkotaan. "Karakteristik hidup di pedesaan dan perkotaan Yogyakarta memang sangat berbeda," tambahnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Angka Kemiskinan dan...
Angka Kemiskinan dan Pengangguran di Natuna Naik, Ini Penyebabnya
Miris! BPS Sebut Penduduk...
Miris! BPS Sebut Penduduk Miskin Yogyakarta Terbesar di Pulau Jawa
BPS: Angka Kemiskinan...
BPS: Angka Kemiskinan Sulsel Turun pada September 2021
BPS Catat Inflasi November...
BPS Catat Inflasi November Sebesar 0,38 persen
Ekonomi Indonesia Tumbuh...
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12% di Kuartal II 2025
Ini Lho Penyebab Makin...
Ini Lho Penyebab Makin Banyak Orang Fakir di Indonesia
Berita Terkini
Gratis! Kemnaker Buka...
Gratis! Kemnaker Buka Pendaftaran Sertifikasi Kompetensi untuk Lulusan Magang Nasional
49 menit yang lalu
B50 Dimulai 1 Juli,...
B50 Dimulai 1 Juli, Mampukah Jadi Solusi Ketahanan Energi Tanpa Mengorbankan Petani Sawit?
1 jam yang lalu
Nobu Bank Hadirkan Soundbox...
Nobu Bank Hadirkan Soundbox QRIS Gratis dan MDR 0% bagi Pedagang Pasar Sukawati
1 jam yang lalu
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Tanggapan Resmi DJP
1 jam yang lalu
PLN EPI Bangun Ekosistem...
PLN EPI Bangun Ekosistem Bioenergi Perkuat Ketahanan Energi Nasional
1 jam yang lalu
Prudential Indonesia...
Prudential Indonesia Tegaskan Komitmen Tata Kelola Guna Jaga Kepercayaan Nasabah
2 jam yang lalu
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved