Laju IHSG Masih Akan Cenderung Tertekan
Minggu, 16 Juli 2017 - 21:04 WIB
Laju IHSG Masih Akan Cenderung Tertekan
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pekan ini diprediksi masih akan minim sentimen pendorong. Pelaku pasar akan mengandalkan hasil laporan keuangan emiten pada semester pertama 2017.
Research Analyst OCBC Sekuritas Indonesia Liga Maradona melihat tren IHSG pekan ini, masih dibayangi tekanan dan pelemahan. Para investor akan menunggu sentimen positif emiten khususnya yang termasuk LQ 45. Sedangkan sentimen dari luar, seperti AS masih menunggu kebijakan penurunan pajak korporasi yang masih belum jelas.
“Pekan lalu indeks ditutup naik tipis. Begitu juga pekan ini yang berada di kisaran 5.770-5.855. Hasil laporan keuangan emiten yang akan segera dirilis seperti Bank Mandiri, Bank BCA, Telkom, dan Unilever,” ujar Maradona di Jakarta, Minggu (16/7/2017).
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, IHSG di pekan ini diperkirakan akan berada pada kisaran level support 5.800-5.822 dengan level resisten 5.840-5.858. Ini naik tipis dibanding pekan sebelumnya di level support 5.784-5.800 dan resisten 5.827-5.839.
Hal ini dipengaruhi imbas pencapaian new high record dua pekan lalu yang membuat posisi IHSG dinilai masih mahal. “Ini mendorong maraknya aksi jual. Pelaku pasar pun masih memanfaatkan kondisi tersebut untuk mengurangi posisi sehingga mengurangi potensi bertahannya IHSG di zona hijau,” ujar Reza.
Dia memperkirakan laju IHSG akan kembali variatif cenderung tertahan kenaikannya karena masih adanya tekanan jual dan minimnya sentimen positif. Minimnya sentimen positif terutama dari terdepresiasinya rupiah dan masih melemahnya harga obligasi turut menghadang potensi pembalikan arah naik tersebut.
“Tekanan datang dari sentimen masih melemahnya laju nilai tukar rupiah dan obligasi serta dibarengi melemahnya harga minyak mentah dunia. Pekan kemarin, minyak dunia sempat naik tapi diimbangi dengan pergerakan USD setelah testimoni Janet Yellen di hadapan kongres,” ujarnya.
Kepala Riset PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menilai harga minyak mentah dunia masih akan bergejolak hingga pengujung tahun ini. Kondisi itu akibat kebijakan pembatasan produksi minyak Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Karenanya situasi tersebut bakal sangat mempengaruhi gerak minyak dunia.
Kondisi itu semakin pelik menyusul sikap Rusia tidak mau mengikuti aturan pembatasan produksi OPEC tersebut. "Itu akan sedikit menekan harga minyak dunia. Kemudian secara tren harga minyak masih tertekan, masih di kisaran USD 40 per barel," tuturnya.
Menurut Ariston, pergerakan harga minyak mentah hingga akhir tahun ini akan berada di kisaran USD 40 hingga USD 48 per barel. Saat ini, harga minyak mentah berada di level USD 44 per barel (West Texas Intermediaries/WTI).
Apalagi, dalam jangka pendek, secara tren masih turun. Banderol minyak akan mengikuti circuit pada level support USD 40-48 per barel hingga penghujung tahun.
Pembatasan produksi bilang Ariston, sangat berperan terhadap gejolak harga minyak mentah. Di Amerika Serikat (AS) misalnya, produksi mulai turun, dan diharap dapat mendongkrak sedikit harga minyak dunia.
Karena itu, hingga pengujung tahun ini, gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diprediksi berada di kisaran Rp13.400-13.500 per USD. Fluktuasi nilai tukar terjadi seiring pengaruh sentimen eksternal.
Adapun, sentimen memiliki potensi besar untuk mempengaruhi nilai tukar adalah wacana kenaikan suku bunga The Fed di akhir tahun ini. The Fed paling utama menaikkan suku bunga. Selain itu masih ada sentimen lain datang dari eksternal. Jadi, tekanan terhadap rupiah masih relatif besar.
Sebagai catatan pergerakan IHSG di pekan kemarin hanya menguat 0,29% di atas pekan sebelumnya yang melemah -0,26%. Indeks minim sentimen positif sehingga cenderung lebih banyak bergerak di teritori merah sepanjang pekan kemarin.
Rekor high level yang dicapai hanya mencapai 5843 dari sebelumnya di 5910. Banyaknya aksi jual pasca IHSG menyentuh rekor tertinggi membuat laju IHSG kian tertekan sepanjang pekan kemarin. Investor asing juga mencatatkan keluar dari pasar dengan melakukan aksi nett sell Rp2,96 triliun atau naik dari pekan sebelumnya nett sell Rp1,98 triliun.
Research Analyst OCBC Sekuritas Indonesia Liga Maradona melihat tren IHSG pekan ini, masih dibayangi tekanan dan pelemahan. Para investor akan menunggu sentimen positif emiten khususnya yang termasuk LQ 45. Sedangkan sentimen dari luar, seperti AS masih menunggu kebijakan penurunan pajak korporasi yang masih belum jelas.
“Pekan lalu indeks ditutup naik tipis. Begitu juga pekan ini yang berada di kisaran 5.770-5.855. Hasil laporan keuangan emiten yang akan segera dirilis seperti Bank Mandiri, Bank BCA, Telkom, dan Unilever,” ujar Maradona di Jakarta, Minggu (16/7/2017).
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, IHSG di pekan ini diperkirakan akan berada pada kisaran level support 5.800-5.822 dengan level resisten 5.840-5.858. Ini naik tipis dibanding pekan sebelumnya di level support 5.784-5.800 dan resisten 5.827-5.839.
Hal ini dipengaruhi imbas pencapaian new high record dua pekan lalu yang membuat posisi IHSG dinilai masih mahal. “Ini mendorong maraknya aksi jual. Pelaku pasar pun masih memanfaatkan kondisi tersebut untuk mengurangi posisi sehingga mengurangi potensi bertahannya IHSG di zona hijau,” ujar Reza.
Dia memperkirakan laju IHSG akan kembali variatif cenderung tertahan kenaikannya karena masih adanya tekanan jual dan minimnya sentimen positif. Minimnya sentimen positif terutama dari terdepresiasinya rupiah dan masih melemahnya harga obligasi turut menghadang potensi pembalikan arah naik tersebut.
“Tekanan datang dari sentimen masih melemahnya laju nilai tukar rupiah dan obligasi serta dibarengi melemahnya harga minyak mentah dunia. Pekan kemarin, minyak dunia sempat naik tapi diimbangi dengan pergerakan USD setelah testimoni Janet Yellen di hadapan kongres,” ujarnya.
Kepala Riset PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menilai harga minyak mentah dunia masih akan bergejolak hingga pengujung tahun ini. Kondisi itu akibat kebijakan pembatasan produksi minyak Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Karenanya situasi tersebut bakal sangat mempengaruhi gerak minyak dunia.
Kondisi itu semakin pelik menyusul sikap Rusia tidak mau mengikuti aturan pembatasan produksi OPEC tersebut. "Itu akan sedikit menekan harga minyak dunia. Kemudian secara tren harga minyak masih tertekan, masih di kisaran USD 40 per barel," tuturnya.
Menurut Ariston, pergerakan harga minyak mentah hingga akhir tahun ini akan berada di kisaran USD 40 hingga USD 48 per barel. Saat ini, harga minyak mentah berada di level USD 44 per barel (West Texas Intermediaries/WTI).
Apalagi, dalam jangka pendek, secara tren masih turun. Banderol minyak akan mengikuti circuit pada level support USD 40-48 per barel hingga penghujung tahun.
Pembatasan produksi bilang Ariston, sangat berperan terhadap gejolak harga minyak mentah. Di Amerika Serikat (AS) misalnya, produksi mulai turun, dan diharap dapat mendongkrak sedikit harga minyak dunia.
Karena itu, hingga pengujung tahun ini, gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diprediksi berada di kisaran Rp13.400-13.500 per USD. Fluktuasi nilai tukar terjadi seiring pengaruh sentimen eksternal.
Adapun, sentimen memiliki potensi besar untuk mempengaruhi nilai tukar adalah wacana kenaikan suku bunga The Fed di akhir tahun ini. The Fed paling utama menaikkan suku bunga. Selain itu masih ada sentimen lain datang dari eksternal. Jadi, tekanan terhadap rupiah masih relatif besar.
Sebagai catatan pergerakan IHSG di pekan kemarin hanya menguat 0,29% di atas pekan sebelumnya yang melemah -0,26%. Indeks minim sentimen positif sehingga cenderung lebih banyak bergerak di teritori merah sepanjang pekan kemarin.
Rekor high level yang dicapai hanya mencapai 5843 dari sebelumnya di 5910. Banyaknya aksi jual pasca IHSG menyentuh rekor tertinggi membuat laju IHSG kian tertekan sepanjang pekan kemarin. Investor asing juga mencatatkan keluar dari pasar dengan melakukan aksi nett sell Rp2,96 triliun atau naik dari pekan sebelumnya nett sell Rp1,98 triliun.
(ven)
Lihat Juga :