Rupiah Diprediksi Melemah Lebih Dalam
Selasa, 17 Januari 2017 - 08:20 WIB
Rupiah Diprediksi Melemah Lebih Dalam
A
A
A
JAKARTA - Meski terdapat sentimen positif, namun rupiah lebih memilih melemah. Penilaian belum cukup kuatnya sentimen yang ada untuk membalikkan tren pelemahan rupiah membuatnya masih berada dalam fase pelemahan.
"Kami pun kembali mengantisipasi akan terjadinya pelemahan lanjutan. Tetap cermati berbagai sentimen yang berpotensi membuat rupiah melemah lebih lanjut," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (17/1/2017).
Dia memperkirakan rupiah akan bergerak dengan kisaran support di level Rp13.380/USD dan resisten USD13.340/USD. Sementara, laju rupiah kemarin kembali mengalami pelemahan melanjutkan penurunan di akhir pekan sebelumnya.
Kali ini imbas pelemahan GBP seiring dengan pernyataan PM Theresia May yang tetap mengkonfirmasikan akan keluarnya Inggris dari Zona Eropa atau Brexit.
Reza menitikberatkan pada masalah imigrasi dan perbatasan sehingga memberikan imbas negatif pada sejumlah mata uang. Laju USD yang sebelumnya melemah mulai kembali terlihat lebih menguat.
Sebelumnya, dalam pidato pekan lalu, Trump tidak menjelaskan kebijakan ekonominya. Padahal, pergerakan USD tidak hanya tergantung pada kebijakan moneter dari The Fed, tetapi juga kebijakan fiskal Trump.
Namun, penguatan USD masih dapat diimbangi dengan kenaikan yen karena merespons data kenaikan machinery orders tahunan, tertiary industry index, dan machine tool orders.
"Adanya rilis kenaikan surplus neraca perdagangan USD990 juta vs USD830 juta dan kembali dinaikannya peringkat ekuitas Indonesia oleh JP Morgan tampaknya tidak banyak berpengaruh pada pergerakan rupiah," pungkasnya.
"Kami pun kembali mengantisipasi akan terjadinya pelemahan lanjutan. Tetap cermati berbagai sentimen yang berpotensi membuat rupiah melemah lebih lanjut," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (17/1/2017).
Dia memperkirakan rupiah akan bergerak dengan kisaran support di level Rp13.380/USD dan resisten USD13.340/USD. Sementara, laju rupiah kemarin kembali mengalami pelemahan melanjutkan penurunan di akhir pekan sebelumnya.
Kali ini imbas pelemahan GBP seiring dengan pernyataan PM Theresia May yang tetap mengkonfirmasikan akan keluarnya Inggris dari Zona Eropa atau Brexit.
Reza menitikberatkan pada masalah imigrasi dan perbatasan sehingga memberikan imbas negatif pada sejumlah mata uang. Laju USD yang sebelumnya melemah mulai kembali terlihat lebih menguat.
Sebelumnya, dalam pidato pekan lalu, Trump tidak menjelaskan kebijakan ekonominya. Padahal, pergerakan USD tidak hanya tergantung pada kebijakan moneter dari The Fed, tetapi juga kebijakan fiskal Trump.
Namun, penguatan USD masih dapat diimbangi dengan kenaikan yen karena merespons data kenaikan machinery orders tahunan, tertiary industry index, dan machine tool orders.
"Adanya rilis kenaikan surplus neraca perdagangan USD990 juta vs USD830 juta dan kembali dinaikannya peringkat ekuitas Indonesia oleh JP Morgan tampaknya tidak banyak berpengaruh pada pergerakan rupiah," pungkasnya.
(izz)