Menteri Jonan Dorong Penataan Ruang Berbasis Bencana Alam

Jum'at, 12 Oktober 2018 - 14:40 WIB
Menteri Jonan Dorong...
Menteri Jonan Dorong Penataan Ruang Berbasis Bencana Alam
A A A
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengutarakan, gagasan agar memperhatikan soal tata ruang demi meminimalisir dampak bencana alam seperti gempa bumi. Menurutnya Indonesia perlu penataan ruang berbasis bencana alam, mengingat Tanah Air rawan berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif utama dunia (Indo Australia, Pasifik dan Eurasia) sehingga membuatnya rentan terkena bencana geologi.

"Korban gempa dapat diminimalisir, yaitu dengan menata ulang wilayah pemukiman yang disesuaikan dengan kondisi wilayah. Ini untuk pencegahan sebelumnya dan pertanyaan ketiga begini, 'kalau tidak cocok dengan tata ruangnya gimana," ujar Menteri ESDM Jonan dalam Geoseminar bertajuk 'Informasi Geologi Sebagai Dasar untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Terjadinya Gempa Bumi Palu' di Jakarta, Jumat (12/11/2018).
(Baca Juga: ESDM Paparkan Aspek Geologi Pascagempa Palu )
Lebih lanjut diterangkan, penataan ruang hendaknya berbasis kebencanaan termasuk semua infrastruktur bangunan harus mempertimbangkan aspek kegempaan. Ini salah satu upaya mitigasi pengurangan resiko bencana geologi.

Ditekankan oleh Menteri Jonan, bahwa belum‎ ada yang bisa memprediksi kapan gempa terjadi dan besaran kekuatannya. Namun hal ini dimitigasi berdasarkan kondisi kebumian. Sebab itu perlu dilakukan peninjauan ulang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW).

"Jadi ini kalau bisa tolong Kementerian ATR mengalami kami, PU dan lainnya untuk menginformasikan secara utuh. Kalau perlu dimapping, ini mapnya kita sudah punya. Map kebumian Indonesia dari Sabang-Marauke hampir selesai," jelasnya.

Jonan mengungkapkan, jika peninjauan ulang RTRW sudah dilakukan, maka pemukiman masyarakat bisa ditempatkan di daerah yang jauh lebih aman dari potensi gempa. Dengan begitu menurutnya kemungkinan jatuhnya korban akibat bencana bisa dihindari.

"Dua hal ini penting. Supaya bisa menghindarkan korban di kemudian hari, satu tidak tahu waktunya kedua magnitudenya tidak tahu apakah tsunami, gempa, gunung erupsi, kita nggak tau. Coba dibikin kira-kira aman," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
71 Kali Gempa Susulan...
71 Kali Gempa Susulan Terjadi Pascagempa Besar M6,7 di Palu Sulteng
Gempa Magnitudo 4,1...
Gempa Magnitudo 4,1 Kembali Guncang Sigi, BMKG Catat 1.163 Gempa Susulan Pascagempa M6,7
6 Bulan Pascagempa,...
6 Bulan Pascagempa, Warga Sulbar Semakin Tangguh
Kementerian PU Rampungkan...
Kementerian PU Rampungkan Rehabilitasi dan Renovasi Infrastruktur Pasca Gempa Cianjur
Dukung Kepedulian pada...
Dukung Kepedulian pada Sesama, Kementerian ESDM Hibahkan Aset ke Lembaga Kemanusiaan
BMKG Catat 291 Gempa...
BMKG Catat 291 Gempa Susulan Terjadi Pascagempa NTT
Berita Terkini
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
21 menit yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
1 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
1 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
1 jam yang lalu
Kepala BGN Baru Sebut...
Kepala BGN Baru Sebut MBG Tender Politik Prabowo: Tak Bisa Dibubarkan
2 jam yang lalu
Potensi Tokenisasi Aset...
Potensi Tokenisasi Aset Capai USD2 Triliun di 2030, Keamanan Investor Jadi Kunci
2 jam yang lalu
Infografis
8 Menteri Era Jokowi...
8 Menteri Era Jokowi yang Terjerat Kasus Korupsi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved