Sri Mulyani Pastikan Tidak Ada Hal Khusus untuk Freeport

Kamis, 05 Oktober 2017 - 06:15 WIB
Sri Mulyani Pastikan...
Sri Mulyani Pastikan Tidak Ada Hal Khusus untuk Freeport
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan, pemerintah Indonesia tidak akan memberikan privilege atau keistimewaan kepada perusahaan tambang yang bernaung di Indonesia untuk ikut menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP).

Saat ini, pemerintah sedang menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah soal tambang, yang secara garis besar mengatur kepastian dari investasi dan penerimaan negara.

Seiring penyusunan ini, pemerintah sekarang juga tengah bernegosiasi dengan PT Freeport Indonesia. Terkait mengenai Freeport, setelah lama diam berbicara kepada wartawan soal kelanjutan dari negosiasi, Sri Mulyani akhirnya memberikan keterangan.

Menurutnya, saat ini terdapat empat hal yang masuk dalam negosiasi tersebut, yakni pembangunan smelter, kepastian divestasi 51%, kepastian dari investasi dan penerimaan negara dan, perpanjangan operasi.

Khusus untuk perundingan kepastian dari investasi dan penerimaan negara, Kementerian Keuangan merupakan pucuk pimpinan melakukan formulasi yang didasarkan UU Minerba Nomor 4 Tahun 2009. Dalam Pasal 128 disebutkan bahwa perlakuan fiskal untuk izin usaha pertambangan (IUP) dan izin usaha pertambangan khusus (IUPK).

"Kalau IUP dan IUPK itu untuk bidang pajak, pusat pengaturannya sesuai dengan kewenangan pemerintah pusat yang berdasarkan peraturan perundang-undangan," kata Sri Mulyani di Ruang Rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (4/10/2017).

Lanjut dia, mengenai penerimaan negara tentunya tidak hanya berasal dari pajak, melainkan dari PNBP, pendapatan daerah yang tidak diatur secara eksplisit dalam UU Minerba. Kemudian, untuk memberikan kepastian investasi dan penerimaan negara, lanjut dia pemerintah juga akan menggunakan Pasal 169 dari UU Minerba.

"Di dalamnya mengamanatkan bahwa Kontrak Karya (KK) atau PKP2B yang tidak menyesuaikan ketentuan maka akan mengikuti kontrak yang ada," kata dia.

Namun, lanjut dia, pada ketentuan yang tercantum dalam pasal KK dan PKP2B dalam hal ini harus disesuaikan selambat-lambatnya 1 tahun sejak undang-undang Minerba, untuk penerimaan negara khusus untuk pasal 169 pengecualian terhadap penerimaan negara sebagaimana dimaksudkan untuk kontrak karya tersebut adalah di dalam rangka untuk meningkatkan penerimaan negara yang harus lebih banyak lebih besar dari penerimaan negara yang bukan hanya satu item.

Untuk penerimaan negara sendiri, ini terdiri dari PPh, PBB, royalti, pajak daerah, termasuk bagi hasil yang sebesar 10%. "Maka, kami menjamin RPP kepastian dari investasi dan penerimaan negara tidak mengakomodir salah satu perusahaan tambang, melainkan seluruhnya mendapat tarif pengenaan pajak yang sama," lanjutnya.

Dia menyebutkan juga, tidak ada hal yang sifatnya rahasia atau konsesi yang diberikan hanya untuk satu perusahaan. "Ini untuk seluruh apa perusahaan yang bergerak di Minerba, dimana mereka memang diatur dalam berbagai macam rezim, ada yang rezimnya KK, ada yang PKP2B, ada yang kemudian hijrah menjadi IUP ada menjadi IUPK."

Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan mencoba mengatur hal tersebut di dalam peraturan pemerintah dan semangatnya tetap untuk kepentingan Republik Indonesia dari sisi penerimaan negara.

"Jadi saya sampaikan berkali-kali bahwa peraturan pemerintah ini, dalam rezim sekarang ini harus lebih besar sisi penerimaan negara dibandingkan rezim-rezim sebelumnya," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menkeu Sri Mulyani dan...
Menkeu Sri Mulyani dan CEO Freeport Gelar Pertemuan, Berikut Isi Bahasannya
Sri Mulyani Bertandang...
Sri Mulyani Bertandang ke Tambang Freeport, Urusan Apa?
Smelter Freeport di...
Smelter Freeport di Gresik Terbakar, Tim Gabungan Damkar Dikerahkan ke Lokasi
Smelter Manyar Jadi...
Smelter Manyar Jadi Titik Awal Integrasi Industri dan Lingkungan Hidup
Produksi Katoda Dimulai,...
Produksi Katoda Dimulai, Smelter PTFI Jadi Contoh Hilirisasi Pro-Rakyat
Tarif Impor AS Tak Guncang...
Tarif Impor AS Tak Guncang Smelter Nasional, Diversifikasi Ekspor Jadi Kunci Hilirisasi
Berita Terkini
Gonjang-ganjing Sektor...
Gonjang-ganjing Sektor Energi, Singapura Rombak Kabinet Besar-besaran
23 menit yang lalu
Di Balik Penghargaan...
Di Balik Penghargaan CCEPC Indonesia, Gao Hai Komitmen Bangun Kemitraan Jangka Panjang
31 menit yang lalu
Pertamina Trans Kontinental...
Pertamina Trans Kontinental Ajak Siswa Lestarikan Ekosistem Laut
36 menit yang lalu
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
1 jam yang lalu
Ancaman Blokade Laut...
Ancaman Blokade Laut Merah, Asia Nego Arab Saudi Alihkan Rute Tanker Minyak ke Afrika
1 jam yang lalu
Ada Perusahaan Menolak...
Ada Perusahaan Menolak Didata Sensus Ekonomi 2026, Siap-siap! Dibina Kemenperin
1 jam yang lalu
Infografis
Prabowo: Yang Tidak...
Prabowo: Yang Tidak Mau Bekerja untuk Rakyat, Saya akan Singkirkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved