Rupiah Melemah ke Rp14.600/USD, Ekonom Nilai Berbeda dengan 1998
Kamis, 16 Agustus 2018 - 22:10 WIB
Rupiah Melemah ke Rp14.600/USD, Ekonom Nilai Berbeda dengan 1998
A
A
A
JAKARTA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) alias USD menuai banyak sorotan dari berbagai pihak. Pakar ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), A Tony Prasetiantono mengatakan, kondisi pelemahan rupiah saat ini sangat berbeda dengan krisis moneter 1998.
Hingga saat ini, kurs rupiah terhadap USD terus mengalami pelemahan. Di pasar Spot pada Selasa (4/8/2018) siang, nilai tukar ditransaksikan Rp14.630 per USD. Sementara harga jual dolar AS masih berada di rentang Rp14.695-Rp14.790 per USD.
"Kondisi sekarang tidak sama dan tidak bisa dibandingkan dengan kondisi Indonesia saat 1998," ujarnya dalam keterangan pers yang dilansir, Kamis (16/8/2018). Menurutnya, pelemahan nilai rupiah saat ini hanya melemah Rp1.000 sejak pemerintahan Joko Widodo pada 2014.
"Kurs rupiah tahun ini hanya melemah Rp1.000 dari Rp13.700 menjadi Rp14.600 sekian. Jadi kalau dihitung-hitung ini beda dengan kondisi krisis 1997/1998. Di mana rupiah itu loncat dari Rp2.300 menjadi Rp15.000 per USD, ini yang harus kita sosialisasikan kepada masyarakat," kata Tony.
Menurutnya pelemahan rupiah ketika krisis moneter 1997/1998 sangat drastis. Bahkan kenaikan mencapai enam kali lipat. Selain itu, dia juga menilai bahwa kondisi perbankan saat ini dengan perbankan kala itu juga sangat berbeda. Di mana pada 1997-1998, banyak bank yang kolaps dan butuh suntikan dari dari Bank Indonesia (BI).
Sementara kondisi perbankan Indonesia saat ini meski jumlahnya dibatasi, namun perbankannya sehat. Kemudian, dari sisi keuangan, pemerintah juga tak diharuskan melakulan penjualan aset-aset BUMN dan lainnya. "Konteksnya beda, story behind-nya beda. Cerita di balik itu berbeda," ujar Tony.
Dosen UGM ini juga yakin pelemahan rupiah akan segera pulih di level Rp13.000 per USD, apabila faktor eksternal bisa teratasi.
"Kurs rupiah di level sekarang melemah, tapi mungkin tidak susah kembali ke level Rp13.000 per USD. Karena memang banyak masalah yang menbuat ekonomi global kita makin susah, ada perang dagang, kenaikan harga minyak, ada kenaikan suku bunga di Amerika. Ditambah lagi dengan faktor Turki, terpuruknya lira," jelasnya.
Hingga saat ini, kurs rupiah terhadap USD terus mengalami pelemahan. Di pasar Spot pada Selasa (4/8/2018) siang, nilai tukar ditransaksikan Rp14.630 per USD. Sementara harga jual dolar AS masih berada di rentang Rp14.695-Rp14.790 per USD.
"Kondisi sekarang tidak sama dan tidak bisa dibandingkan dengan kondisi Indonesia saat 1998," ujarnya dalam keterangan pers yang dilansir, Kamis (16/8/2018). Menurutnya, pelemahan nilai rupiah saat ini hanya melemah Rp1.000 sejak pemerintahan Joko Widodo pada 2014.
"Kurs rupiah tahun ini hanya melemah Rp1.000 dari Rp13.700 menjadi Rp14.600 sekian. Jadi kalau dihitung-hitung ini beda dengan kondisi krisis 1997/1998. Di mana rupiah itu loncat dari Rp2.300 menjadi Rp15.000 per USD, ini yang harus kita sosialisasikan kepada masyarakat," kata Tony.
Menurutnya pelemahan rupiah ketika krisis moneter 1997/1998 sangat drastis. Bahkan kenaikan mencapai enam kali lipat. Selain itu, dia juga menilai bahwa kondisi perbankan saat ini dengan perbankan kala itu juga sangat berbeda. Di mana pada 1997-1998, banyak bank yang kolaps dan butuh suntikan dari dari Bank Indonesia (BI).
Sementara kondisi perbankan Indonesia saat ini meski jumlahnya dibatasi, namun perbankannya sehat. Kemudian, dari sisi keuangan, pemerintah juga tak diharuskan melakulan penjualan aset-aset BUMN dan lainnya. "Konteksnya beda, story behind-nya beda. Cerita di balik itu berbeda," ujar Tony.
Dosen UGM ini juga yakin pelemahan rupiah akan segera pulih di level Rp13.000 per USD, apabila faktor eksternal bisa teratasi.
"Kurs rupiah di level sekarang melemah, tapi mungkin tidak susah kembali ke level Rp13.000 per USD. Karena memang banyak masalah yang menbuat ekonomi global kita makin susah, ada perang dagang, kenaikan harga minyak, ada kenaikan suku bunga di Amerika. Ditambah lagi dengan faktor Turki, terpuruknya lira," jelasnya.
(ven)
Lihat Juga :