Stunting Ancaman Bagi Bonus Demografi 2030

Kamis, 09 Agustus 2018 - 04:08 WIB
Stunting Ancaman Bagi...
Stunting Ancaman Bagi Bonus Demografi 2030
A A A
JAKARTA - Jumlah anak stunting di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Kementerian Komunikasi dan Informatika merilis, anak stunting tidak hanya dialami oleh keluarga yang miskin dan kurang mampu, juga dialami keluarga yang tidak miskin yang berada di atas 40% tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi. Untuk menanggulangi angka stunting di Indonesia, pemerintah memasukkan penurunan stunting menjadi target Program Kerja Menengah Nasional Pemerintah 2015-2019.

"Masyarakat belum banyak yang mengenal apa itu stunting. Pertumbuhan anak yang terhambat sering dianggap sebagai faktor keturunan saja sehingga diabaikan," ujar Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo Niken Widiastuti di Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Niken mengimbau orang tua perlu memantau proses tumbuh kembang anak terutama di masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Hidup bersih dan sehat merupakan salah satu kunci untuk memastikan pertumbuhan anak yang maksimal agar anak dapat terhindar dari stunting.

"Stunting dapat menjadi ancaman bagi generasi Indonesia di masa depan jika tidak segera dicegah. Indonesia akan melewatkan masa bonus demografi hingga tahun 2030 dengan tidak optimal karena tidak dapat menciptakan generasi emas Indonesia," lanjut Niken.

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Masyarakat diimbau mengenali tanda-tanda anak mengalami stunting yaitu antara lain, anak bertubuh lebih pendek untuk anak seusianya, proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya, pubertas terlambat dan performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar.

Salah satu wilayah di Indonesia dengan angka stunting tertinggi adalah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Angka stunting Kabupaten OKI menurut Riskesdas tahun 2013 mencapai 40,5% atau hampir setengah balita di OKI mengalami stunting. Bahkan, angka ini di atas angka stunting nasional 37%.

Semakin muda usia perkawinan, semakin besar risiko melahirkan bayi stunting. Kasus stunting yang terjadi di keluarga miskin sebesar 48,4% dan pada keluarga kaya sebesar 29,0%.

Permasalahanya, papar Niken para ibu sering kali memiliki pengetahuan yang minim dalam pengasuhan anak sejak dalam kandungan. Faktanya saat ini 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI eksklusif. Sebanyak 2-3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima MP-ASI. Data lain menyebutkan 2-3 ibu hamil belum mengkonsumsi suplemen zat besi yang memadai. Sebanyak 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun tidak terdaftar di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Menurunnya tingkat kehadiran anak di Posyandu (dari 79% di 2007 menjadi 64% di 2013), menjadikan program-program kesehatan dari pemerintah untuk anak usia dini seringkali tidak diterima secara maksimal. Termasuk di dalamnya program pelayanan imunisasi yang memadai.

"Jika stunting tidak segera ditanggulangi maka bonus demografi ini akan menjadi sia-sia. Indonesia hanya akan memiliki banyak generasi muda yang tidak produktif. Hal ini dikarenakan stunting akan menghasilkan generasi yang serba kekurangan," ujar Niken.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pemerintah Selaraskan...
Pemerintah Selaraskan Kampanyekan Pencegahan Stunting dengan Corona
Kemkominfo: Cegah Stunting...
Kemkominfo: Cegah Stunting Demi Wujudkan Indonesia Sehat
Kominfo Berharap Legislasi...
Kominfo Berharap Legislasi DPR Mendukung Transformasi Digital
Menkominfo: Layanan...
Menkominfo: Layanan Telemedisin Jadi Agenda Percepatan Digital
Kominfo Berdayakan UMKM...
Kominfo Berdayakan UMKM untuk Percepat Transformasi Digital
Stunting dan Masa Depan...
Stunting dan Masa Depan Indonesia
Berita Terkini
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
2 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
8 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
8 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
9 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
10 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
10 jam yang lalu
Infografis
Sejarah Boikot Olahraga...
Sejarah Boikot Olahraga Dunia dan Ancaman Jerman Mundur dari Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved