Rupiah Dibuka Menguat Tipis Saat USD Enggan Bergerak
Jum'at, 14 Juli 2017 - 10:12 WIB
Rupiah Dibuka Menguat Tipis Saat USD Enggan Bergerak
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini naik tipis setelah kemarin ditutup menghijau. Penguatan mata uang Garuda terjadi saat USD bergerak mendatar terhadap beberapa mata uang utama.
Data SINDOnews bersumber dari Limas pagi ini memperlihatkan tren lompatan rupiah ke level Rp13.341/USD. Posisi ini jauh lebih baik dari sesi penutupan sebelumnya di level Rp13.355/USD.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, dibuka pada level Rp13.343/USD atau menguat dari sebelumnya pada posisi Rp13.358/USD. Tercatat rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.331-Rp13.352/USD.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah dibuka mendatar di level Rp13.346/USD namun menguat pada pukul 09.56 WIB ke level Rp13.342/USD dengan kisaran level Rp13.331-Rp13.347/USD.
Data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, menunjukkan rupiah pagi ini dibuka melemah tipis ke level Rp13.347/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah masih tidak lebih baik dari posisi sebelumnya di level Rp13.342/USD.
Seperti dilansir Reuters, Jumat (14/7/2017) USD mendatar terhadap beberapa mata uang lainnya, karena investor tetap berhati-hati menjelang data inflasi AS. Kemudian, di sesi ini yang diharapkan dapat menetapkan arah jangka pendek greenback.
Kemajuan terakhir mata uang AS terutama terhadap yen, telah terhenti menjelang akhir pekan ini karena Ketua Federal Reserve Janet Yellen menahan beberapa ekspektasi pengetatan moneter yang telah mendukung greenback.
Tanda-tanda kenaikan inflasi AS dapat memperkuat pandangan bahwa Fed akan menaikkan suku bunga lagi lebih cepat, yang akan meningkatkan imbal hasil dan imbal hasil Treasury.
Namun, indeks harga konsumen inti (CPI) diperkirakan akan naik hanya 1,7% pada Juni setelah kenaikan yang sama pada Mei. Pada basis dari bulan ke bulan, CPI inti diperkirakan akan meningkat 0,2% setelah kenaikan 0,1% bulan sebelumnya.
Indeks USD terhadap beberapa mata uang utama mendatar di level 95,766, bersiap untuk mengakhiri pekan dengan penurunan sebesar 0,25%.
Greenback berada tempat yang lebih tinggi terhadap yen di posisi 113.425, namun masih jauh dari puncaknya dalam empat bulan di level 114.495.
Euro terhadap USD berada di level USD1.1403, tidak mampu menarik banyak kenaikan bahkan karena imbal hasil obligasi Jerman naik kembali di atas ambang 0,50% semalam pada sebuah laporan bahwa Bank Sentral Eropa kemungkinan akan memberi sinyal pada September bahwa program pembelian asetnya akan berangsur dan berakhir tahun depan.
Dolar Australia menyentuh puncaknya dalam empat bulan di level 0,7746. Aussie berada di jalur untuk naik 1,7% pada pekan ini, terangkat oleh peningkatan dalam risk appetite investor yang lebih luas dan kenaikan harga komoditas, terutama bijih besi.
Data SINDOnews bersumber dari Limas pagi ini memperlihatkan tren lompatan rupiah ke level Rp13.341/USD. Posisi ini jauh lebih baik dari sesi penutupan sebelumnya di level Rp13.355/USD.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, dibuka pada level Rp13.343/USD atau menguat dari sebelumnya pada posisi Rp13.358/USD. Tercatat rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.331-Rp13.352/USD.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah dibuka mendatar di level Rp13.346/USD namun menguat pada pukul 09.56 WIB ke level Rp13.342/USD dengan kisaran level Rp13.331-Rp13.347/USD.
Data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, menunjukkan rupiah pagi ini dibuka melemah tipis ke level Rp13.347/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah masih tidak lebih baik dari posisi sebelumnya di level Rp13.342/USD.
Seperti dilansir Reuters, Jumat (14/7/2017) USD mendatar terhadap beberapa mata uang lainnya, karena investor tetap berhati-hati menjelang data inflasi AS. Kemudian, di sesi ini yang diharapkan dapat menetapkan arah jangka pendek greenback.
Kemajuan terakhir mata uang AS terutama terhadap yen, telah terhenti menjelang akhir pekan ini karena Ketua Federal Reserve Janet Yellen menahan beberapa ekspektasi pengetatan moneter yang telah mendukung greenback.
Tanda-tanda kenaikan inflasi AS dapat memperkuat pandangan bahwa Fed akan menaikkan suku bunga lagi lebih cepat, yang akan meningkatkan imbal hasil dan imbal hasil Treasury.
Namun, indeks harga konsumen inti (CPI) diperkirakan akan naik hanya 1,7% pada Juni setelah kenaikan yang sama pada Mei. Pada basis dari bulan ke bulan, CPI inti diperkirakan akan meningkat 0,2% setelah kenaikan 0,1% bulan sebelumnya.
Indeks USD terhadap beberapa mata uang utama mendatar di level 95,766, bersiap untuk mengakhiri pekan dengan penurunan sebesar 0,25%.
Greenback berada tempat yang lebih tinggi terhadap yen di posisi 113.425, namun masih jauh dari puncaknya dalam empat bulan di level 114.495.
Euro terhadap USD berada di level USD1.1403, tidak mampu menarik banyak kenaikan bahkan karena imbal hasil obligasi Jerman naik kembali di atas ambang 0,50% semalam pada sebuah laporan bahwa Bank Sentral Eropa kemungkinan akan memberi sinyal pada September bahwa program pembelian asetnya akan berangsur dan berakhir tahun depan.
Dolar Australia menyentuh puncaknya dalam empat bulan di level 0,7746. Aussie berada di jalur untuk naik 1,7% pada pekan ini, terangkat oleh peningkatan dalam risk appetite investor yang lebih luas dan kenaikan harga komoditas, terutama bijih besi.
(izz)