Alih Lahan Rawa Jadi Area Tanam Produktif Bisa Ganggu Ekosistem

Rabu, 24 Oktober 2018 - 15:20 WIB
Alih Lahan Rawa Jadi...
Alih Lahan Rawa Jadi Area Tanam Produktif Bisa Ganggu Ekosistem
A A A
JAKARTA - Program alih lahan rawa untuk menjadi pertanaman produktif dinilai bertentangan dengan regulasi. Salah satunya Undang-undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ada pula Peraturan No. 73 Tahun 2013 Tentang Rawa yang harus diperhatikan.

Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Merah Johansyah mengatakan, program alih lahan rawa menjadi bukti hilangnya kendali atas lahan pertanian. Di sisi lain program alih lahan rawa juga disebutkan bisa menganggu ekosistem, bahkan rawan menimbulkan bencana ekonogis di Indonesia.

“Jadi program ini semakin menunjukan tidak adanya kuasa terhadap lahan pertanian sendiri sehingga memaksa untuk mencari lahan residu atau lahan yang masih tersisa. Makanya mencari rawa dinilai bisa ditanami oleh komoditas padi,” kata Merah, di Jakarta.

Lebih lanjut, Ia menambahkan terdapat risiko besar apabila program alih lahan ini berlanjut. “Kita tahu rawa itu punya fungsi sendiri. Kalau dialih fungsikan kita akan tanggung resikonnya. Makanya pemerintah perlu melakukan evaluasi,” tandasnya.

Rusak Keseimbangan


Sementara Pengamat pertanian UGM, Jangkung Handoyo Mulyo menyatakan, kebijakan pengembangan lahan rawa sebagai lahan pertanian produktif jangan sampai merusak ekosistem. Pasalnya, keberadaan lahan-lahan rawa atau gambut sejatinya juga memiliki peran dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan iklim.

"Keberadaan gambut dan rawa pasti punya peran dalam siklus ekosistem. Jadi tidak boleh semua (rawa dan gambut) dimanfaatkan untuk itu (lahan pertanian). Keseimbangan ekosistem harus dipertimbangkan," kata Jangkung.

Dikatakan olehnya, untuk merealisasikan hal itu diperlukan perlakuan-perlakuan khusus, mengingat adanya perbedaan jenis dan tingkat kesuburan tanah. Oleh karenanya, diperlukan juga varietas padi yang cocok untuk tanah rawa. "Pemanfaatannya dimungkinkan, tapi jangan dibayangkan produktifitas dan kesuburannya akan sama dengan lawan sawah irigasi pada umumnya," jelasnya.

Untuk itu dia menegaskan, Kementan perlu melakukan riset lebih dalam untuk menentukan lahan rawa mana saja yang dapat dimanfaatkan. Di kesempatan terpisah, pengamat lingkungan hidup Tarsoen Waryono mengakui, lahan sawah di wilayah perkotaan semakin berkurang luasannya karena pengembangan wilayah. Sehingga banyak sawah-sawah yang dialih fungsikan menjadi pemukiman, mall, industri dan lainnya. Diakuinya, untuk pertanian rawa tidaklah mudah.

“Kadangkala memerlukan beberapa perlakuan, keterkaitannya dengan pengaturan tata air (irigasi teknis) karena ada rawa yang dipengaruhi oleh air rob, tanahnya terlalu asam, sehingga perlu pengapuran (dolomit) untuk menaikan pH (keasaman tanah) agar menjadi basa, juga kadangkala ada yang tanahnya mudah terbakar pada musim kemarau seperti yang terjadi pada tanah-tanah gambut,” tuturnya.

Tarsoen mengatakan, kendala-kendala itu dapat diatasi tapi tidak mudah. Ia mengakui, perubahan rawa air tawar dan atau lahan gambut menjadi lahan pertanian sawah, memang merubah ekosistem.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Masyarakat Permasalahkan...
Masyarakat Permasalahkan Peruntukan Kawasan Olahraga Jadi Rukan
Limbah Kopi Terbukti...
Limbah Kopi Terbukti Dapat Menyuburkan Lahan Kritis
Ganti Rugi Tanah Ulayat...
Ganti Rugi Tanah Ulayat untuk Pembangunan Bandara Siboru Belum Tuntas
Lahan Kritis di Jawa...
Lahan Kritis di Jawa Timur Capai 311.231 Hektare
Ketua MPR Desak Kementerian...
Ketua MPR Desak Kementerian ATR Selesaikan Konflik Agraria di Deliserdang
Lahan Kritis di Jabar...
Lahan Kritis di Jabar Tembus 700 Ribu Hektare, Picu Bencana Alam
Berita Terkini
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
7 jam yang lalu
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
8 jam yang lalu
Indonesia-Australia...
Indonesia-Australia Kolaborasi Cetak Tenaga Ahli Butchery dan Food Safety
8 jam yang lalu
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
9 jam yang lalu
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
9 jam yang lalu
Bangun BRT Metropolitan...
Bangun BRT Metropolitan Cekungan Bandung, Brantas Abipraya Dukung Transformasi Transportasi
9 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved