Properti Singapura Lesu, Batam Alternatif Terbaik di Gerbang MEA
Kamis, 02 Februari 2017 - 13:59 WIB
Properti Singapura Lesu, Batam Alternatif Terbaik di Gerbang MEA
A
A
A
JAKARTA - Survei Urban Land Institute menyatakan bahwa posisi Singapura pada jajaran pasar properti paling menarik di Asia, merosot tajam ke peringkat 21.
Berbeda dengan posisi Singapura pada 2011-2012, yang sempat menjadi peringkat pertama. Bagi pengembang khususnya yang menggarap Batam, hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan tersendiri.
"Ini peluang untuk mengemas properti di Batam lebih menarik sebagai investasi maupun hunian. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun selalu di atas 7% atau di atas rata-rata nasional, kami meyakini properti Batam akan terus tumbuh," ujar AVP Strategic Marketing Residential APLN Agung Wirajaya di Jakarta, Kamis (2/2/2017).
Letak kota Batam yang strategis, yakni berada di segita emas pusat pertumbuhan ekonomi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Batam-Singapura-Johor Bahru, telah membuat perusahaan properti PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) semakin meningkatkan investasinya di kota industri ini.
Setelah sejak 2013, membuka superblok Orchad Park Batam seluas 42 hektare di kawasan Batam Center, pada tahun ini Agung Podomoro akan mulai membangun dua tower setinggi 26 lantai apartemen Orchad View Batam. Orchad View Batam akan menawarkan 1.500 unit apartemen tipe studio, 2 bedroom, dan 3 bedroom .
"Berbeda dengan properti di Singapura yang lagi lesu, Properti di Batam justru prospeknya sangat baik. Selain harga properti di Batam masih jauh lebih murah dibanding di Singapura. Juga karena berbagai kebijakan pemerintah Indonesia yang pro properti," ujar Agung.
APLN telah melakukan tes pasar pada November tahun lalu, ketika diumumkan rencana pembangunan apartemen Orchad View Batam ini, responnya sangat bagus.
Bahkan, menurut Senior Marketing Manager Orchard Park Batam, Tedi Guswana, Apartemen dengan mengusung konsep "one stop living, working, shopping, and traveling" ini kebanjiran peminat. "Saat ini sudah masuk 400 pemesan, walaupun pembangunan apartemennya baru akan dimulai Maret 2017 ini," tambah Tedi.
Pemerintah sejak pertengahan 2016, telah memberikan sinyal akan mengubah status istimewa Batam dari Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Dengan berlakunya status pasar bebas regional Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak akhir 2015, maka status FTZ Batam dipandang sudah tidak relevan lagi.
Namun, Batam akan tetap menjadi wilayah istimewa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan industri, dengan status baru sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Dalam status baru ini, yang sedang disusun undang-undangnya, Batam akan lebih membebaskan arus investasi masuk dan menjadikan Batam sebagai wilayah suaka pajak (Tax Heaven). Orang asing kemungkinan juga akan dipermudah untuk memiliki dan membeli properti di Batam dan propertinya bisa dijadikan sebagai jaminan usaha.
Dengan perubahan status itu, Batam diperkirakan akan mengalami booming permintaan properti di 2017 ini terutama untuk hunian tapak, perkantoran, dan apartemen. Sehingga, wajar jika hampir semua pengembang besar telah mulai berlomba menancapkan kuku di Batam.
Selain Agung Podomoro Land yang hadir di Batam melalui superblok Orchard Park Batam, juga hadir Ciputra Group dengan proyek Citra Land Megah, dan Sinar Mas Land Group dengan proyek kawasan bernama Nuvasa Bay.
Dengan posisi strategis Batam dan prospek bisnis MEA yang semakin membesar di tahun depan, wajar jika banyak pengusaha Indonesia mulai membidik untuk investasi properti di Batam.
Berbeda dengan posisi Singapura pada 2011-2012, yang sempat menjadi peringkat pertama. Bagi pengembang khususnya yang menggarap Batam, hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan tersendiri.
"Ini peluang untuk mengemas properti di Batam lebih menarik sebagai investasi maupun hunian. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun selalu di atas 7% atau di atas rata-rata nasional, kami meyakini properti Batam akan terus tumbuh," ujar AVP Strategic Marketing Residential APLN Agung Wirajaya di Jakarta, Kamis (2/2/2017).
Letak kota Batam yang strategis, yakni berada di segita emas pusat pertumbuhan ekonomi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Batam-Singapura-Johor Bahru, telah membuat perusahaan properti PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) semakin meningkatkan investasinya di kota industri ini.
Setelah sejak 2013, membuka superblok Orchad Park Batam seluas 42 hektare di kawasan Batam Center, pada tahun ini Agung Podomoro akan mulai membangun dua tower setinggi 26 lantai apartemen Orchad View Batam. Orchad View Batam akan menawarkan 1.500 unit apartemen tipe studio, 2 bedroom, dan 3 bedroom .
"Berbeda dengan properti di Singapura yang lagi lesu, Properti di Batam justru prospeknya sangat baik. Selain harga properti di Batam masih jauh lebih murah dibanding di Singapura. Juga karena berbagai kebijakan pemerintah Indonesia yang pro properti," ujar Agung.
APLN telah melakukan tes pasar pada November tahun lalu, ketika diumumkan rencana pembangunan apartemen Orchad View Batam ini, responnya sangat bagus.
Bahkan, menurut Senior Marketing Manager Orchard Park Batam, Tedi Guswana, Apartemen dengan mengusung konsep "one stop living, working, shopping, and traveling" ini kebanjiran peminat. "Saat ini sudah masuk 400 pemesan, walaupun pembangunan apartemennya baru akan dimulai Maret 2017 ini," tambah Tedi.
Pemerintah sejak pertengahan 2016, telah memberikan sinyal akan mengubah status istimewa Batam dari Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Dengan berlakunya status pasar bebas regional Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak akhir 2015, maka status FTZ Batam dipandang sudah tidak relevan lagi.
Namun, Batam akan tetap menjadi wilayah istimewa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan industri, dengan status baru sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Dalam status baru ini, yang sedang disusun undang-undangnya, Batam akan lebih membebaskan arus investasi masuk dan menjadikan Batam sebagai wilayah suaka pajak (Tax Heaven). Orang asing kemungkinan juga akan dipermudah untuk memiliki dan membeli properti di Batam dan propertinya bisa dijadikan sebagai jaminan usaha.
Dengan perubahan status itu, Batam diperkirakan akan mengalami booming permintaan properti di 2017 ini terutama untuk hunian tapak, perkantoran, dan apartemen. Sehingga, wajar jika hampir semua pengembang besar telah mulai berlomba menancapkan kuku di Batam.
Selain Agung Podomoro Land yang hadir di Batam melalui superblok Orchard Park Batam, juga hadir Ciputra Group dengan proyek Citra Land Megah, dan Sinar Mas Land Group dengan proyek kawasan bernama Nuvasa Bay.
Dengan posisi strategis Batam dan prospek bisnis MEA yang semakin membesar di tahun depan, wajar jika banyak pengusaha Indonesia mulai membidik untuk investasi properti di Batam.
(izz)
Lihat Juga :