Penguatan Rupiah Lawan USD Berpotensi Masih Berlanjut
Selasa, 07 Agustus 2018 - 09:09 WIB
Penguatan Rupiah Lawan USD Berpotensi Masih Berlanjut
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan rupiah diharapkan masih mampu melanjutkan apresiasinya seiring masih adanya sentimen positif dari dalam negeri. Bahkan diharapkan juga sentimen positif dari dalam negeri dapat mengimbangi sentimen global yang menunjukan USD masih cenderung terapresiasi dengan sentimen ancaman perang dagang tersebut.
"Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat rupiah kembali melemah," jelas Pengamat Pasar Modal Reza Priyambada kepada SINDOnews di Jakarta, Selasa (7/8/2018).
Di perkirakan Reza, rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.482/USD-Rp14.469/USD. Sementara kemarin tidak jauh berbeda dengan IHSG dimana pergerakan rupiah mampu mengalami kenaikan di tengah kekhawatiran masih adanya permintaan atas USD seiring belum usainya perang tarif dagang antara AS dan China.
"Laju rupiah mendapat sentimen positif dari adanya rilis pertumbuhan GDP Indonesia sebesar 5,27% pada kuartal dua 2018. Menkeu pun turut menyampaikan bahwa konsumsi dapat tumbuh tinggi karena upaya stabilisasi harga yang dilakukan oleh pemerintah serta adanya berbagai momentum seperti hari libur panjang, bulan puasa, hari raya Idul Fitri sampai pemberian tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13," pungkasnya.
"Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat rupiah kembali melemah," jelas Pengamat Pasar Modal Reza Priyambada kepada SINDOnews di Jakarta, Selasa (7/8/2018).
Di perkirakan Reza, rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.482/USD-Rp14.469/USD. Sementara kemarin tidak jauh berbeda dengan IHSG dimana pergerakan rupiah mampu mengalami kenaikan di tengah kekhawatiran masih adanya permintaan atas USD seiring belum usainya perang tarif dagang antara AS dan China.
"Laju rupiah mendapat sentimen positif dari adanya rilis pertumbuhan GDP Indonesia sebesar 5,27% pada kuartal dua 2018. Menkeu pun turut menyampaikan bahwa konsumsi dapat tumbuh tinggi karena upaya stabilisasi harga yang dilakukan oleh pemerintah serta adanya berbagai momentum seperti hari libur panjang, bulan puasa, hari raya Idul Fitri sampai pemberian tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13," pungkasnya.
(akr)