Lebih Tinggi dari 2016, Inflasi Sepanjang 2017 Tembus 3,61%
Selasa, 02 Januari 2018 - 13:40 WIB
Lebih Tinggi dari 2016, Inflasi Sepanjang 2017 Tembus 3,61%
A
A
A
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahun kalender (year on year/yoy) tahun 2017 yang sebesar 3,61%. Realisasi inflasi ini lebih tinggi dibanding inflasi 2016 yang sebesar 3,02%.
(Baca: Ini Penyebab Desember 2017 Alami Inflasi )
Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, pada tahun lalu inflasi lebih disebabkan oleh kenaikan harga bahan makanan dan makanan jadi (volatile food). Namun, pada tahun ini pola penyebab inflasi justru lebih disebabkan karena harga yang diatur pemerintah (administred price).
"Inflasi 2016 lebih terjadi karena volatile food, kenaikan harga bahan makanan dan makanan jadi. Tapi, 2017 patternnya berubah," katanya di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (2/1/2018).
Menurutnya, pada tahun ini inflasi disebabkan karena pemerintah mencabut subsidi terhadap sejumlah pelanggan berdaya 900 volt ampere (VA) yang dianggap tidak berhak mendapatkan subsidi. Sementara, untuk bahan makanan dan makanan jadi, pada tahun ini harganya lebih stabil.
Dia menilai, pemerintah saat ini telah berhasil menjaga harga barang kebutuhan pokok agar tidak bergejolak. "Pemerintah menyadari ada kebijakan reformasi subsidi yang lebih tepat sasaran yaitu kenaikan tarif listrik 900 VA dari Januari. Dan itulah yang mewarnai pergerakan inflalasi 2017. Sementara, volatile food-nya lumayan sukses dan perlu dijaga terus," tutur dia.
Sekadar informasi, inflasi tahunan sejak 2011 hingga 2017 yaitu pada 2011 sebesar 3,79%, 2012 sebesar 4,30%, 2013 sebesar 8,38%, 2014 sebesar 8,36%, 2015 sebesar 3,35%, 2016 sebesar 3,02% dan 2017 sebesar 3,61%.
(Baca: Ini Penyebab Desember 2017 Alami Inflasi )
Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, pada tahun lalu inflasi lebih disebabkan oleh kenaikan harga bahan makanan dan makanan jadi (volatile food). Namun, pada tahun ini pola penyebab inflasi justru lebih disebabkan karena harga yang diatur pemerintah (administred price).
"Inflasi 2016 lebih terjadi karena volatile food, kenaikan harga bahan makanan dan makanan jadi. Tapi, 2017 patternnya berubah," katanya di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (2/1/2018).
Menurutnya, pada tahun ini inflasi disebabkan karena pemerintah mencabut subsidi terhadap sejumlah pelanggan berdaya 900 volt ampere (VA) yang dianggap tidak berhak mendapatkan subsidi. Sementara, untuk bahan makanan dan makanan jadi, pada tahun ini harganya lebih stabil.
Dia menilai, pemerintah saat ini telah berhasil menjaga harga barang kebutuhan pokok agar tidak bergejolak. "Pemerintah menyadari ada kebijakan reformasi subsidi yang lebih tepat sasaran yaitu kenaikan tarif listrik 900 VA dari Januari. Dan itulah yang mewarnai pergerakan inflalasi 2017. Sementara, volatile food-nya lumayan sukses dan perlu dijaga terus," tutur dia.
Sekadar informasi, inflasi tahunan sejak 2011 hingga 2017 yaitu pada 2011 sebesar 3,79%, 2012 sebesar 4,30%, 2013 sebesar 8,38%, 2014 sebesar 8,36%, 2015 sebesar 3,35%, 2016 sebesar 3,02% dan 2017 sebesar 3,61%.
(izz)
Lihat Juga :