PM Inggris Jatuh Hati Kepada Jack Ma soal Perdagangan

Minggu, 11 Februari 2018 - 07:02 WIB
PM Inggris Jatuh Hati...
PM Inggris Jatuh Hati Kepada Jack Ma soal Perdagangan
A A A
LONDON - Dua kali pertemuan dengan Jack Ma membuat Perdana Menteri Inggris Theresa May “jatuh hati”. Pertemuan pertama berlangsung pada World Economic Forum di Davos, Swiss pada Januari lalu. Yang kedua, saat May berkunjung ke Shanghai, China, pada pekan silam.

Menukil dari Bloomberg, Sabtu (10/2/2018), May kagum dengan Ma, sang pendiri Alibaba Group yang berhasil membangun imperium bisnisnya hingga memiliki kekayaan bersih USD45,5 miliar. Jika dikonversi ke rupiah setara dengan Rp619,49 triliun. Estimasi kurs Rp13.615 per USD.

Karena itu, May dikabarkan belajar kepada Ma terkait rencana Brexit-nya. May sangat terkesan dengan cara Ma menavigasi peraturan bea cukai China yang ketat untuk mengimpor dan mengekspor barang.

Pemerintah Inggris, kata seorang sumber, lantas memutuskan untuk mempelajari Alibaba mengenai bagaimana platform perdagangan online tersebut menavigasi kompleksitas peraturan internasional, sambil memberikan layanan yang lancar bagi pelanggan mereka. Sayangnya Alibaba menolak berkomentar perihal ini. Begitu pula dengan Kantor Perdana Menteri Inggris.

Menurut si sumber, pejabat Inggris akan mempelajari bisnis logistik Cainiao yang digunakanan Alibaba dalam menyediakan layanan pengiriman di China dan luar negeri, yang dilakukan secara bersamaan. Cainiao sendiri tidak mengantarkan barang langsung ke pelanggan. Mereka menjalankan platform data yang melacak barang secara real time dan mengatur pengiriman kepada sekitar 2 juta orang di lebih dari 600 kota di dunia.

Selain dengan Alibaba, May juga kabarnya tertarik belajar dari Amazon melayani pelanggan mereka. Pasalnya, Brexit berpotensi menimbulkan masalah bagi perdagangan lintas batas Inggris.

Brexit dinilai akan memberatkan tarif dan peraturan yang diperlukan pada barang-barang Inggris yang diperdagangkan di perbatasan Negeri Ratu Elizabeth II. Prospek kesepakatan bisa berantakan jika May dan Uni Eropa tidak dapat menyetujui cara untuk menghindari pembentukan perbatasan bea cukai baru antara Inggris dan Irlandia setelah Brexit.

Aliran lalu lintas yang terbuka di sepanjang perbatasan merupakan simbol kunci perdamaian di Irlandia, di mana Uni Eropa dan Inggris berkomitmen untuk mempertahankannya.

Pejabat Inggris dan Irlandia mencoba menemukan cara untuk melindungi standar perdagangan dan menghindari pos pemeriksaan di perbatasan antara Republik Irlandia dan Irlandia Utara. Dan sejauh ini, belum ada jalan keluar yang bisa diperoleh.

Pemerintah Inggris tertarik pada solusi teknologi yang dilakukan perusahaan e-commerce, di mana formulir dan pemeriksaan dapat diselesaikan jauh dari perbatasan. Ini menjadi penting bagi Inggris karena Uni Eropa ingin menjadikan Irlandia Utara dalam serikat bea cukai UE. Namun usulan Uni Eropa ditolak oleh May.

Tidak ingin mendapat kendala, dua pejabat Inggris mengatakan May memilih untuk belajar dari Alibaba dan Amazon untuk membantu Inggris menemukan jawaban melalui bagaimana cara mereka menggunakan teknologi untuk mempercepat arus barang melintasi batas-batas nasional. Kabarnya, pejabat Inggris sedang belakar kepada Amazon untuk membantu ekspor bisnis Inggris dalam skala kecil ke negara-negara dengan peraturan bea cukai yang ketat.

Setelah bertemu Ma, Perdana Menteri May berkomentar bahwa jika memungkinkan Inggris melakukan perdagangan melintasi perbatasan ke China secara mudah. Karena itu, Inggris ingin merancang sebuah sistem yang akan memudahkan Inggris menjual barang-barangnya setelah Brexit.

Selama ini, Alibaba telah membantu mengemudikan kesepakatan perdagangan bebas antara China dan Malaysia. Tapi diantara hubungan May dengan Ma, terdapat orang ketiga. Presiden Prancis Emmanuel Macron menawarkan Ma untuk membangun sebuah pusat logistik di Prancis.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Efek Jack Ma Kritik...
Efek Jack Ma Kritik Pemerintah, 2 Raksasa Teknologi China Kehilangan Rp12.799 Triliun
Saham Alibaba Anjlok,...
Saham Alibaba Anjlok, SoftBank Rugi Rp300 Triliun
Jack Ma Resmi Tersingkir...
Jack Ma Resmi Tersingkir dari Pemegang Saham Kendali di Ant Group
Alibaba Group Raup Rp1.068...
Alibaba Group Raup Rp1.068 Triliun Saat Festival Belanja 11.11
Holding Restoran Sarirasa...
Holding Restoran Sarirasa Group Pertajam Inovasi Bisnis
Tokcer, Alibaba Group...
Tokcer, Alibaba Group Raup Laba Rp167 Triliun Lebih di 2020
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
1 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
2 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
2 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
3 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
3 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
4 jam yang lalu
Infografis
PM Inggris Janjikan...
PM Inggris Janjikan 125 Senjata Anti-pesawat Saat Sambangi Keiv
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved