Kenaikan Harga BBM Sumbang Terbesar Inflasi Maret

Senin, 02 April 2018 - 13:18 WIB
Kenaikan Harga BBM Sumbang...
Kenaikan Harga BBM Sumbang Terbesar Inflasi Maret
A A A
JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) seperti pertamax, pertalite hingga pertamax turbo berkontribusi besar terhadap angka inflasi pada Maret 2018 yang sebesar 0,20%. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, jika dilihat menurut jenis pengeluaran, maka sektor transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi 0,28% pada Maret 2018, dengan andilnya sebesar 0,05%.

(Baca Juga: Inflasi Maret 2018 Tercatat Naik Tipis Jadi 0,20% )

Adapun yang memberikan andil paling dominan adalah kenaikan harga bensin. Diketahui, pada akhir Februari 2018, PT Pertamina (Persero) memutuskan untuk menaikkan harga pertamax dan pertamax turbo masing-masing sebesar Rp300 per liter dan Rp500 per liter. Setelah itu, pada 24 Maret 2018 kembali terjadi kenaikan harga bensin yaitu untuk jenis pertalite sebesar RP200 per lilter.

"Di akhir Februari ada kenaikan pertamax Rp300 per liter dan pertamax turbo sebesar Rp500 per liter pada Februari 2018 yang masih ada dampak. Kemudian ada kenaikan pertalite Rp200 per liter di 24 Maret 2018. Jadi yang dominan memberikan andil adalah kenaikan bensin," katanya di Gedung BPS, Jakarta, Senin (2/4/2018).

Menurutnya, kenaikan harga pertalite pada 24 Maret 2018 diperkirakan masih akan menyumbang inflasi pada bulan depan. "Naiknya harga pertalite, bisa dipastikan pada bulan depan masih berikan andil terhadap inflasi," imbuh dia.

Selain kenaikan harga bensin, sambung pria yang akrab disapa Kecuk ini, inflasi pada Maret 2018 juga bersumber dari bahan makanan sebsear 0,14% dengan andilnya sebesar 0,05%. Adapun komoditas makanan yang memberikan sumbangan terhadap inflasi adalah cabai merah sebsear 0,07%, bawang merah dan bawang putih masing-masing sebsar 0,04%, cabai rawit sebesar 0,02% dan beberapa jenis sayuran dengan kontribusi terhadap inflasi sebesar 0,01%.

"Di sisi lain ada beberapa komoditas bahan makanan yang harganya turun sehingga sumbang deflasi. Pertama, harga beras bulan Maret menunjukkan penurunan, dan andil beras terhadap deflasi 0,10%. Kedua, ikan segar dengan andil 0,03% dan beberapa sayuran yang memberikan andil 0,01%," tuturnya.

Sementara untuk kelompok makanan jadi, rokok dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,26% dengan andil sebesar 0,04%. Adapun yang memberikan kontribusi paling besar terhadap inflasi adalah kenaikan rokok kretek filter sebesar 0,01%.

Untuk kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar inflasinya hanya sekitar 0,06% dan andilnya hanya 0,01%. Ini bersumber dari kenaikan upah tukang bukan mandor sebesar 0,01%. Sedangkan untuk kelompok sandang inflasinya sebesar 0,36%, namun bobotnya tidak terlalu besar sehingga andilnya hanya sekitar 0,02%.

"Komoditas yang memberikan andil besar dari kelompok ini adalah kenaikan emas dan perhiasan dengan andil 0,01%. Dan untuk kesehatan dan pendidikan andilnya kecil 0,02% dan 0,01%," terang dia.

Masih menurut Kecuk, jika dilihat dari komponennya maka yang memberikan andil besar terhadap inflasi Maret 2018 adalah inflasi inti yaitu 0,19% dengan andil sebsear 0,10%. Sedangkan untuk komponen harga yang diatur pemerintah (administred price), inflasinya sebesar 0,20% dengan andil sebesar 0,05%.

"Ada kenaikan harga emas yang memberikan andil 0,01% dan kenaikan upah bukan mandor 0,01%. Sedangkan administred price dengan inflasi 0,20% memberikan andil 0,05%," pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BPS Catat Inflasi November...
BPS Catat Inflasi November Sebesar 0,38 persen
Usai Deflasi Beruntun,...
Usai Deflasi Beruntun, Bulan Oktober 2020 Kembali Inflasi 0,07%
Inflasi September 2025...
Inflasi September 2025 Capai 0,21%, Berikut Komoditas Pendorongnya
BPS Catat Inflasi 0,28...
BPS Catat Inflasi 0,28 Persen pada November 2020
BPS: Deflasi Juni Cetak...
BPS: Deflasi Juni Cetak Rekor Tertinggi Perdana di 2021
Deflasi Kembali Terjadi...
Deflasi Kembali Terjadi di Agustus 2020, BPS Catat Sebesar 0,05%
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
1 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
2 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
2 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
3 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
3 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
3 jam yang lalu
Infografis
APBN Pernah Jebol Nyaris...
APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved