Jokowi: Petani Turut Menentukan Masa Depan Bangsa
Jum'at, 29 Juni 2018 - 12:36 WIB
Jokowi: Petani Turut Menentukan Masa Depan Bangsa
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan profesi petani sangat penting karena akan menentukan masa depan dan kelangsungan seluruh bangsa sebagaimana pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Hal ini disampaikan saat meresmikan Pembukaan Asian Agriculture & Food Forum (ASAFF) 2018.
"Sudah sering saya sampaikan bahwa urusan pangan adalah urusan masa depan dunia dan masa depan negara. Manusia bisa pergi, silakan ke Bulan, silakan ke planet, robot-robot makin canggih diciptakan silakan. Tapi yang namanya kebutuhan pangan tidak mungkin tergantikan," kata Jokowi di Jakarta, Jumat (29/6/2018).
Pada ajang ASAFF 2018 yang dihadiri oleh ratusan petani dan anggota Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), organisasi yang dipimpin Moeldoko. Menurutnya, pangan akan terus menjadi kebutuhan dasar manusia sehingga artinya, petani akan terus jadi profesi yang sangat strategis dan sangat mulia.
Oleh karena itu, pemerintah menaruh perhatian yang besar pada kehidupan dan kesejahteraan petani. "Dan profesi petani akan turut menentukan masa depan sebuah negara, menentukan kelangsungan sebuah bangsa, sebab apabila petani sejahtera, Insya Allah ketenteraman bangsa akan terus terjaga," jelasnya.
Dia juga berpesan agar petani jangan sampai berjalan sendiri-sendiri. Maka harus dibuat kelompok tani seperti Gapoktan. Untuk menjadi kekuatan besar, harus dibuat kelompok yang lebih besar lagi. Misalnya kelompok besar petani, kelompok besar Poktan, kelompok besar Gapoktan. "Sehingga ada skala ekonomisnya. Kalau swasta besar bisa, saya meyakini petani juga bisa," imbuhnya.
Ketua Umum HKTI Moeldoko menambahkan, saat ini masih terdapat beberapa permasalahan yang diemban para petani di seluruh Indonesia. Diantaranya masalah tanah yang dari waktu ke waktu semakin sempit dan rusak karena penggunaannya yang berlebihan secara unorganik. "Lalu masalah permodalan, petani kesulitan berhubungan dengan perbankan walaupun ada KUR (kredit usaha rakyat)," jelasnya.
Permasalahannya lainnya yaitu teknologi, pasalnya saat ini para petani masih terbiasa menggunakan cara tradisional. Di sisi lain petani juga kesulitan dengan masalah management, sehingga mereka tidak tahu cara menghitung ongkos produksi. Ada juga masalah paska panen, jika tidak dikelola dengan baik petani akan mengalami kerugian hingga 10%.
"Diharapkan dengan adanya penyelanggaraan ASAFF 2018 ini bisa mengatasi dan mencari solusi dari permasalahan-permasalahan para petani tersebut," pungkasnya.
"Sudah sering saya sampaikan bahwa urusan pangan adalah urusan masa depan dunia dan masa depan negara. Manusia bisa pergi, silakan ke Bulan, silakan ke planet, robot-robot makin canggih diciptakan silakan. Tapi yang namanya kebutuhan pangan tidak mungkin tergantikan," kata Jokowi di Jakarta, Jumat (29/6/2018).
Pada ajang ASAFF 2018 yang dihadiri oleh ratusan petani dan anggota Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), organisasi yang dipimpin Moeldoko. Menurutnya, pangan akan terus menjadi kebutuhan dasar manusia sehingga artinya, petani akan terus jadi profesi yang sangat strategis dan sangat mulia.
Oleh karena itu, pemerintah menaruh perhatian yang besar pada kehidupan dan kesejahteraan petani. "Dan profesi petani akan turut menentukan masa depan sebuah negara, menentukan kelangsungan sebuah bangsa, sebab apabila petani sejahtera, Insya Allah ketenteraman bangsa akan terus terjaga," jelasnya.
Dia juga berpesan agar petani jangan sampai berjalan sendiri-sendiri. Maka harus dibuat kelompok tani seperti Gapoktan. Untuk menjadi kekuatan besar, harus dibuat kelompok yang lebih besar lagi. Misalnya kelompok besar petani, kelompok besar Poktan, kelompok besar Gapoktan. "Sehingga ada skala ekonomisnya. Kalau swasta besar bisa, saya meyakini petani juga bisa," imbuhnya.
Ketua Umum HKTI Moeldoko menambahkan, saat ini masih terdapat beberapa permasalahan yang diemban para petani di seluruh Indonesia. Diantaranya masalah tanah yang dari waktu ke waktu semakin sempit dan rusak karena penggunaannya yang berlebihan secara unorganik. "Lalu masalah permodalan, petani kesulitan berhubungan dengan perbankan walaupun ada KUR (kredit usaha rakyat)," jelasnya.
Permasalahannya lainnya yaitu teknologi, pasalnya saat ini para petani masih terbiasa menggunakan cara tradisional. Di sisi lain petani juga kesulitan dengan masalah management, sehingga mereka tidak tahu cara menghitung ongkos produksi. Ada juga masalah paska panen, jika tidak dikelola dengan baik petani akan mengalami kerugian hingga 10%.
"Diharapkan dengan adanya penyelanggaraan ASAFF 2018 ini bisa mengatasi dan mencari solusi dari permasalahan-permasalahan para petani tersebut," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :