Indef: Otonomi Daerah Membuat Ketimpangan Makin Lebar

Rabu, 19 Juli 2017 - 13:10 WIB
Indef: Otonomi Daerah...
Indef: Otonomi Daerah Membuat Ketimpangan Makin Lebar
A A A
JAKARTA - Institute Development of Economics and Finance (Indef) menilai, otonomi daerah yang muncul pasca lengsernya Orde Baru justru menjadi salah satu penyebab ketimpangan dan kesenjangan di Indonesia semakin lebar. Indonesia dinilai salah mengambil lompatan di era otonomi daerah tersebut.

Ekonom Indef Bustanul Arifin menjelaskan, pada dasarnya otonomi daerah dimaksudkan agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam membangun daerahnya, yang selama Orba didikte oleh pemerintah pusat. Namun, hal tersebut justru tidak terjadi karena otonomi daerah hanya dijadikan sasaran untuk kekuasaan politik.

"Kita salah mengambil lompatan kebijakan, yang hipotesis awal dengan ada pemda, pelayanan jadi dekat ke rakyat," katanya dalam acara Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun Indef 2017 di Jakarta, Rabu (19/7/2017).

Di era otonomi daerah, kata Bustanul, pemerintah pusat memberikan sokongan kepada pemda untuk membangun daerahnya dengan menggelontorkan dana perimbangan. Dana perimbangan tersebut terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang nilainya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Namun demikian, peningkatan dana perimbangan tersebut justru tidak diimbangi dengan perbaikan ketimpangan. Pada 2011, dana perimbangan yang digelontorkan pemerintah pusat mencapai Rp316,7 triliun namun indeks gini rasio masih sebesar 0,41.

Kemudian pada 2016, dana perimbangan melonjak cukup drastis menjadi Rp795,4 triliun. Sayangnya, dengan dana perimbangan yang melonjak hampir lebih dari 150% tersebut, indeks gini rasio hanya turun tipis menjadi 0,39.

"Jadi banyak hal. Karena digelontorkan dengan dana perimbangan pun, ketimpangan juga naik. Masalahnya dalam policy making process yang tidak benar," ungkapnya.

Menurutnya, otonomi daerah sejatinya merupakan capaian luar biasa untuk Indonesia pasca Orba yang harus dimanfaatkan secara optimal. Jika tidak, maka Indonesia akan kehilangan momentum untuk mencapai perbaikan ekonomi nasional.

"Beberapa hal yang bisa diupayakan adalah struktur pembangunan ekonomi di daerah khususnya di provinsi perlu ditata ulang. Dan peningkatan dana perimbangan harus diikuti kualitas belanja daerah yang baik. Karena jika tidak, maka itu tidak akan dapat menyelesaikan ketimpangan di daerah," tandasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pembangunan Ekonomi...
Pembangunan Ekonomi Daerah
RPJMD Banyuasin Difokuskan...
RPJMD Banyuasin Difokuskan untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi
Sekjen Kemendes Harap...
Sekjen Kemendes Harap Program Tekad Percepat Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Timur
Diversifikasi Sektor...
Diversifikasi Sektor Ekonomi Dibutuhkan Agar Daerah Kuat Hadapi Goncangan
Indonesia Visionary...
Indonesia Visionary Leader X Jadi Ajang Pembuktian Inovasi Kepala Daerah Majukan Ekonomi
Pembangunan Daerah untuk...
Pembangunan Daerah untuk Daya Tahan Ekonomi
Berita Terkini
IHSG Pekan Ini Berpeluang...
IHSG Pekan Ini Berpeluang ke Level 6.380, Musim Laporan Keuangan Emiten Jadi Motor Penggerak
36 menit yang lalu
Dolar AS Makin Ganas...
Dolar AS Makin Ganas di Tengah Perang, Harga Minyak Tembus USD90 per Barel
55 menit yang lalu
MengEmaskan Indonesia,...
MengEmaskan Indonesia, Wamenaker Jadi Saksi Keunggulan Manajerial Pegadaian
9 jam yang lalu
Produksi CPO RI Capai...
Produksi CPO RI Capai 53 Juta Ton, Hilirisasi Sawit Perlu Dipercepat
11 jam yang lalu
Tinggalkan Jas dan Dasi,...
Tinggalkan Jas dan Dasi, Pekerja Kantoran di Jepang Boleh Pakai Celana Pendek dan Kaus Oblong
11 jam yang lalu
BI: Penyerapan Tenaga...
BI: Penyerapan Tenaga Kerja RI Melambat di Triwulan II 2026
11 jam yang lalu
Infografis
Daerah Asal dan Tujuan...
Daerah Asal dan Tujuan Arus Mudik Lebaran Idul Fitri 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved