Gapki Nilai Sawit Paling Efisien Gunakan Lahan

Kamis, 02 November 2017 - 13:18 WIB
Gapki Nilai Sawit Paling...
Gapki Nilai Sawit Paling Efisien Gunakan Lahan
A A A
NUSA DUA - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, perkebunan kelapa sawit sangat efisien dalam penggunaan lahan dibanding tananam pengasil minyak nabati lain.

Berdasarkan studi dari LMC International, sebuah lembaga riset dari Inggris, untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati (vegetable oil) dunia pada 2025, cukup diperlukan tambahan lahan 12 juta hektare (ha).

Sementara apabila menggunakan tanaman rapeseed membutuhkan tambahan lahan 50,5 juta ha. Jika dipenuhi tanaman minyak matahari (sun flower) membutuhkan tambahan lahan 70,4 juta ha, dan tanaman soyben butuh tambahan lahan 96 juta ha.

"Tapi kalau dengan sawit hanya perlu 12,6 juta ha. Bahkan kalau produktivitas sawit bisa ditingkatkan menjadi rata-rata 8 ton CPO per ha per tahun, hanya perlu penambahan lahan 6 juta ha saja," ujar Joko saat memberikan sambutan pada pembukaan 13th Indonesia Palm Oil Conference and 2018 Price Outlook di Bali Nusa Convention Center, Bali, Kamis (2/10/2017).

Karena itu, ke depan produktivitas dan isu keberlanjutan akan menentukan dalam persaingan minyak nabati dunia. Karena itu kemitraan antara perusahaan dengan petani menjadi sangat penting. "Dan kita perlu mendapat dukungan lebih besar dari pemerintah," ujar dia.

Joko menuturkan, pengembangan kelapa sawit Indonesia harus selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Hal ini dilakukan untuk menepis tudingan-tudingan negatif yang dilakukan asing terhadap industri sawit Indonesia.

"Di sisi lain, negara-negara maju juga akan semakin protektif melindungi pasar mereka terhadap penetrasi minyak sawit," imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, dia memperkirakan produksi minyak sawit tahun ini mencapai 36,5 juta ton atau lebih tinggi dibanding total produksi tahun lalu yang mencapai 34,5 juta ton.

Peningkatan produksi ini dipastikan akan memberikan dampak lebih positif terhadap perekonomian nasional. "Ini membuktikan bahwa selama ini telah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Karena itu, peran industri sawit sangat penting," katanya.

Atas dasar itu, Joko berharp pemerintah mempertahankan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia dan menemukan pasar ekspor baru. "Kami juga membutuhkan iklim investasi kondusif dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) harus terus diperkuat," tegasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekspor Minyak Sawit...
Ekspor Minyak Sawit di Januari 2021 Capai 2,86 Juta Ton
SPKS Dukung Pembentukan...
SPKS Dukung Pembentukan Satgas Peningkatan Tata Kelola Industri Kelapa Sawit
Perhimpunan Eropa: Jawab...
Perhimpunan Eropa: Jawab Tantangan Sustainability pada Industri Sawit Indonesia
Industri Minyak Nabati...
Industri Minyak Nabati Dukung Penerapan Tarif Pungutan Ekspor Sawit
Musim Kemarau 2021 Diprediksi...
Musim Kemarau 2021 Diprediksi Normal, Produksi Sawit Bisa Capai 55,69 Juta Ton
Indonesia Masih Jadi...
Indonesia Masih Jadi Eksportir Minyak Sawit Terbesar di Dunia
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
3 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
4 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
5 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
7 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
7 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
7 jam yang lalu
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved