Rupiah Ditutup Jaga Tren Positif, USD Pulih Lawan Euro
Kamis, 27 Juli 2017 - 16:40 WIB
Rupiah Ditutup Jaga Tren Positif, USD Pulih Lawan Euro
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan sore ditutup menguat terbatas untuk menjaga tren positif sepanjang hari. Penguatan mata uang Garuda terjadi saat USD pulih terhadap euro, namun masih lebih rendah melawan mata uang utama lainnya.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah membaik pada sesi penutupan perdagangan hari ini di posisi Rp13.317/USD atau meningkat dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp13.334/USD. Rupiah sendiri bergerak pada kisaran level Rp13.307-Rp13.335/USD.
Data SINDOnews bersumber dari Limas rupiah menunjukkan hingga perdagangan sore berada pada jalur positif di level Rp13.330/USD. Posisi ini sedikit lebih baik dari penutupan kemarin Rp13.345/USD.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, sore ini berada di level Rp13.318/USD atau menguat 20 poin dari sebelumnya pada posisi Rp13.338/USD. Tercatat rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.307-Rp13.326/USD.
Data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, menunjukkan rupiah tengah pekan tertahan di level Rp13.315/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah pulih dari posisi sebelumnya di level Rp13.334/USD.
Seperti dilansir Reuters, Kamis (27/7/2017) USD pulih terhadap euro dalam perdagangan di Eropa setelah tenggelam dalam dua setengah tahun, saat Federal Reserve mengambil keputusan menjaga suku bunga acuan. Melawan euro, mata uang AS telah jatuh sebesar 13% atau terpuruk dari posisi puncak Januari dan dalam empat terakhir kehilangan 5%.
Kekuatan euro seiring dengan kebijakan Bank Sentral Eropa. Pada perdagangan hari ini, USD cenderung stabil pada posisi 1.1728 per euro, atau bangkit dari posisi terendah 1.1777 dalam perdagangan Asia. Sebaliknya, dolar justru lebih rendah 0,2% terhadap beberapa mata uang utama yang digunakan untuk mengukur kekuatannya lebih luas.
Tercatat USD juga jatuh 0,5% saat melawan dolar Australia yang merupakan mata uang terimbas terkait komoditas yang meningkat di antaranya adalah harga minyak dan logam. Dalam beberapa bulan terakhir, ada peningkatan harapan kepada Bank Sentral untuk pengetatan kebijakan moneter ditambah saat suku bunga acuan AS diharapkan naik bertahap.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah membaik pada sesi penutupan perdagangan hari ini di posisi Rp13.317/USD atau meningkat dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp13.334/USD. Rupiah sendiri bergerak pada kisaran level Rp13.307-Rp13.335/USD.
Data SINDOnews bersumber dari Limas rupiah menunjukkan hingga perdagangan sore berada pada jalur positif di level Rp13.330/USD. Posisi ini sedikit lebih baik dari penutupan kemarin Rp13.345/USD.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, sore ini berada di level Rp13.318/USD atau menguat 20 poin dari sebelumnya pada posisi Rp13.338/USD. Tercatat rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.307-Rp13.326/USD.
Data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, menunjukkan rupiah tengah pekan tertahan di level Rp13.315/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah pulih dari posisi sebelumnya di level Rp13.334/USD.
Seperti dilansir Reuters, Kamis (27/7/2017) USD pulih terhadap euro dalam perdagangan di Eropa setelah tenggelam dalam dua setengah tahun, saat Federal Reserve mengambil keputusan menjaga suku bunga acuan. Melawan euro, mata uang AS telah jatuh sebesar 13% atau terpuruk dari posisi puncak Januari dan dalam empat terakhir kehilangan 5%.
Kekuatan euro seiring dengan kebijakan Bank Sentral Eropa. Pada perdagangan hari ini, USD cenderung stabil pada posisi 1.1728 per euro, atau bangkit dari posisi terendah 1.1777 dalam perdagangan Asia. Sebaliknya, dolar justru lebih rendah 0,2% terhadap beberapa mata uang utama yang digunakan untuk mengukur kekuatannya lebih luas.
Tercatat USD juga jatuh 0,5% saat melawan dolar Australia yang merupakan mata uang terimbas terkait komoditas yang meningkat di antaranya adalah harga minyak dan logam. Dalam beberapa bulan terakhir, ada peningkatan harapan kepada Bank Sentral untuk pengetatan kebijakan moneter ditambah saat suku bunga acuan AS diharapkan naik bertahap.
(akr)