Pasar Keuangan China Abaikan Ketegangan AS-Korea Utara

Rabu, 09 Agustus 2017 - 20:56 WIB
Pasar Keuangan China...
Pasar Keuangan China Abaikan Ketegangan AS-Korea Utara
A A A
BEIJING - Ancaman Korea Utara untuk menyerang Guam, wilayah Amerika Serikat di Samudera Pasifik, mendapat balasan dari Presiden AS Donald Trump. Jagoan Partai Republik ini mengancam Korea Utara akan disambut dengan "api dan kemarahan" dan "dunia tidak akan pernah melihat sebelumnya". Sebuah pertanda AS bisa jadi menggunakan senjata nuklir.

Memanasnya tensi AS dengan Korut membuat China dalam posisi sulit. Ekonomi terbesar kedua di dunia ini, memiliki hubungan emosional dengan Korea Utara namun berhubungan dagang dengan AS. Negara yang disebut terakhir ini bahkan menekan China untuk mendikte Korea Utara untuk mundur agar tidak mengganggu stabilitas di Asia Pasifik.

Mengutip CNBC, Rabu (9/8/2017), terkait ketegangan AS-Korea Utara, pasar saham dan keuangan China memilih untuk mengabaikan faktor geopolitik. "Investor harus mengabaikan ini. Karena bisa membuat pasar menjadi tidak keruan, apa yang telah dibangun selama bertahun-tahun," ucap Andrew Polk, ekonom di Trivium China yang berbasis di Beijing.

Menurutnya, pasar saham China mempunyai keunikan tersendiri, karena kerap bereaksi terhadap likuiditas dan kebijakan, namun sering kali memiliki reaksi terbalik. Misal data ekonomi bagus, terjadi aksi jual di pasar.

Dan secara umum, pertumbuhan ekonomi di China sejauh ini membuat indeks Shanghai naik 5,3% pada tahun ini dan mata uang renminbi telah menguat 4% terhadap dolar AS. "Ekonomi cukup kuat. Pertanda bahwa upaya pemerintah menstimulasi ekonomi telah berhasil," ujar Francis Cheung, ahli strategi ekuitas China yang berbasis di Hong Kong.

Selain pasar saham dan uang, sektor real estat di China juga mulai bangkit dari perlambatan yang terjadi akhir tahun lalu. Dan sebagai tahun transisi politik, kata Cheung, pemerintah tidak mungkin membiarkan ekonomi goyah dengan turut dalam ketegangan AS-Korut.

Partai Komunis China yang berkuasa akan menjaga stabilitas ekonomi sebagai prioritas utama menjelang perubahan kekuasaan. Adapun Kepala Ekonom Asia Pasifik di IHS Markit, Rajiv Biswas mengatakan risiko geopolitik di Semenanjung Korea belum berdampak terhadap pasar ekuitas Asia Timur.

Meski demikian, kata Biswas, waspadai sentimen pasar yang bisa berubah, terutama di Korea Selatan. Kemungkinan buruk di saham Seoul, mata uang won dan khususnya di spread swasp default kredit secara tradisional merupakan indikator tingkat krisis nasional di Korsel, bisa menular ke pasar keuangan China. Jadi Biswas meminta China tetap mengawasi "gangguan" geopolitik.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Ekonomi China dalam...
Ekonomi China dalam Bahaya, Yuan Catat Kinerja Terburuk se-Asia
China Conference: Southeast...
China Conference: Southeast Asia 2026 Perkuat Peran Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Regional
Kebangkitan Ekonomi...
Kebangkitan Ekonomi China dan Jepang Akan Menolong Negara Lain
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Berita Terkini
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
4 jam yang lalu
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
5 jam yang lalu
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
6 jam yang lalu
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
6 jam yang lalu
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
6 jam yang lalu
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
7 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved