Harga Minyak Dunia Menguat Terbatas Usai Pelemahan Beruntun
Jum'at, 02 Maret 2018 - 10:59 WIB
Harga Minyak Dunia Menguat Terbatas Usai Pelemahan Beruntun
A
A
A
TOKYO - Harga minyak dunia berbalik menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (2/3/2018) meski masih terbatas mengiringi bursa saham Asia yang juga bergerak variatif. Komentar Presiden AS Donald Trump terkait tarif tinggi impor baja dan alumunium terimbas kepada pelaku pasar, hingga memunculkan kembali ketakutan bakal terjadinya perang dagang.
Seperti dilansir Reuters, Presiden Trump menegaskan bakal memaksakan tarif mahal dengan alasan untuk melindungi produsen AS di dalaman negeri. Namun para investor khawatir kebijakan tersebut akan menimbulkan pembalasan dari mitra dagang utama Negeri Paman Sam -julukan AS-, sebut saja seperti China, Eropa dan Kanada yang bisa juga menerapkan tarif serupa.
Di sisi lain pada harga minya justru meningkat seperti minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan meningkat 5 sen atau setara dengan 0,1% di level USD61,04 per barel pada pukul 02.33 GMT setelah menyentuh posisi terendah dua minggu ke level USD60,18/barel sehari sebelumnya. Sedangkan harga minyak Brent yang menjadi patokan global naik 9 sen atau 0,1% menjadi USD63,92 per barel.
Tercatat harga minyak mentah AS berada pada jalur penurunan 4% pekan ini, untuk menjadi penurunan mingguan pertama. Sementara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan mengadakan pertemuan dengan perusahaan-perusahaan AS untuk menjadi sinyal dalam upaya mengajak semua pihak tentang cara terbaik mencegah banjirnya pasokan minyak global.
Persediaan minyak mentah AS sendiri di bulan terakhir 2017 tergelinciri, tetapi pada bulan November meningkat lebih dari 10.057 juta barel per hari (bpd). Selanjutnya survei Reuters juga menemukan produksi OPEC jatuh pada bulan Februari untuk 10 bulan rendah. Namun, OPEC tidak akan mampu menjaga perjanjian produksi dengan lainnya non-anggota OPEC terlalu lama saat AS terus meningkatkan produksi.
Seperti dilansir Reuters, Presiden Trump menegaskan bakal memaksakan tarif mahal dengan alasan untuk melindungi produsen AS di dalaman negeri. Namun para investor khawatir kebijakan tersebut akan menimbulkan pembalasan dari mitra dagang utama Negeri Paman Sam -julukan AS-, sebut saja seperti China, Eropa dan Kanada yang bisa juga menerapkan tarif serupa.
Di sisi lain pada harga minya justru meningkat seperti minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan meningkat 5 sen atau setara dengan 0,1% di level USD61,04 per barel pada pukul 02.33 GMT setelah menyentuh posisi terendah dua minggu ke level USD60,18/barel sehari sebelumnya. Sedangkan harga minyak Brent yang menjadi patokan global naik 9 sen atau 0,1% menjadi USD63,92 per barel.
Tercatat harga minyak mentah AS berada pada jalur penurunan 4% pekan ini, untuk menjadi penurunan mingguan pertama. Sementara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan mengadakan pertemuan dengan perusahaan-perusahaan AS untuk menjadi sinyal dalam upaya mengajak semua pihak tentang cara terbaik mencegah banjirnya pasokan minyak global.
Persediaan minyak mentah AS sendiri di bulan terakhir 2017 tergelinciri, tetapi pada bulan November meningkat lebih dari 10.057 juta barel per hari (bpd). Selanjutnya survei Reuters juga menemukan produksi OPEC jatuh pada bulan Februari untuk 10 bulan rendah. Namun, OPEC tidak akan mampu menjaga perjanjian produksi dengan lainnya non-anggota OPEC terlalu lama saat AS terus meningkatkan produksi.
(akr)
Lihat Juga :