Stok AS Berkurang, Harga Minyak Dunia Malah Menyusut
Kamis, 22 Februari 2018 - 10:43 WIB
Stok AS Berkurang, Harga Minyak Dunia Malah Menyusut
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak dunia turun pada perdagangan hari ini menjelang akhir pekan, justru ketika persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) mulai berkurang. Kejatuhan minyak mentah dunia lebih disebabkan oleh kokohnya USD untuk memperpanjang tren penguatan.
Seperti dilansir Reuters, Kamis (22/2/2018) harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di level USD61,12 per barel pada pukul 01.02 GMT atau turun 56 sen yang setara 0,9% dari sesi perdagangan terakhir. Sedangkan kontrak minyak mentah berjangka Brent juga menyusut 50 sen atau 0,8% dari penutupan terakhir menjadi USD64,92 per barel.
Dolar naik ke posisi puncak lebih dari satu minggu terhadap beberapa mata uang utama lainnya. Indeks USD memperpanjang pemulihannya dari pekan lalu, karena risalah rapat Federal Reserve pada bulan Januari menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan percaya diri akan perlu mempertahankan tingkat suku bunga.
"Dolar menguat terus untuk menggagalkan sentimen investor meski data persediaan bullish," kata Stephen Innes, kepala perdagangan untuk Asia Pasifik di pialang berjangka OANDA.
Lantaran perdagangan minyak dilakukan dengan menggunakan mata uang dolar, kenaikan greenback membuat impor bahan bakar untuk negara-negara yang menggunakan mata uang lain di dalam negeri menjadi lebih mahal, yang berpotensi membatasi permintaan. Sementara di luar perkiraan saat USD menanjak, penurunan justru terjadi pada persediaan minyak mentah A.S.
American Petroleum Institute pada hari Rabu, melaporkan penurunan persediaan minyak mentah AS yang tidak terduga sebesar 907.000 barel menjadi 420,3 juta barel. "Perbaikan infrastruktur yakni pipa ke pantai Teluk dan penurunan pasokan melalui pipa Keystone Trans Canada, menyeret kejatuhan persediaan," papar Innes.
Seperti dilansir Reuters, Kamis (22/2/2018) harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di level USD61,12 per barel pada pukul 01.02 GMT atau turun 56 sen yang setara 0,9% dari sesi perdagangan terakhir. Sedangkan kontrak minyak mentah berjangka Brent juga menyusut 50 sen atau 0,8% dari penutupan terakhir menjadi USD64,92 per barel.
Dolar naik ke posisi puncak lebih dari satu minggu terhadap beberapa mata uang utama lainnya. Indeks USD memperpanjang pemulihannya dari pekan lalu, karena risalah rapat Federal Reserve pada bulan Januari menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan percaya diri akan perlu mempertahankan tingkat suku bunga.
"Dolar menguat terus untuk menggagalkan sentimen investor meski data persediaan bullish," kata Stephen Innes, kepala perdagangan untuk Asia Pasifik di pialang berjangka OANDA.
Lantaran perdagangan minyak dilakukan dengan menggunakan mata uang dolar, kenaikan greenback membuat impor bahan bakar untuk negara-negara yang menggunakan mata uang lain di dalam negeri menjadi lebih mahal, yang berpotensi membatasi permintaan. Sementara di luar perkiraan saat USD menanjak, penurunan justru terjadi pada persediaan minyak mentah A.S.
American Petroleum Institute pada hari Rabu, melaporkan penurunan persediaan minyak mentah AS yang tidak terduga sebesar 907.000 barel menjadi 420,3 juta barel. "Perbaikan infrastruktur yakni pipa ke pantai Teluk dan penurunan pasokan melalui pipa Keystone Trans Canada, menyeret kejatuhan persediaan," papar Innes.
(akr)
Lihat Juga :