Soal Paradise Papers, Mendag AS Sebut Hubungan Bisnis yang Normal

Senin, 06 November 2017 - 21:00 WIB
Soal Paradise Papers,...
Soal Paradise Papers, Mendag AS Sebut Hubungan Bisnis yang Normal
A A A
NEW JERSEY - Bocoran dokumen keuangan yang diterbitkan surat kabar Jerman, Suddeutsche Zeitung pada Minggu (5/11/2017) telah menghebohkan banyak negara. Dokumen yang disebut Paradise Papers itu menyatakan hubungan bisnis antara perusahaan milik Menteri Perdagangan AS, Wilbur Ross yaitu Navigator Holdings dengan perusahaan transportasi migas asal Rusia, SIBUR.

SIBUR disebut-sebut dimiliki rekan dan menantu dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Yaitu miliarder Rusia, Gennady Timchenko dan Leonid Mikhelson. Menurut NBC, sejak 2014, Timchenko telah dilarang oleh Departemen Keuangan AS untuk memasuki Negeri Paman Sam.

Begitu pula dengan Leonid, yang pada 2014 juga masuk daftar sanksi Departemen Keuangan AS. Adapun menantu Putin yaitu Kirill Shamalov merupakan wakil ketua dari SIBUR, tidak memiliki daftar cekal alias bersih lingkungan dari lembaga AS.

Sontak hubungan bisnis tersebut digunakan kubu Hillary Clinton, yang dipecundangi Donald Trump, dengan mengkait-kaitkan isu kolusi Rusia untuk mempengaruhi pemilu AS pada November 2016. Ross merupakan pengusaha yang juga tim sukses Trump pada pemilu AS tahun lalu.

Melansir dari CNBC, Senin (6/11/2017) Ross dengan tegas mengatakan isi Paradise Papers salah besar. "Itu benar-benar salah. Pada formulir 278 menyatakan ada bentuk pengungkapan keuangan, dimana dalam kasus saya disebut tiga kali," kata Ross.

Dan menurut Ross, SIBUR tidak mendapat sanksi jadi sama seperti perusahaan lain, sehingga merupakan hubungan komersial normal. "Jadi tidak ada hubungannya dengan pemegang saham yang mendapatkan sanksi pada beberapa waktu kemudian," tukas Ross kepada CNBC.

Ross pun menolak saran untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Menteri Perdagangan AS saat berita itu heboh pada Minggu malam. "Tidak, itu pernyataan konyol. Tidak ada yang salah dari apa yang saya lakukan," tegasnya.

Dalam sebuah pernyataan sebelumnya, Departemen Perdagangan AS menyatakan kepemilikan tersebut secara terbuka terdaftar dalam bentuk di situs web Government of Government Ethics. Departemen Perdagangan juga menambahkan tidak ada sanksi yang dijatuhkan saat itu dan sekarang kepada SIBUR. Hal yang semakin menguatkan Ross bahwa tidak ada yang salah tentang hubungan Navigator Holdings dengan SIBUR.

Selain itu, kata Departemen, Mendag Ross belum pernah bertemu dengan pemegang saham SIBUR yang dicekal oleh AS sampai sekarang, dan tidak mengetahui hubungan pemilik saham dengan perusahaan SIBUR.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Taiwan Ikut Berikan...
Taiwan Ikut Berikan Sanksi Ekonomi kepada Rusia
Menjaga Tren Pertumbuhan...
Menjaga Tren Pertumbuhan Ekonomi
Kirain Rusia, Justru...
Kirain Rusia, Justru Amerika Serikat yang di Ambang Resesi Ekonomi
Jauh dari Resesi, Aktivitas...
Jauh dari Resesi, Aktivitas Ekonomi Indonesia Kuat dan Membaik
Fleksibilitas APBN Berkelanjutan
Fleksibilitas APBN Berkelanjutan
Ekonomi Suram, AS Terancam...
Ekonomi Suram, AS Terancam Stagflasi
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
10 menit yang lalu
BUMN Mulai Pangkas Anak...
BUMN Mulai Pangkas Anak Usaha, dari Pupuk Indonesia sampai PLN
28 menit yang lalu
WYCE Targetkan Penjualan...
WYCE Targetkan Penjualan 100.000 Boks pada Tahun Pertama
51 menit yang lalu
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
1 jam yang lalu
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
2 jam yang lalu
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
2 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved