Ekonomi RI Dinilai Tersandera hingga Sulit Berkembang

Rabu, 11 Januari 2017 - 17:16 WIB
Ekonomi RI Dinilai Tersandera...
Ekonomi RI Dinilai Tersandera hingga Sulit Berkembang
A A A
JAKARTA - Perekonomian Indonesia menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS) sedangkan tersandera sehingga sulit berkembang. Salah satu penyebabnya menurut Kepala Departemen Penelitian Ekonomi CSIS Yose Rizal Damuri adalah kebijakan pemerintah yang sering nyangkut di daerah.

(Baca Juga: BI Tak Bisa Lagi Turunkan Suku Bunga, Rupiah Keok Tahun Ini)

Selain itu dia juga menyoroti Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menurutnya enggan melakukan reformasi. "Sering terkendala di tingkat daerah. Daerah mengeluarkan aturan yang menegasikan (menyangkal) paket ekonomi. Sektor yang tidak mau melakukan reformasi terutama BUMN," ujarnya di Jakarta, Rabu (11/1/2017).

Dia menambahkan pemerintah saat ini tidak bisa lagi berharap banyak kepada BUMN untuk dapat membangun infrastruktur ketika dana negara terbatas. "Infrastruktur masih didominasi pemerintah dan BUMN. Saat kondisi fiskal sempit maka peran swasta harus lebih besar. Sudah dicoba tapi belum terealisasi," terang dia.

Menurutnya peran BUMN harus mulai dikurangi dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Faktor lain yang membuat ekonomi sulit berkembang, lanjut Rizal, yakni instabilitas polituk dan perubahan sosial. Dalam jangka pendek hal itu berpengaruh ke keamanan dan risiko ekonomi.

"Dalam jangka panjang akan ada perubahan nilai, misal ultranasionalis tidak sesuai dengan ekonomi, pemahaman radikal agama. Ini menyebabkan risiko investasi. Mengurangi daya saing kita mendapatkan investasi," tuturnya.

Meski begitu menurut dia kondisi sosial saat ini sudah terlihat membaik. Namun, ada beberapa faktor yang tetap mengganjal di masyarakat yakni kenaikan harga barang yang terjadi di awal tahun 2017.

"Kondisi sosial yang membaik, tapi permasalahannya ada aspek yang bisa menjadikan ini jadi tidak baik. Pertama, harga pangan cenderung tinggi. Fluktuasi yang lebih besar akan terjadi pada 2017. Ini bisa menjadi instabilitas politik ketika masyarakat tidak puas karena harga pangan tinggi," papar Rizal.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Jauh dari Resesi, Aktivitas...
Jauh dari Resesi, Aktivitas Ekonomi Indonesia Kuat dan Membaik
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
IMF: Pertumbuhan Ekonomi...
IMF: Pertumbuhan Ekonomi dan PDB RI Tembus Rp22,729 Triliun
Indonesia Dipastikan...
Indonesia Dipastikan Masuk ke Dalam Jurang Resesi Ekonomi
Berita Terkini
Pasokan Minyak Global...
Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
38 menit yang lalu
Pertamina Foundation...
Pertamina Foundation Tanamkan Peduli Lingkungan Usia Dini
10 jam yang lalu
Panda Bond Indonesia...
Panda Bond Indonesia Raih Rating AAA, Purbaya: Ada yang Bilang Saya Bohong
10 jam yang lalu
Indonesia Perlu Arah...
Indonesia Perlu Arah Kebijakan Baru Jadi Pusat Hilirisasi Sawit Dunia
10 jam yang lalu
Tingkatkan Nilai Jual...
Tingkatkan Nilai Jual TBS, 133 Pekebun Muara Enim Ikuti Pelatihan Panen Sawit
10 jam yang lalu
Tembus Blokade Laut...
Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
11 jam yang lalu
Infografis
Aturan Seragam Sekolah...
Aturan Seragam Sekolah 2026: Panduan Lengkap SD, SMP, hingga SMA/SMK
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved