Pemerintah Diminta Kedepankan Penggunaan Energi Baru dan Terbarukan

Selasa, 25 April 2017 - 00:05 WIB
Pemerintah Diminta Kedepankan...
Pemerintah Diminta Kedepankan Penggunaan Energi Baru dan Terbarukan
A A A
JAKARTA - Semakin menurunnya kualitas udara di kota-kota besar akibat polusi harus menjadi perhatian utama pemerintah dengan mengedepankan penggunaan energi baru dan terbarukan. Krisis pemanasan global sudah di depan mata dan menjadi ancaman serius.

Demikian paparan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Satya Widya Yudha dalam acara World Bank Civil Society Forum yang digelar di Washington DC, Amerika Serikat.

"Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak krisis pemanasan global dan perubahan iklim. Ini yang harus menjadi perhatian kita untuk tidak mengabaikan isu tersebut," kata Satya dalam rilisnya yang diterima SINDOnews, Senin (24/4/2017).

Menurutnya, penyumbang emisi karbon di Indonesia terbesar berasal dari Land Use Land Use Change and Forestry (LULUCF) yang mencapai 50%. Sementara sektor energi menyumbang emisi 30% yang berasal dari transportasi (12%). "90 persen penyebab polusi udara dari BBM transportasi darat," ujar Satya.

Lebih lanjut, dia memberikan apresiasi bahwa selama 2,5 tahun periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo terdapat berbagai upaya nasional mengantisipasi dan memitigasi dampak perubahan iklim tersebut sebagai bagian dari komitmen internasional dan juga sebagai inisiatif dan aksi strategis pemerintah ke depan.

"Indonesia harus mengambil peran penting sebagai negara yang aktif mengkampanyekan perubahan iklim. Pemerintah dan DPR terus bersinergi sejak penandatanganan persetujuan Paris (COP21)," jelas wakil rakyat dari Partai Golkar ini.

SWY, demikian ia biasa disapa, menggarisbawahi bahwa visi pembangunan energi ke depan harus menitikberatkan pada pemanfaatan energi baru dan terbarukan.

Seperti diketahui, pada 2015, bauran energi nasional terdiri dari 39% minyak, 22% gas, 29% batubara, dan 10% EBT. Pada 2025 bauran energi tersebut direncanakan menjadi 25% minyak, 22% gas, 30% batu bara, dan 23% EBT; dan pada tahun 2050 menjadi 20% minyak, 24% gas, 25% batu bara, dan 31% EBT.

"DPR akan terus mendukung visi pemerintah tentang bauran energi hingga 2050 yang mengutamakan penggunaan EBT hingga 31%. Bahkan, kami di Komisi VII juga mendorong pembentukan UU EBT," tandasnya.

Sebab, lanjut SWY, energi di masa depan ditentukan oleh seberapa besar pemanfaatan terhadap energi baru dan terbarukan.

"Negara-negara maju saat ini mulai beralih ke EBT. Indonesia harus konsisten penggunaan EBT ke depan mulai dari konversi ke BBG dalam bentuk CNG serta mengubah BBM kita yang beroktan 88 ke Euro 4 bahkan Euro5 untuk menjamin energi bersih," beber Satya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Manfaatkan Energi Matahari,...
Manfaatkan Energi Matahari, Pulau Medang Dialiri Jaringan Listrik
Tingkatkan Wawasan Energi...
Tingkatkan Wawasan Energi Terbarukan, FBCC Digelar
Gerakan Energi Terbarukan...
Gerakan Energi Terbarukan di Jateng Harus Jadi Percontohan Nasional
2 Fasiltas Listrik Otomatis...
2 Fasiltas Listrik Otomatis Schneider Indonesia Dikunjungi Gwenaelle
Ganjar Dorong Perkantoran...
Ganjar Dorong Perkantoran di Jateng Gunakan Energi Alternatif
SBI Manfaatkan RDF Jadi...
SBI Manfaatkan RDF Jadi Energi Alternatif Pengganti Batu Bara
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
49 menit yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
1 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
2 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
4 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
4 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
4 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved