Pemerintah Kuasai 51% Saham Freeport Disebut Hanya Angan-angan

Selasa, 24 April 2018 - 13:59 WIB
Pemerintah Kuasai 51%...
Pemerintah Kuasai 51% Saham Freeport Disebut Hanya Angan-angan
A A A
TAPANULI SELATAN - Rencana pemerintah menyerap divestasi saham 51% PT Freeport Indonesia menurut Ketua Komisi VII DPR Gus Irawan Pasaribu hanya sebuah angan-angan. Pasalnya hingga saat ini negosiasi perusahaan raksasa tambang Amerika Serikat (AS) itu dengan pemerintah masih menemui jalan buntuh.

Dia menegaskan hingga saat ini saham Freeport yang dikuasai pemerintah baru hanya 9,36%. “Saya pastikan, saham pemerintah itu masih 9,36% belum di atas 50%. Jadi saham yang 50% yang dikatakan pemerintah itu hanya angan-angan, karena sampai saat ini belum terbukti,” ujar Gus Irawan yang juga menjabat Dirut Bank Sumut itu saat berkunjung ke Padangsidimpuan, Sumatera Utara, Selasa (24/4/2018).

Ia juga mendorong pemerintah bertindak tegas kepada Freeport terkait kewajiban membanung pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) di dalam negeri sesuai dengan UU Nomor 4/2009, tentang pertambangan mineral dan batubara. “Artinya, barang mentah yang dihasilkan perusahaan tambang harus diolah di dalam negeri bukan dikirim ke luar negeri,” terang dia.

Menurutnya, UU itu juga mewajibkan setiap perusahaan untuk membangun smealter untuk pengolahan bahan mentah tambang oleh perusahaan. Pada aturan tersebut, perusahaan diberi waktu untuk membangun smealter selama 5 tahun. Namun, hingga UU itu diundangkan, smealter tersebut juga belum tersedia. ”Aturan itu diundangkan pada 2009, seharusnya pada 2014 PT Freeport sudah memiliki smealter, namun pada kenyataannya belum ada,” jelasnya.

Komisi VII DPR juga mendesak pemerintah agar mengganti sistem kontrak menjadi izin. Menurutnya, apabila sistem izin diberlakukan, maka posisi negara semakin kuat dibandingkan dengan kontrak. Tentunya, ada ketentuan yang harus dipenuhi oleh perusahaan untuk mendapatkan izin.

Sehingga, apabila mereka melanggar izin, pemerintah lebih leluasa untuk mencabut izin. Selama ini, Negara sering kalah dengan perusahaan apabila sengketa, karena masih berlakunya sistem kontrak,” katanya.

Gus Irawan menduga, PT Freeport tidak akan pernah mau membangun smealter, demi menutupi jumlah bahan mentah yang dibawa ke luar negeri. ”Kalau pemurniannya dilakukan di dalam Negara, tentunya jumlahnya akan diketahui. Selama ini banyak yang tidak diketahui,” tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Smelter Freeport di...
Smelter Freeport di Gresik Terbakar, Tim Gabungan Damkar Dikerahkan ke Lokasi
Smelter Manyar Jadi...
Smelter Manyar Jadi Titik Awal Integrasi Industri dan Lingkungan Hidup
Produksi Katoda Dimulai,...
Produksi Katoda Dimulai, Smelter PTFI Jadi Contoh Hilirisasi Pro-Rakyat
Tarif Impor AS Tak Guncang...
Tarif Impor AS Tak Guncang Smelter Nasional, Diversifikasi Ekspor Jadi Kunci Hilirisasi
PT Freeport Indonesia...
PT Freeport Indonesia Raih Pengakuan Global Esri untuk Inovasi dan Dampak Keberlanjutan
PTFI Perkuat Fondasi...
PTFI Perkuat Fondasi Ekonomi Papua Tengah, Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan lewat Investasi Jangka Panjang
Berita Terkini
Rupiah Bergejolak, Saatnya...
Rupiah Bergejolak, Saatnya Lirik Aset Global?
20 menit yang lalu
Naik 2,07%, IHSG Balik...
Naik 2,07%, IHSG Balik Lagi ke Level 6.000-an
20 menit yang lalu
IFG Life Lindungi Lebih...
IFG Life Lindungi Lebih dari 20.000 Peserta BTN JAKIM 2026
40 menit yang lalu
DADA Buka Registrasi...
DADA Buka Registrasi RUPST 19 Juni, Siapkan Dividen Rp2 Miliar
53 menit yang lalu
Antisipasi Lonjakan...
Antisipasi Lonjakan Harga Obat, BPOM Permudah Perizinan Bahan Baku Impor
1 jam yang lalu
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat, Kurs Dolar AS Kini di Rp17.860
1 jam yang lalu
Infografis
Cilia Flores, Istri...
Cilia Flores, Istri Maduro yang Disebut Otak di Balik Kebijakan Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved