Tanaman Transgenik Dorong Ekonomi di 26 Negara

Selasa, 12 September 2017 - 02:14 WIB
Tanaman Transgenik Dorong...
Tanaman Transgenik Dorong Ekonomi di 26 Negara
A A A
JAKARTA - Tanaman transgenik yang dihasilkan dari rekayasa genetika diklaim telah mengurangi dampak lingkungan pertanian secara signifikan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di 26 negara di mana teknologi ini diadopsi. Teknologi ini juga dinilai turut membantu mengurangi angka kemiskinan 16,5 petani kecil di negara-negara berkembang.

"Selama 20 tahun terakhir, para petani telah diberikan akses dan pilihan menanam tanaman biotek atau tanaman hasil rekayasa genetika. Mereka secara konsisten mengadopsi teknologi ini sehingga memberikan kontribusi bagi suplai makanan yang lebih berkelanjutan dan lingkungan yang lebih baik di mana mereka tinggal," ujar Direktur PG Economics, Graham Brookes di Jakarta, Senin (11/9/2019).

Graham menegaskan tanaman transgenik memungkinkan petani untuk meningkatkan hasil panen tanpa menambah luas lahan. Menurutnya, teknologi tahan serangga yang digunakan dalam kapas dan jagung telah secara konsisten meningkatkan hasil panen dan mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh hama.

Dari 1996 hingga 2015 di semua pengguna teknologi ini, hasil panen meningkat rata-rata 13,1% untuk jagung dan 15% untuk kapas. "Petani yang menanam kedelai di Amerika Selatan mengalami kenaikan rata-rata9,6%," kata Graham.

Dari sisi lingkungan, lanjut Graham, sejak 1996 hingga 2015 penggunaan teknologi ini mengurangi penggunaan pestisida sebesar 619 juta kilogram (kg). "Ini lebih dari total produk pestisida yang digunakan di China setiap tahunnya," katanya.

Bioteknologi pangan, termasuk yang menghasilkan tanaman transgenik, berpotensi menjadi solusi bagi Indonesia mewujudkan kedaulatan pangan. Dengan mengadopsi teknologi ini berpotensi bisa meningkatkan produksi, tanpa menambah luas lahan.

Kendati demikian, pemerintah hingga saat ini masih bersikap hati-hati untuk menerima teknologi ini. Pengamat pertanian Bustanul Arifin menduga, sikap pemerintah tersebut didasari pada kegagalan penerapan teknologi hibrida pada benih padi.

"Kita pernah punya kegagalan di teknologi hibrida padi, walaupun jagung berhasil. Tapi kegagalan di padi itu membuat pemerintah gamang untuk menerapkan teknologi transgenik ini," kata Bustanul.

Menurutnya, pemerintah belum siap menerima kegagalan sehingga tidak berani ambil resiko. Sehingga pemerintah hingga kini bersikap hati-hati dalam menerapkan teknologi transgenik ini.

"Penyebab lainnya, perusahaan benih nasional maupun BUMN belum siap bersaing dengan perusahaan benih multinasional. Ini dugaan saya kenapa hingga saat ini pemerintah masih takut menerapkan teknologi ini," katanya.

Padahal untuk meningkatkan produktivitas, harus ada terobosan penggunaan teknologi. Ini mengingat produktivitas tanaman padi saat ini sudah tidak bisa ditingkatkan lagi. "Produktivitas tanaman di sentra tanaman padi sudah tidak bisa ditingkatkan. Oleh karena itu perlu adanya terobosan penggunaan teknologi baru. Bisa jadi teknologi transgenik ini bisa jadi jawaban," beber Bustanul.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dinas LHK Jaktim Kenalkan...
Dinas LHK Jaktim Kenalkan Anak dengan Urban Farming Sejak Dini
Kreativitas Warga Papanggo,...
Kreativitas Warga Papanggo, Ubah Lahan Terlantar Jadi Pertanian Produktif
Sekolah Pertanian Berbasis...
Sekolah Pertanian Berbasis Digital Dibangun Pemerintah Tahun Depan
Sarasehan Pertanian...
Sarasehan 'Pertanian Berkelanjutan dan Adopsi Teknologi Modern'
Kelurahan Sunter Agung...
Kelurahan Sunter Agung Kembangkan Sistem Pertanian Perkotaan Rumah Kaca
Dinas Pertanian Sleman...
Dinas Pertanian Sleman Diminta Edukasi Petani Milenial untuk Tingkatkan Produksi
Berita Terkini
Purbaya: Kebijakan Fiskal...
Purbaya: Kebijakan Fiskal 2027 Diarahkan Dorong Ekonomi Makin Tinggi, Rakyat Sejahtera Lebih Cepat
1 jam yang lalu
Anggaran Sekolah Rakyat...
Anggaran Sekolah Rakyat di Jember Tembus Rp221 Miliar, Punya Lapangan Bola Standar FIFA
1 jam yang lalu
Darurat Rupiah, BI Kembali...
Darurat Rupiah, BI Kembali Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 5,50% dan Rilis 4 Operasi Moneter
2 jam yang lalu
Kenaikan Kurs Dolar...
Kenaikan Kurs Dolar dan Harga Energi Hantam Industri Galangan Kapal Nasional
2 jam yang lalu
Begini Hasil Pertemuan...
Begini Hasil Pertemuan Dasco dan Bos Himbara, Dirut BNI: Fundamental Bagus, Tak Perlu Cemas
3 jam yang lalu
Chatib Basri: Tugas...
Chatib Basri: Tugas Menteri Keuangan Sebetulnya Gampang! Potong, Naikkan, Pinjam
3 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved