Rupiah Jaga Tren Penguatan di Akhir Sesi, USD Ditopang Perang Dagang

Rabu, 12 September 2018 - 17:37 WIB
Rupiah Jaga Tren Penguatan...
Rupiah Jaga Tren Penguatan di Akhir Sesi, USD Ditopang Perang Dagang
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada akhir perdagangan, Rabu (12/9/2018) menjaga tren penguatan untuk berada di zona hijau pasca libur Tahun Baru Islam kemarin. Perbaikan mata uang Indonesia mengiringi pergerakan USD yang terus kokoh ditopang kekhawatiran perang dagang.

Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah di sesi perdagangan sore menguat ke level Rp14.825/USD atau lebih baik dari sebelumnya Rp14.852/USD. Rupiah sepanjang hari ini bergerak pada level Rp14.820 hingga Rp14.888/USD.

Menurut data Bloomberg rupiah berbalik membaik menjadi Rp14.832/USD di akhir sesi dari penutupan awal pekan kemarin sebelum libur di Rp14.857/USD. Posisi tersebut melompat dengan pergerakan harian rupiah berada di kisaran Rp14.832-Rp14.880/USD.

Sementara, data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah sore ini juga terlihat perkasa pada posisi Rp14.895/USD atau mulai merangkak naik dari sebelumnya. Pada awal pekan kemarin, rupiah sempat merosot kembali menjadi Rp14.900/USD.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah tertahan pada jalur merah di level Rp14.863/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah masih tertekan dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya Rp14.835/USD.

Di sisi lain seperti dilansir Reuters, dolar mengkonsolidasikan kenaikan pada perdagangan Rabu karena pasar tetap cenderung berhati-hati seputar negosiasi perdagangan bebas Amerika Utara antara AS dan Kanada. Sentimen lainnya datang saat melemahnya mata uang China dengan selera pasar untuk mengambil risiko terbatas.

Terpantau indeks ekuitas Asia turun untuk 10 hari berturut-turut dan mata uang pasar berkembang jatuh, dipimpin oleh rupee India. Para pelaku pasar menganggap menjual mata uang dianggap rentan dari eskalasi dalam konflik perdagangan.

Dolar Australia memimpin mata uang utama lebih rendah, jatuh 0,3% menjadi 0,7102 terhadap USD dan tidak jauh dari posisi terendah Februari 2016 di 0,7085. Sementara Dolar naik hampir satu persen dalam dua minggu terakhir, mengambil keuntungan dalam enam bulan terakhir hingga lebih dari 6%.

Terhadap enam mata uang utama pesaingnya, dolar stabil di posisi 95,20 atau mendekati level tertinggi tiga minggu di 95,74 yang dicapai minggu lalu. Sedangkan Yuan China di luar negeri diperdagangkan 0,1% lebih lemah pada 6,8857 per dolar setelah turun ke 6.8888, terendah dalam lebih dari dua minggu.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
TikTok Bidik Pertumbuhan...
TikTok Bidik Pertumbuhan Aplikasi Asia Tenggara lewat Inovasi AI
10 menit yang lalu
IHSG Ambruk 3,56% ke...
IHSG Ambruk 3,56% ke 5.883 Sore Ini, Tekanan Jual Hantam Nyaris Seluruh Sektor
29 menit yang lalu
Hadapi Ketidakpastian...
Hadapi Ketidakpastian Global, Gajah Tunggal Andalkan Efisiensi dan Inovasi
52 menit yang lalu
IFG Life Tekankan Pentingnya...
IFG Life Tekankan Pentingnya Perencanaan Dana Pendidikan Sejak Dini
1 jam yang lalu
Bea Cukai Musnahkan...
Bea Cukai Musnahkan 44 Juta Rokok Ilegal, Potensi Kerugian Negara Capai Rp32,9 Miliar
1 jam yang lalu
NHM Peduli Dampingi...
NHM Peduli Dampingi Pasien Jantung Rematik Asal Lingkar Tambang Hingga Sukses Jalani Operasi di Jakarta
1 jam yang lalu
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved