Rupiah Ditutup Malah Terpuruk Saat USD Tak Berdaya
Selasa, 25 Juli 2017 - 17:01 WIB
Rupiah Ditutup Malah Terpuruk Saat USD Tak Berdaya
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan, Selasa (25/7/2017) semakin terpuruk, untuk berada dalam tren negatif sepanjang hari. Mata uang Garuda gagal memanfaatkan pelemahan USD terhadap Yen dan beberapa mata uang utama lainnya.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah memburuk pada sesi penutupan perdagangan hari ini di posisi Rp13.325/USD atau tidak lebih baik dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp13.305/USD. Rupiah sendiri bergerak pada kisaran level Rp13.306-Rp13.325/USD.
Data SINDOnews bersumber dari Limas rupiah menunjukkan hingga perdagangan sore berada pada jalur negatif di level Rp13.330/USD. Posisi ini stagnan dari penutupan kemarin.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, sore ini berada di level Rp13.327/USD atau menyusut dari sebelumnya pada posisi Rp13.309/USD. Tercatat rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.313-Rp13.328/USD.
Data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, menunjukkan rupiah tertahan di level Rp13.320/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah masih terbebani dari posisi sebelumnya di level Rp13.319/USD.
Seperti dilansir Reuters, Selasa (25/7/2017) USD kembali terpuruk jatuh ke level terendah dalam 13 bulan terhadap beberapa mata uang utama untuk memperluas tren penurunan ketika investor menaruh fokus kepada pertemuan Federal Reserve atau Bank Sentral AS. Kenaikan Fed rate pada beberapa bulan mendatang diragukan, ketika USD terimbas pelemahan data AS yang berbanding terbalik peningkatan outlook ekonomi di Eropa dan China.
Indeks USD jatuh ke titik terendah sejak Juni 2016 untuk berada di level 93.815. Tercatat pelemahan mata uang Negeri Paman Sam -julukan AS- selama satu bulan terakhir mencapai sebesar hampir 4% dan lebih dari 8% tahun ini. Sementara pada perdagangan hari ini USD sedikit berkurang ke posisi 111 saat melawan Yen Jepang, usai sempat tergelincir ke posisi 110.625 yen atau terburuk sejak pertengahan Juni.
Sebelumnya di awal pekan kemarin, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi untuk zona euro dan China bakal melambung, dengan mempertahankan prediksi pertumbuhan global yang tidak berubah tahun ini dan berikutnya. Sementara euro menanjak naik tidak terlalu besar sebesar 0,1% menjadi 1.1655 terhadap USD, atau tidak terlalu jauh dari level tertinggi awal pekan 1.1684.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah memburuk pada sesi penutupan perdagangan hari ini di posisi Rp13.325/USD atau tidak lebih baik dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp13.305/USD. Rupiah sendiri bergerak pada kisaran level Rp13.306-Rp13.325/USD.
Data SINDOnews bersumber dari Limas rupiah menunjukkan hingga perdagangan sore berada pada jalur negatif di level Rp13.330/USD. Posisi ini stagnan dari penutupan kemarin.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, sore ini berada di level Rp13.327/USD atau menyusut dari sebelumnya pada posisi Rp13.309/USD. Tercatat rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.313-Rp13.328/USD.
Data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, menunjukkan rupiah tertahan di level Rp13.320/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah masih terbebani dari posisi sebelumnya di level Rp13.319/USD.
Seperti dilansir Reuters, Selasa (25/7/2017) USD kembali terpuruk jatuh ke level terendah dalam 13 bulan terhadap beberapa mata uang utama untuk memperluas tren penurunan ketika investor menaruh fokus kepada pertemuan Federal Reserve atau Bank Sentral AS. Kenaikan Fed rate pada beberapa bulan mendatang diragukan, ketika USD terimbas pelemahan data AS yang berbanding terbalik peningkatan outlook ekonomi di Eropa dan China.
Indeks USD jatuh ke titik terendah sejak Juni 2016 untuk berada di level 93.815. Tercatat pelemahan mata uang Negeri Paman Sam -julukan AS- selama satu bulan terakhir mencapai sebesar hampir 4% dan lebih dari 8% tahun ini. Sementara pada perdagangan hari ini USD sedikit berkurang ke posisi 111 saat melawan Yen Jepang, usai sempat tergelincir ke posisi 110.625 yen atau terburuk sejak pertengahan Juni.
Sebelumnya di awal pekan kemarin, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi untuk zona euro dan China bakal melambung, dengan mempertahankan prediksi pertumbuhan global yang tidak berubah tahun ini dan berikutnya. Sementara euro menanjak naik tidak terlalu besar sebesar 0,1% menjadi 1.1655 terhadap USD, atau tidak terlalu jauh dari level tertinggi awal pekan 1.1684.
(akr)