Menteri Susi Marah Dituding Tidak Bisa Menjaga Situs Perang Dunia
Jum'at, 05 Mei 2017 - 15:29 WIB
Menteri Susi Marah Dituding Tidak Bisa Menjaga Situs Perang Dunia
A
A
A
JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengaku mendapat komplain dari pemerintah Belanda dan Australia, atas lenyapnya situs peninggalan Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Mereka menuding Indonesia tidak bisa menjaga situs sejarah tersebut, hingga akhirnya peninggalan tersebut pun hilang.
Dia mengungkapkan, peninggalan Perang Dunia yang dimaksud adalah kapal-kapal yang tenggelam di wilayah Perairan Jawa. Indonesia dianggap sebagai negara yang tidak bisa melindungi situs sejarah.
"Beberapa bulan sebelumnya sudah dikomplain dengan Australia dan Belanda akan hilangnya beberapa kapal yang tenggelam milik mereka di perairan Jawa. Kita dianggap negara yang tidak bisa melindungi situs, melindungi peninggalan berharga daripada sejarah Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang ada di wilayah perairan Indonesia," katanya di Gedung KKP, Jakarta, Jumat (5/5/2017).
Menurutnya, tindakan pemerintah Australia dan Belanda tersebut sangat menjatuhkan martabat bangsa Indonesia. Seakan Indonesia tidak punya harga diri dalam pergaulan internasional. Padahal, Indonesia tidak pernah berniat untuk melenyapkan situs sejarah tersebut.
Baca: Berikut Lima Bangkai Kapal yang Dicuri Kapal China
"Kalau bangsa dianggap seperti itu, ya tidak punya gengsi dan martabat. Dalam pergaulan internasional, sangat penting negara kita dihormati dan disegani karena martabatnya dan nilai value kebangsaan, sejarah, dan tentu tindakan baik kita sebagai bangsa. Kita tidak mau lah, yang nyuri orang, yang dituduh kita," imbuh dia.
Oleh sebab itu, Susi menegaskan pihaknya akan terus memburu para pencuri situs-situs sejarah yang tersimpan di bawah laut. Tak ayal, tertangkapnya kapal MV Chuan Hong 68 yang menjarah bangkai kapal di Laut Natuna, Kepulauan Riau tidak akan diampuninya. Mantan Bos Susi Air ini akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum pidana.
"Jadi penegakan hukum harus kita lakukan. Upaya hukum harus dijalankan. Di situlah kita menjaga. Marine resources itu banyak, bukan cuma ikan di laut, tapi semua yang ada di laut itu resources kita, bisa ikan, minyak, gas, situs. Situs itu bisa jadi tempat resource pariwisata, orang diving. Indonesia itu sudah maju, kita bukan orang barbar dan kita bermartabat. Semua upaya kita lakukan," tandasnya.
Dia mengungkapkan, peninggalan Perang Dunia yang dimaksud adalah kapal-kapal yang tenggelam di wilayah Perairan Jawa. Indonesia dianggap sebagai negara yang tidak bisa melindungi situs sejarah.
"Beberapa bulan sebelumnya sudah dikomplain dengan Australia dan Belanda akan hilangnya beberapa kapal yang tenggelam milik mereka di perairan Jawa. Kita dianggap negara yang tidak bisa melindungi situs, melindungi peninggalan berharga daripada sejarah Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang ada di wilayah perairan Indonesia," katanya di Gedung KKP, Jakarta, Jumat (5/5/2017).
Menurutnya, tindakan pemerintah Australia dan Belanda tersebut sangat menjatuhkan martabat bangsa Indonesia. Seakan Indonesia tidak punya harga diri dalam pergaulan internasional. Padahal, Indonesia tidak pernah berniat untuk melenyapkan situs sejarah tersebut.
Baca: Berikut Lima Bangkai Kapal yang Dicuri Kapal China
"Kalau bangsa dianggap seperti itu, ya tidak punya gengsi dan martabat. Dalam pergaulan internasional, sangat penting negara kita dihormati dan disegani karena martabatnya dan nilai value kebangsaan, sejarah, dan tentu tindakan baik kita sebagai bangsa. Kita tidak mau lah, yang nyuri orang, yang dituduh kita," imbuh dia.
Oleh sebab itu, Susi menegaskan pihaknya akan terus memburu para pencuri situs-situs sejarah yang tersimpan di bawah laut. Tak ayal, tertangkapnya kapal MV Chuan Hong 68 yang menjarah bangkai kapal di Laut Natuna, Kepulauan Riau tidak akan diampuninya. Mantan Bos Susi Air ini akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum pidana.
"Jadi penegakan hukum harus kita lakukan. Upaya hukum harus dijalankan. Di situlah kita menjaga. Marine resources itu banyak, bukan cuma ikan di laut, tapi semua yang ada di laut itu resources kita, bisa ikan, minyak, gas, situs. Situs itu bisa jadi tempat resource pariwisata, orang diving. Indonesia itu sudah maju, kita bukan orang barbar dan kita bermartabat. Semua upaya kita lakukan," tandasnya.
(ven)
Lihat Juga :