Hipka: Waspadai Turbulensi Ekonomi Tahun Depan

Senin, 18 Desember 2017 - 11:28 WIB
Hipka: Waspadai Turbulensi...
Hipka: Waspadai Turbulensi Ekonomi Tahun Depan
A A A
JAKARTA - Memasuki tahun 2018 menjadi tantangan tersendiri bagi dunia usaha. Optimisme menangkap peluang pertumbuhan ekonomi membutuhkan kejelian di tengah tahun politik.

Presidium Majelis Nasional KAHMI yang juga Ketua BPP Himpunan Pengusaha KAHMI (Hipka) Kamrussamad mengatakan, proyeksi ekonomi Indonesia 2018 berpotensi turbulensi jika Pilkada serentak tidak dapat dikendalikan dan diamankan dengan baik.

"Jika tak terkendali dapat berdampak hengkangnya investor yang memang sudah cemas menghadapi tahun politik 2018-2019," kata dia di sela peluncuran Program Gerakan Wirausaha Berdaya (Garuda) di Madiun, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2017 sekitar 5,0% dengan skala prioritas kebijakan pembangunan infrastruktur nasional belum mampu menggerakan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara maksimal.

Salah satu indikator kecemasan adalah tingkat kemiskinan mengalami kenaikan data BPS maret 2017 1,83% menjadi 27.771.220 orang yang terbagi 10.670.000 orang berada di kota dan 17.101.220 orang berada di Pedesaan.

Dia menuturkan, kemiskinan meningkat karena diakibatkan dua hal yaitu angka pengangguran semakin meningkat, tercatat angkatan kerja Indonesia 131 juta. Sedangkan terserap 124 juta orang dan juga jika dibanding pertumbuhan angkatan kerja 3 juta per tahun, sementara daya serap 150.000 orang per tahun.

Faktor kedua yang berpotensi meningkatkan kemiskinan adalah ketimpangan ekonomi indeks rasio gini 2017 secara nasional sebesar 0,40-0,41 sedangkan rasio gini untuk daerah sebesar 0,33-0,41.

Kamrussamad mengatakan, angin segar pada 2018 sejatinya masih berhembus. Optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia juga terlihat dari proyeksi Bank Dunia. Tahun 2018, Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia dapat tumbuh 5,3%.

Angka tersebut lebih tinggi dari proyeksi 2017 yang sebesar 5,1%. Proyeksi itu ditopang oleh membaiknya konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor.

Selain pertumbuhan ekonomi yang masih optimistis, kata Kamrussamad, statistik perbankan Indonesia juga mencatat nilai kredit pembiayaan masih cukup tinggi, yakni Rp26,87 triliun. Kondisi ini mampu mendorong dunia usaha kembali menggeliat.

"Di sisi lain, butuh sumber daya manusia yang berkualitas dalam mengantisipasi perubahan dunia yang cepat di era digitalisasi saat ini," pungkas Kamrussamad.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Astra Masuk Daftar Tempat...
Astra Masuk Daftar Tempat Kerja Terbaik di Asia, Borong 3 Penghargaan Sekaligus
27 menit yang lalu
Panel Energi SPIEF 2026...
Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?
47 menit yang lalu
Tsingshan Dorong Kolaborasi...
Tsingshan Dorong Kolaborasi Hilirisasi Nikel Ramah Lingkungan di Indonesia
55 menit yang lalu
Rupiah Melemah, Perajin...
Rupiah Melemah, Perajin Tahu Tempe Gelisah Imbas Lonjakan Harga Kedelai Impor
1 jam yang lalu
Dibangun PTPP, RSUD...
Dibangun PTPP, RSUD Thohir Krui Diresmikan Presiden Prabowo
1 jam yang lalu
IHSG Menguat 2,67% Sore...
IHSG Menguat 2,67% Sore Ini, Ditutup di Level 5.900
1 jam yang lalu
Infografis
5 Titik Rawan Perang...
5 Titik Rawan Perang Dunia III pada Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved