Penerbangan RI Tumbuh Pesat

Jum'at, 09 Februari 2018 - 08:23 WIB
Penerbangan RI Tumbuh...
Penerbangan RI Tumbuh Pesat
A A A
JENEWA - Tarif penerbangan yang semakin terjangkau akan mendorong pertumbuhan perjalanan udara global dalam beberapa tahun ke depan. Kendati demikian, pertumbuhan tersebut harus diikuti pengembangan infrastruktur udara yang saat ini dinilai belum memadai.

International Air Transport Association (IATA) memperkirakan, jumlah penumpang angkutan udara akan mencapai 7,8 miliar orang pada 2036. Angka tersebut hampir dua kali lipat bila dibandingkan dengan perkiraan tahun lalu sebanyak 4 miliar penumpang. Kawasan Asia-Pasifik akan menjadi pendorong terbesar permintaan perjalanan udara, mencakup lebih dari setengah penumpang baru dalam dua dekade mendatang. Negara-negara di Asia menduduki peringkat empat teratas dalam peringkat 10 besar, dipimpin China di urutan pertama.

“Semua indikator mendorong permintaan untuk konektivitas global. Dunia perlu bersiap untuk peningkatan penumpang dua kali lipat dalam 20 tahun mendatang. Ini berita fantastis untuk inovasi dan kesejahteraan yang didorong oleh jaringan udara,” ujar Direktur Jenderal dan CEO IATA Alexandre de Juniac dalam laporan terbarunya.

IATA memprediksi beberapa negara mengalami pertumbuhan jumlah penumpang udara tercepat dipimpin oleh China. Negeri Panda itu bakal menggantikan Amerika Serikat (AS) sebagai pasar penerbangan terbesar di dunia pada 2036. Sementara India dan Indonesia berada diurutan ketiga dan keempat. Pada 2016 lalu, trafik penumpang udara China hampir mencapai 500 juta, dan pada 2036 di perkirakan sebanyak 1,5 miliar penumpang. Sehingga akan terjadi penambahan lebih dari 900 juta penumpang dalam dua dekade ke depan.

Juniac mengatakan, terus tumbuhnya industri penerbangan memerlukan kemitraan yang kuat antara industri, komunitas, dan pemerintah untuk memperluas dan memodernisasi infrastruktur. “Landasan udara, terminal, dan akses darat di sejumlah bandara harus ditingkatkan untuk dapat melayani peningkatan jumlah penumpang,” ujar dia.

Dari dalam negeri, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso mengatakan, potensi pertumbuhan penumpang udara di Indonesia masih akan terus meningkat setiap tahunnya. Pertum buh an tersebut di to pang dengan bonus demografi yang besar.

Dia menyebutkan, peningkatan pertumbuhan penumpang udara di Indonesia mencapai 11% per tahun, lebih tinggi daripada rata-rata pertumbuhan di Asia-Pasifik yang hanya 9%.

Vice President Corporate Conmunication PT Angkasa Pura (AP) II Yado Yarismano mengatakan, untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penumpang di tahun-tahun mendatang, pihaknya telah menambah kapasitas bandara yang dikelola nya, termasuk Soekarno-Hatta.

Yado memperkirakan pada 2020 Bandara Soekarno-Hatta akan bisa menampung 100 juta pergerakan penumpang. Sejumlah perbaikan dilakukan mulai tahun ini dengan merevitalisasi terminal I dan II sehingga kapasitasnya bisa melayani 61 juta penumpang pada 2019-2020. Selain itu AP II juga merencanakan pembangunan terminal IV dengan ekspektasi bisa menampung 40 juta penumpang.

Pengamat penerbangan Arista Atmadjati mengakui, potensi pasar penerbangan di Tanah Air masih terbuka lebar. Hal tersebut terlihat dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai angka 260 juta, tetapi jumlah penumpang penerbangan domestiknya hanya sekitar 100 juta pertahun.

“Rasio penumpang udara di Indonesia hanya 0,47 kali bila dibanding kan jumlah penduduknya, berbeda dengan negara ASEAN lainnya,” kata Arista. Dia mencontohkan, jumlah pe numpang penerbangan domestik di Malaysia mencapai 3 kali dari jumlah penduduknya. (Syarifudin/ Heru Febrianto/ Ichsan Amin)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kerja Sama Mendukung...
Kerja Sama Mendukung Pertumbuhan Industri Penerbangan Helikopter di Indonesia
Tekad Pelaku Industri...
Tekad Pelaku Industri Penerbangan Non-Airline Pasca Asian Sky Forum 2024
Software Autocad Hadirkan...
Software Autocad Hadirkan Teknologi Peta 3D untuk Penerbangan
Kapan Bisnis Penerbangan...
Kapan Bisnis Penerbangan Pulih? Ini Proyeksi Moody's
Industri Penerbangan...
Industri Penerbangan RI Diramal Masih Sempoyongan Tahun Ini
Ini Alasan Mengapa Jendela...
Ini Alasan Mengapa Jendela Pesawat Memiliki Bentuk Oval
Berita Terkini
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
52 menit yang lalu
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
9 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
10 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
10 jam yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
10 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
10 jam yang lalu
Infografis
Logo HUT ke-80 RI, Ini...
Logo HUT ke-80 RI, Ini Penjelasan Angka 80 Warna Merah-Putih dengan Garis Infinity
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved