Akses Berdayakan Hutan Dibuka, Pembiayaan Perubahan Iklim Rp1.065 T

Rabu, 12 Desember 2018 - 11:48 WIB
Akses Berdayakan Hutan...
Akses Berdayakan Hutan Dibuka, Pembiayaan Perubahan Iklim Rp1.065 T
A A A
JAKARTA - Aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim butuh dukungan pembiayaan yang memadai. Kolaborasi pemerintah, investor, dan organisasi masyarakat sipil bisa menjadi solusi. Hal ini terungkap pada saat diskusi panel di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim (COP UNFCCC) ke 24 di Katowice, Polandia.

Asisten Deputi Tata Kelola Kehutanan Kantor Menteri Koodinator Bidang Perekonomian Prabianto Mukti Prabowo menyatakan, Indonesia mengembangkan skema perhutanan sosial sebagai salah satu upaya pengendalian perubahan iklim. Melalui skema ini, masyarakat diberi akses untuk memanfaatkan sumber daya hutan secara berkelanjutan. Pengembangan perhutanan sosial sekaligus juga menjadi jembatan masyarakat di sekitar hutan untuk memperoleh kesejahteraan.

“Tersedianya akses legal kepada sumber daya hutan berarti membuka peluang beragam usaha dan meningkatkan ketahanan pangan. Ini bisa mengurangi sensitivitas rakyat terhadap dampak buruk perubahan iklim,” ujar Prabianto dalam siaran pers yang diterima SINDOnews di Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Prabianto menuturkan, pengembangan perhutanan sosial butuh dukungan pembiayaan. Salah satu potensi yang sedang digali pemerintah adalah penerbitan surat utang hijau (green bonds). Dana yang diperoleh kemudian dikucurkan dengan pola pembiayaan terpadu (blended financing) yang melibatkan dana publik atau dana investasi langsung.

“Green bonds menjanjikan nilai pengembalian investasi yang menguntungkan bagi investor dan berdampak positif bagi lingkungan. Ujungnya adalah stabilitas finansial secara nasional,” kata dia.

Untuk diketahui, Indonesia sudah menerbitkan surat utang hijau syariah (green sukuk) senilai USD1,2 miliar. Penerbitan ini diklaim sebagai sukuk hijau negara pertama di dunia dengan investor yang tersebar di seluruh dunia yaitu 32% pasar Islam, 25% pasar Asia, 15% EU, 18% AS, dan 10% Indonesia.

Diperkirakan kebutuhan pembiayaan untuk aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim tahun 2015-2020 mencapai Rp1.065 triliun atau Rp213 triliun per tahun. Sedangkan dana yang dialokasikan untuk aksi mitigasi dan adaptasi 2015-2019 yakni mencapai Rp728 triliun.

Direktur Eksekutif Yayasan Belantara Sri Mariati menuturkan, pihaknya mengembangkan jejaring yang melibatkan pemerintah, swasta dan organisasi sipil untuk membiayai aktivitas pengendalian perubahan iklim. Terhadap pendanaan yang tersedia, Yayasan Belantara juga mendorong sebagian pendanaan untuk ditempatkan pada dana abadi.

Cici, demikian panggilan akrab Sri Mariati, menyatakan sejumlah proyek yang dijalankan saat ini memanfaatkan pendanaan kolaborasi dari jejaring yang dibangun. “Salah satunya adalah pengembangan ekowisata Sembilang di Sumatera Selatan. Pengunjung bisa memanfaatkan kapal wisata untuk mendatangi Taman Nasional Sembilang,” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Kehati Riki Frindos menuturkan pendanaan untuk aktvitas pengendalian perubahan iklim juga bisa diperoleh dari pasar uang. Dia menuturkan, pada tahun 2009 pihaknya mengembangkan Indeks SRI-Kehati yang merupakan kerja sama dengan PT Bursa Efek Indonesia dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati).

Menurut Riki, Indeks SRI-Kehati dimaksudkan untuk memberikan pedoman berinvestasi di pasar modal dengan benchmark memuat kriteria emiten yang memiliki kinerja baik dan kesadarannya terhadap pelestarian lingkungan dan sosial. “Indeks SRI-Kehati juga menjadi indeks hijau (green index) pertama di Asia dan masih satu-satunya di Indonesia yang bertujuan untuk menciptakan sarana bagi pengusaha untuk menyelamatkan bumi,” ucapnya.

Adapun Senior Policy and Technical Advisor for the Climate and Forest UNDP (Badan PBB tentang Pembangunan) Danae Maniatis juga menekankan pentingnya kolaborasi diantara semua aktor dalam pengendalian perubahan iklim.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pendekatan Yurisdiksi...
Pendekatan Yurisdiksi Dinilai Penting untuk Dorong Perlindungan Hutan
Indonesia Dorong Kesetaraan...
Indonesia Dorong Kesetaraan dalam Sertifikasi Pengelolaan Hutan
Indonesia Pimpin Dialog...
Indonesia Pimpin Dialog FACT, 23 Negara Janji Bantu Hutan-hutan Dunia
Fakta Baru Keangkeran...
Fakta Baru Keangkeran Hutan di Indonesia Terungkap
Forum Penyelamat Hutan...
Forum Penyelamat Hutan Jawa Gugat Pemerintah Cabut SK Menteri LHK tentang KHDPK
Penyebab Pendakian Belum...
Penyebab Pendakian Belum Dibuka Meski Titik Api Gunung Arjuno-Welirang Sudah Padam
Berita Terkini
Operasional Multi Lokasi...
Operasional Multi Lokasi Kini Bisa Dipantau dari Satu Dashboard
15 menit yang lalu
Distributor di Kaltim...
Distributor di Kaltim Ikuti Factory Visit SIG untuk Perkuat Kemitraan
32 menit yang lalu
Sambut Libur Sekolah,...
Sambut Libur Sekolah, Jasa Marga Optimalkan One Call Center 133
33 menit yang lalu
Pertamina NRE Pasang...
Pertamina NRE Pasang PLTS Pertama di Kapal Angkut Minyak
50 menit yang lalu
Pertamina Pangkas 124...
Pertamina Pangkas 124 Anak Usaha, Ada yang di Merger hingga Likuidasi
1 jam yang lalu
10 Tahun Jadi Tempat...
10 Tahun Jadi Tempat Kerja Terbaik di Asia, BAT Indonesia Raih Platinum Harmonia
1 jam yang lalu
Infografis
Resmi Dibuka, Ini Formasi...
Resmi Dibuka, Ini Formasi Sekolah Kedinasan 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved