Suku Bunga AS Naik Tinggi, Rupiah Bakal Terseret ke Rp13.800/USD
Senin, 06 Maret 2017 - 13:13 WIB
Suku Bunga AS Naik Tinggi, Rupiah Bakal Terseret ke Rp13.800/USD
A
A
A
JAKARTA - Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Anton Gunawan mengungkapkan, jika kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) atau Fed rate cukup tinggi, maka bisa menyeret rupiah ke level Rp13.800/USD. Kemungkinan itu bisa terjadi jika naik hingga 2% lebih.
Dia menambahkan sebenarnya selisih antara BI seven days repo rate dengan Fed rate masih cukup longgar jika kenaikan yang terjadi sesuai prediksi sebanyak 325 basis poin (bps). Sehingga, naiknya hanya sampai 1,5%, tidak di atas 2%.
"BI seven days 4,75%, Fed rate kalau naik ke 1,5% masih ada sekitar 325 bps, harusnya sih masih relatif, oke. Kecuali dia naiknya 2% atau ke atas juga diikuti kenaikan US treasury ke 3%, sekarang 2,4% akan bisa tekan rupiah kalau kejadiannya gitu akan naik ke Rp13.800/USD," ujarnya di Jakarta, Senin (6/3/2017).
Kendati demikian, Anton menyampaikan, kemungkinan Fed menaikkan suku bunga hingga di atas 2% cukup kecil. Presiden AS Donald Trump dinilai tidak akan agresif terkait Fed rate karena ingin mendorong perekonomian dalam negeri. "Tapi capai sana dengan kebijakan Trump dorong ekonomi domestik kalau bisa jangan terlalu cepat kenaikannya," katanya.
Dunia, lanjut dia, melihat kenaikan Fed rate tahun ini akan berlangsung sebanyak dua kali. Tetapi masih ada kemungkinan maksimum sampai tiga kali."Masih dalam jangkauan, efek capital outflow enggak banyak. Di Asia dan ASEAN yang jelas masih ada arus capital inflow, Asia masih jadi satu tempat sasaran capital inflow dunia," pungkasnya.
Dia menambahkan sebenarnya selisih antara BI seven days repo rate dengan Fed rate masih cukup longgar jika kenaikan yang terjadi sesuai prediksi sebanyak 325 basis poin (bps). Sehingga, naiknya hanya sampai 1,5%, tidak di atas 2%.
"BI seven days 4,75%, Fed rate kalau naik ke 1,5% masih ada sekitar 325 bps, harusnya sih masih relatif, oke. Kecuali dia naiknya 2% atau ke atas juga diikuti kenaikan US treasury ke 3%, sekarang 2,4% akan bisa tekan rupiah kalau kejadiannya gitu akan naik ke Rp13.800/USD," ujarnya di Jakarta, Senin (6/3/2017).
Kendati demikian, Anton menyampaikan, kemungkinan Fed menaikkan suku bunga hingga di atas 2% cukup kecil. Presiden AS Donald Trump dinilai tidak akan agresif terkait Fed rate karena ingin mendorong perekonomian dalam negeri. "Tapi capai sana dengan kebijakan Trump dorong ekonomi domestik kalau bisa jangan terlalu cepat kenaikannya," katanya.
Dunia, lanjut dia, melihat kenaikan Fed rate tahun ini akan berlangsung sebanyak dua kali. Tetapi masih ada kemungkinan maksimum sampai tiga kali."Masih dalam jangkauan, efek capital outflow enggak banyak. Di Asia dan ASEAN yang jelas masih ada arus capital inflow, Asia masih jadi satu tempat sasaran capital inflow dunia," pungkasnya.
(akr)