BI: Suku Bunga Acuan Bisa Turun Kembali bila Inflasi Terjaga

Minggu, 27 Agustus 2017 - 17:27 WIB
BI: Suku Bunga Acuan...
BI: Suku Bunga Acuan Bisa Turun Kembali bila Inflasi Terjaga
A A A
YOGYAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengemukakan BI 7-Days Repo Rate memiliki peluang kembali turun sepanjang angka inflasi nasional terjaga. Bulan ini, BI menurunkan tingkat suku bunga acuannya sebanyak 0,25 basis poins (bps) dari 4,75% menjadi 4,5%.

Asisten Gubernur Departemen Ekonomi dan Moneter BI Doddy Budi Waluyo mengungkapkan, keputusan BI menurunkan suku bunganya bulan ini juga didasari oleh realisasi inflasi yang terjaga. Selain itu, ekspektasi pasar terhadap realisasi inflasi di waktu mendatang juga mengalami penurunan.

"Inflasi kita cukup bagus pencapaiannya. Diikuti oleh ekspektasi inflasi yang juga terus turun. Kenapa inflasi kita prestasinya baik? Yaitu dari inflasi inti dan pangan (terjaga)," ujarnya, dalam acara Pelatihan Wartawan BI di Hotel Tentrem, Yogyakarta, Minggu (27/8/2017).

Menurutnya, inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga pangan olahan (volatile food) pada periode ini adalah yang terendah selama empat tahun terakhir. Hal ini salah satunya karena keberhasilan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang bekerja sama dengan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga inflasi.

"Intinya sepanjang pasokan dan distribusi terjaga, akan membantu inflasi pangan. Inflasi pangan ini yang terendah selama 4 tahun terakhir," ungkapnya.

Sementara itu, inflasi yang disebabkan oleh harga yang diatur pemerintah (administred price) seperti harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik turut menyumbang inflasi. Namun, kenaikan harga administred price tersebut dipandang positif.

"Kalau ada kenaikan inflasi administred price tolong dilihat dari sisi positif. Karena biasanya kebijakan listrik, BBM itu selalu diikuti kenaikan harga. Padahal, itu membantu alokasi resources negara kita jadi efisien. Memang ada kenaikan inflasi yang tidak terhindar, tapi itu hanya cyclical," tuturnya.

Doddy memandang, yang perlu dijaga adalah efek lanjutan dari kenaikan harga BBM atau tarif listrik tersebut. Dengan begitu, dampaknya terhadap inflasi tidak terlampau besar.

"Kalau ada kenaikan BBM, jangan ada efek lanjutan yang berdampak ke inflasi. Misalnya angkutan, itu biasanya naik. Terus harga pangan naik. Jadi upaya kita menjaga second round effect-nya. Karena kenaikan BBM dan listrik tidak terhindar. Tapi bersama pemerintah menjaga efek lanjutannya," tandasnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BI-Rate Tetap di Level...
BI-Rate Tetap di Level 6,25 Persen
Tok! BI Tahan Suku Bunga...
Tok! BI Tahan Suku Bunga Acuan Juli 2026 di level 5,75 Persen
Breaking News! BI Pangkas...
Breaking News! BI Pangkas Suku Bunga Jadi 6%
Tok! BI Turunkan Suku...
Tok! BI Turunkan Suku Bunga Acuan ke Level 5,75 Persen
Perry Warjiyo Ungkap...
Perry Warjiyo Ungkap Ada Ruang Penurunan BI Rate di Penutup Tahun 2024
4 Kali Pangkas Suku...
4 Kali Pangkas Suku Bunga Acuan, Gubernur Perry: BI Rate Masih Bisa Turun Lagi
Berita Terkini
AS Gempur Iran 12 Malam...
AS Gempur Iran 12 Malam Beruntun & Houthi Tembak Tanker Saudi, Harga Minyak Dunia Tembus USD96/Barel
beberapa waktu yang lalu
Purbaya Bebaskan Bea...
Purbaya Bebaskan Bea Masuk Impor LPG dan Komponen Pesawat Udara
1 jam yang lalu
Indonesia Punya 40%...
Indonesia Punya 40% Cadangan Nikel Dunia, Anehnya Tak Bisa Pimpin Rantai Pasok Baterai Global
1 jam yang lalu
1.500 Pekerja Tekstil...
1.500 Pekerja Tekstil Terancam Kena PHK, Said Iqbal Ungkap Lokasinya
2 jam yang lalu
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
11 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
11 jam yang lalu
Infografis
Waspada! 4 Makanan Ini...
Waspada! 4 Makanan Ini Bisa Picu Kesemutan di Tangan dan Kaki
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved