Beban Maskapai Makin Berat Saat Rupiah Tembus Rp14.100/USD
Kamis, 24 Mei 2018 - 21:33 WIB
Beban Maskapai Makin Berat Saat Rupiah Tembus Rp14.100/USD
A
A
A
JAKARTA - Maskapai penerbangan mulai mengeluhkan pengeluaran tinggi seiring kejatuhan nilai tukar rupiah yang hingga saat ini masih tembus level Rp14.100/USD. Salah satunya yakni PT Indonesia AirAsia (AAID) menerangkan, salah satu yang mengalami peningkatan dari sisi biaya sewa pesawat karena pembayarannya menggunakan mata uang USD.
Group CEO Indonesia AirAsia Dendy Kurniawan mengatakan, porsi sewa pesawat tersebut sebesar 24% dari keseluruhan biaya operasional. "Nilai tukar rupiah paling enggak bisa lepas dari sewa pedawat karena penyewa dari asing dalam USD dengan porsi 24%. Kalau USD menguat 10% ada kenaikan biaya 2,4%," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (24/5/2018).
Dendy menjelaskan, kendati ada kenaikan biaya, tapi jika perusahaan masih mencatatkan margin masih 5%, maka selisih 2,4% itu tidak dibebankan ke penumpang dengan naiknya tarif. "Kalau ada kenaikan biaya, kami sebagai low cost carrier ada hitungan yang disubsidi supaya beri harga tiket atraktif," katanya.
Menurutnya, setiap ada kenaikan harga bahan bakar dan forex bisa saja dibebankan ke konsumen, namun ini tidak karena pada dasarnya AirAsia menghadapi kompetisi ketat di industri penerbangan. "Promo terbang gratis juga masih mungkin meski Rp14.000/USD, tapi kan hanya 4-5 seat, bukan satu pesawat. Itu marketing gimmick," pungkasnya.
Group CEO Indonesia AirAsia Dendy Kurniawan mengatakan, porsi sewa pesawat tersebut sebesar 24% dari keseluruhan biaya operasional. "Nilai tukar rupiah paling enggak bisa lepas dari sewa pedawat karena penyewa dari asing dalam USD dengan porsi 24%. Kalau USD menguat 10% ada kenaikan biaya 2,4%," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (24/5/2018).
Dendy menjelaskan, kendati ada kenaikan biaya, tapi jika perusahaan masih mencatatkan margin masih 5%, maka selisih 2,4% itu tidak dibebankan ke penumpang dengan naiknya tarif. "Kalau ada kenaikan biaya, kami sebagai low cost carrier ada hitungan yang disubsidi supaya beri harga tiket atraktif," katanya.
Menurutnya, setiap ada kenaikan harga bahan bakar dan forex bisa saja dibebankan ke konsumen, namun ini tidak karena pada dasarnya AirAsia menghadapi kompetisi ketat di industri penerbangan. "Promo terbang gratis juga masih mungkin meski Rp14.000/USD, tapi kan hanya 4-5 seat, bukan satu pesawat. Itu marketing gimmick," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :