Qatar Jadi Rebutan Perusahaan Raksasa Energi di Tengah Krisis
Kamis, 06 Juli 2017 - 15:20 WIB
Qatar Jadi Rebutan Perusahaan Raksasa Energi di Tengah Krisis
A
A
A
DOHA - Tiga perusahaan raksasa energi terbesar tengah melobi Qatar, untuk mengambil bagian dalam ekspansi besar produksi gas. Dorongan terhadap Doha datang di tengah perselisihan Qatar dengan negara-negara teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir yang memutuskan hubungan diplomatik mereka.
Seperti dilansir Reuters, Kamis (6/7/2017) Kepala Eksekutif ExxonMobil (XOM.N), Royal Shell Belanda (RDSa.L) dan Total Prancis (TOTF.PA) semuanya dikabarkan menggelar pertemuan bersama dengan Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani. Sebelumnya Ia mengumuman rencana untuk meningkatkan produksi gas alam cair (LNG) sebesar 30%.
(Baca Juga: Arab Saudi Cs dan Qatar Putus Hubungan, Pasar LNG Akan Terpengaruh )
Sumber dari perusahaan dan industri mengatakan kepada Reuters bahwa para CEO tersebut telah menyatakan minat dalam membantu Qatar untuk mewujudkan ambisi menghasilkan 100 juta ton LNG per tahun. Angka itu setara dengan sepertiga dari kebutuhan global saat ini, yang ditarget terpenuhi dalam waktu lima sampai tujuh tahun.
Pihak perusahaan yang seperti diketahui mempunyai investasi besar antara kedua kubu negara teluk yang bertikai, mengatakan bakal tetap netral setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir memutuskan hubungan dengan Doha pada tanggal 5 Juni, lalu. Juru bicara dari ketiga perusahaan sejauh ini menolak untuk berkomentar.
Namun salah satu eksekutif di antara perusahaan itu melihat peluang perluasan bisnis di Qatar sebandingkan dengan risiko politik. "Hanya ada satu kebijakan di sini-Anda harus bersikap seperti sebuah perusahaan komersial. Anda harus membuat pilihan, murni ekonomi dan menjadi Qatar di Qatar, Emirat di emirat," ungkapnya.
Penjualan energi telah mendukung pertumbuhan pesat Qatar sebagai pemain regional sejak akhir 1990-an, dan minyak dalam ekspansi LNG menopang kekuatan ekonomi dalam jangka panjang seiring kondisi politik dengan negara tetangga.
Kepala Eksekutif Darren Woods dari Exxon dan Ben van Beurden dari Shell, keduanya bertemu Emir setelah empat negara Arab mengenakan sanksi. Sedangkan Kepala Eksekutif Total Patrick Pouyanne mengunjungi Doha dalam beberapa pekan terakhir.
Qatar sendiri merupakan pemasok terbesar LNG di dunia dan pengekspor gas terbesar kedua setelah Rusia, dengan beberapa biaya produksi terendah. Doha terlihat membuka perang harga untuk mempertahankan pangsa pasar, terutama terhadap pasokan dari AS serpih deposito dimana biayanya lebih tinggi.
Seperti dilansir Reuters, Kamis (6/7/2017) Kepala Eksekutif ExxonMobil (XOM.N), Royal Shell Belanda (RDSa.L) dan Total Prancis (TOTF.PA) semuanya dikabarkan menggelar pertemuan bersama dengan Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani. Sebelumnya Ia mengumuman rencana untuk meningkatkan produksi gas alam cair (LNG) sebesar 30%.
(Baca Juga: Arab Saudi Cs dan Qatar Putus Hubungan, Pasar LNG Akan Terpengaruh )
Sumber dari perusahaan dan industri mengatakan kepada Reuters bahwa para CEO tersebut telah menyatakan minat dalam membantu Qatar untuk mewujudkan ambisi menghasilkan 100 juta ton LNG per tahun. Angka itu setara dengan sepertiga dari kebutuhan global saat ini, yang ditarget terpenuhi dalam waktu lima sampai tujuh tahun.
Pihak perusahaan yang seperti diketahui mempunyai investasi besar antara kedua kubu negara teluk yang bertikai, mengatakan bakal tetap netral setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir memutuskan hubungan dengan Doha pada tanggal 5 Juni, lalu. Juru bicara dari ketiga perusahaan sejauh ini menolak untuk berkomentar.
Namun salah satu eksekutif di antara perusahaan itu melihat peluang perluasan bisnis di Qatar sebandingkan dengan risiko politik. "Hanya ada satu kebijakan di sini-Anda harus bersikap seperti sebuah perusahaan komersial. Anda harus membuat pilihan, murni ekonomi dan menjadi Qatar di Qatar, Emirat di emirat," ungkapnya.
Penjualan energi telah mendukung pertumbuhan pesat Qatar sebagai pemain regional sejak akhir 1990-an, dan minyak dalam ekspansi LNG menopang kekuatan ekonomi dalam jangka panjang seiring kondisi politik dengan negara tetangga.
Kepala Eksekutif Darren Woods dari Exxon dan Ben van Beurden dari Shell, keduanya bertemu Emir setelah empat negara Arab mengenakan sanksi. Sedangkan Kepala Eksekutif Total Patrick Pouyanne mengunjungi Doha dalam beberapa pekan terakhir.
Qatar sendiri merupakan pemasok terbesar LNG di dunia dan pengekspor gas terbesar kedua setelah Rusia, dengan beberapa biaya produksi terendah. Doha terlihat membuka perang harga untuk mempertahankan pangsa pasar, terutama terhadap pasokan dari AS serpih deposito dimana biayanya lebih tinggi.
(akr)
Lihat Juga :