PPP Berikan Empat Tanggapan soal Rencana Impor Garam

Selasa, 23 Januari 2018 - 16:02 WIB
PPP Berikan Empat Tanggapan...
PPP Berikan Empat Tanggapan soal Rencana Impor Garam
A A A
JAKARTA - Ketua Fraksi PPP di DPR, Reni Marlinawati mengatakan rencana pemerintah yang akan mengimpor garam industri sebanyak 3,7 juta ton perlu ditinjau ulang, termasuk dari sisi besaran jumlah. Untuk itu, Fraksi PPP memberikan empat tanggapan mengenai rencana yang dinilai tidak populis ini.

Pertama soal perbedaandata antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Kementerian Koordinator Perekonomian soal besaran kebutuhan garam impor. KKP menyebut rencana besaran angka 3,7 juta ton terlalu besar, karena menurut data KKP hanya membutuhkan 2,1 juta ton garam impor. "Jadi perbedaan data antarkementerian ini harus terlebih dahulu clear di level pemerintah," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (23/1/2018).

Kedua, kata Reni yang juga Wakil Ketua Umum PPP, kebijakan importasi garam industri ini tidak terlepas dari produksi garam nasional yang tidak mampu mencukupi kebutuhan di dalam negeri yang terdiri dari garam industri sebanyak 3 juta ton dan garam konsumsi sebanyak 750 ribu ton.

Seperti pada tahun 2016, produksi garam nasional hanya mampu memasok 144 ribu ton dan 30 ribu ton dari petani garam. "Jadi selain faktor produksi, faktor tata kelola pergaraman juga harus direformasi," tukasnya.

Karena itu, hal ketiga yaitu reformasi tata kelola pergaraman harus segera dilakukan opemerintah. Perbedaan pandangan di internal pemerintah merupakan bukti belum adanya tata kelola yag baik di sektor garam ini.

Seperti soal perdebatan siapa yang berhak melakukan impor garam, apakah PT Garam yang merupakan BUMN atau pihak lainnya. Termasuk kementerian mana yang lebih tepat dalam mengurus sektor garam apakah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atau Kementerian Perdagangan?

"Perdebatan tersebut harus dituntaskan dengan bertujuan meletakkan sistem tata kelola garam yang ujungnya bagaimana meningkatkan produksi garam nasional serta memastikan proteksi terhadap pertani garam di Tanah Air," kata Reni.

Keempat, rencana kebijakan impor garam, termasuk impor beras merupakan kebijakan yang sama sekali tidak populer di mata publik. "Kami sebagai fraksi pendukung pemerintah mengingatkan soal visi misi pemerintah melalui Nawacita, khususnya terkait kedaulatan pangan. Kebijakan impor ini tentu bertolak belakang dari Nawacita berupa kedaulatan pangan. Pemerintah harus bersungguh-sungguh meletakkan sistem untuk memastikan kedaulatan pangan segera tegak di republik ini."
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pecah Rekor, Impor Beras...
Pecah Rekor, Impor Beras 2024 Butuh Anggaran Lebih Rp30 Triliun
DPR Desak Penegak Hukum...
DPR Desak Penegak Hukum Segera Usut Kasus Dugaan Demurrage Impor Beras Rp294 Miliar
Perkuat CBP, Pemerintah...
Perkuat CBP, Pemerintah Impor 24.000 Ton Beras
GP Ansor Desak Pemerintah...
GP Ansor Desak Pemerintah Batalkan Rencana Impor Beras dan Garam
Persoalan Cadangan Beras...
Persoalan Cadangan Beras Indonesia Selalu Berulang Setiap Tahun
94 Persen Masih Impor,...
94 Persen Masih Impor, 5 Asosiasi Alkes Curhat ke Panja Komisi IX DPR
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
2 jam yang lalu
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
3 jam yang lalu
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
3 jam yang lalu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
3 jam yang lalu
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
4 jam yang lalu
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
4 jam yang lalu
Infografis
Terungkap Rencana Rahasia...
Terungkap Rencana Rahasia Golden Dome, Perisai Rudal Canggih AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved