UMKM Mamin Dinilai Tak Terdampak Kelangkaan Garam
Selasa, 25 Juli 2017 - 18:22 WIB
UMKM Mamin Dinilai Tak Terdampak Kelangkaan Garam
A
A
A
SURABAYA - Kelangkaan produk garam di Jawa Timur (Jatim) tidak memberikan efek domino pada industri makanan dan minuman (mamin). Mereka tetap berdaya karena garam bukan komoditas utama yang memengaruhi produksi utama di sektor mamin.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jatim Mas Purnomo Hadi menuturkan, kelangkaan garam konsumsi memang membuat harga melonjak tinggi. Namun, kelangkaan garam konsumsi ini tidak memengaruhi produksi dari para pelaku UMKM, terutama mereka yang bergerak di bidang mamin.
"Garam kan bukan bahan utama bagi UMKM yang memproduksi makanan dan minuman," kata Hadi di Surabaya, Selasa (25/7/2017).
Menurutnya, UMKM makanan dan minuman baru terasa ketika ada kelangkaan dan kenaikan harga komoditas seperti beras, tepung atau gula. Sebab, komoditas itu merupakan bahan utama untuk memproduksi makanan dan minuman.
"Pengaruhnya kecil sekali bagi UMKM ketika harga garam naik," jelas mantan Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim ini.
Pihaknya juga menjamin tidak terlalu ada kenaikan harga untuk penjualan produk makanan dan minuman di Jatim, terutama yang berasal dari sektor UMKM. "Yang jelas, persentase pemakaian garam untuk produk makanan dan minuman tidak terlalu banyak. Sekali lagi, kecil pengaruhnya kok," imbuhnya.
Kelangkaan garam yang saat ini terjadi merupakan imbas dari tidak menentunya musim yang terjadi sejak 2016. Bahkan, akibat panjangnya musim penghujan saat itu, petani garam di Jatim hanya mampu menghasilkan 123.873 ton garam dari target produksi sebesar 1,2 juta ton.
Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf menuturkan, dari target 1,2 juta ton per tahun masih mampu menghasilkan 689 ton. Padahal, kebutuhan garam konsumsi masyarakat Jatim pertahunnya sekitar 150 ribu ton.
Berdasarkan data di Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jatim, harga garam terus mengalami kenaikan tiap tahunnya. Terlihat pada Juli 2014 harga garam konsumsi Rp2.984 per kilogram (kg), pada Juli 2015 harganya Rp3.308/kg, kemudian Juli 2016 sebesar Rp3.883/gram dan pada Juli 2017 meningkat menjadi Rp5.792/gram.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jatim Mas Purnomo Hadi menuturkan, kelangkaan garam konsumsi memang membuat harga melonjak tinggi. Namun, kelangkaan garam konsumsi ini tidak memengaruhi produksi dari para pelaku UMKM, terutama mereka yang bergerak di bidang mamin.
"Garam kan bukan bahan utama bagi UMKM yang memproduksi makanan dan minuman," kata Hadi di Surabaya, Selasa (25/7/2017).
Menurutnya, UMKM makanan dan minuman baru terasa ketika ada kelangkaan dan kenaikan harga komoditas seperti beras, tepung atau gula. Sebab, komoditas itu merupakan bahan utama untuk memproduksi makanan dan minuman.
"Pengaruhnya kecil sekali bagi UMKM ketika harga garam naik," jelas mantan Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim ini.
Pihaknya juga menjamin tidak terlalu ada kenaikan harga untuk penjualan produk makanan dan minuman di Jatim, terutama yang berasal dari sektor UMKM. "Yang jelas, persentase pemakaian garam untuk produk makanan dan minuman tidak terlalu banyak. Sekali lagi, kecil pengaruhnya kok," imbuhnya.
Kelangkaan garam yang saat ini terjadi merupakan imbas dari tidak menentunya musim yang terjadi sejak 2016. Bahkan, akibat panjangnya musim penghujan saat itu, petani garam di Jatim hanya mampu menghasilkan 123.873 ton garam dari target produksi sebesar 1,2 juta ton.
Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf menuturkan, dari target 1,2 juta ton per tahun masih mampu menghasilkan 689 ton. Padahal, kebutuhan garam konsumsi masyarakat Jatim pertahunnya sekitar 150 ribu ton.
Berdasarkan data di Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jatim, harga garam terus mengalami kenaikan tiap tahunnya. Terlihat pada Juli 2014 harga garam konsumsi Rp2.984 per kilogram (kg), pada Juli 2015 harganya Rp3.308/kg, kemudian Juli 2016 sebesar Rp3.883/gram dan pada Juli 2017 meningkat menjadi Rp5.792/gram.
(izz)
Lihat Juga :