Dibayangi Administered Prices, Inflasi Mei Akan Melonjak
Selasa, 09 Mei 2017 - 04:10 WIB
Dibayangi Administered Prices, Inflasi Mei Akan Melonjak
A
A
A
JAKARTA - Inflasi bulan Mei 2017 menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal kemungkinan besar meningkat, setelah inflasi April sebelumnya cukup rendah pada level 0,09%. Selain faktor administered prices, ada juga karena volatile food inflation yang beberapa bulan terakhir masih deflasi.
"Kalau berdasarkan pengalaman, menjelang Lebaran inflasi volatile food bisa sampai 1% atau bahkan lebih. Tapi inflasi umum Mei saya perkirakan masih di bawah 1%," ungkap dia saat dihubungi di Jakarta.
(Baca Juga: Pemerintah Klaim Sukses Kendalikan Inflasi )
Menurut Faisal, tantangan besar pemerintah adalah untuk menekan inflasi pangan yakni masih ada di seputar permasalahan distribusi antar daerah produsen ke konsumen, dan pemberantasan praktik-praktik spekulasi. Seperti diketahui pekan ini menjelang ramadan, harga-harga beberapa komditas telah melonjak naik seperti bawang putih.
"Sementara untuk daging, kalau harus impor perlu dipersiapkan jauh-jauh hari sehingga sehingga cukup waktu untuk dilepas ke pasaran saat Ramadan dan Lebaran," katanya.
Dia menuturkan, kebijakan penetapan harga eceran tertinggi seperti yang diberlakukan untuk daging, gula dan minyak goreng, harus hati-hati karena ketimpangan harga antar daerah yang tinggi akibat faktor hambatan distribusi. "Karena kalau tidak hati-hati malah berpotensi merugikan para pedagang atau memperderas arus impor," jelas dia.
Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menambahkan, inflasi bulanan dipastikan naik jelang Ramadan hingga Juni berbarengan juga dengan berakhirnya musim panen. Menurut dia, inflasi tahunan sepertinya juga akan naik terus di atas 4% YoY, terutama akibat kenaikan tarif listrik 900 VA.
Manajemen pangan oleh pemerintah terang dia sejauh ini juga cukup efektif menekan harga pangan melalui intervensi bulog terhadap pasokan dan juga harga. "BI belum terlalu khawatir dengan inflasi karena masih di kisaran targetnya, sehingga pengetetan moneter sepertinya belum akan terjadi," katanya.
"Kalau berdasarkan pengalaman, menjelang Lebaran inflasi volatile food bisa sampai 1% atau bahkan lebih. Tapi inflasi umum Mei saya perkirakan masih di bawah 1%," ungkap dia saat dihubungi di Jakarta.
(Baca Juga: Pemerintah Klaim Sukses Kendalikan Inflasi )
Menurut Faisal, tantangan besar pemerintah adalah untuk menekan inflasi pangan yakni masih ada di seputar permasalahan distribusi antar daerah produsen ke konsumen, dan pemberantasan praktik-praktik spekulasi. Seperti diketahui pekan ini menjelang ramadan, harga-harga beberapa komditas telah melonjak naik seperti bawang putih.
"Sementara untuk daging, kalau harus impor perlu dipersiapkan jauh-jauh hari sehingga sehingga cukup waktu untuk dilepas ke pasaran saat Ramadan dan Lebaran," katanya.
Dia menuturkan, kebijakan penetapan harga eceran tertinggi seperti yang diberlakukan untuk daging, gula dan minyak goreng, harus hati-hati karena ketimpangan harga antar daerah yang tinggi akibat faktor hambatan distribusi. "Karena kalau tidak hati-hati malah berpotensi merugikan para pedagang atau memperderas arus impor," jelas dia.
Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menambahkan, inflasi bulanan dipastikan naik jelang Ramadan hingga Juni berbarengan juga dengan berakhirnya musim panen. Menurut dia, inflasi tahunan sepertinya juga akan naik terus di atas 4% YoY, terutama akibat kenaikan tarif listrik 900 VA.
Manajemen pangan oleh pemerintah terang dia sejauh ini juga cukup efektif menekan harga pangan melalui intervensi bulog terhadap pasokan dan juga harga. "BI belum terlalu khawatir dengan inflasi karena masih di kisaran targetnya, sehingga pengetetan moneter sepertinya belum akan terjadi," katanya.
(akr)
Lihat Juga :