Negara Kehilangan Ratusan Miliar dari Jasa Pengiriman Kratom

loading...
Negara Kehilangan Ratusan Miliar dari Jasa Pengiriman Kratom
Negara Kehilangan Ratusan Miliar dari Jasa Pengiriman Kratom
JAKARTA - PT Pos Indonesia melalui surat No 571/Dir-5/1018 tanggal 2 Oktober 2018 yang ditandatangani Direktur Komersial, Charles Sitorus, menghentikan pengiriman paket yang berisi komoditas Kratom.

Selain penghentian pengiriman, dalam surat juga menyebut menghentikan penerimaan kiriman berisi komoditas kratom di UPT maupun Agen Pos. Penghentian disebabkan karena keterbatasan alat angkut yang bersedia mengangkut kiriman komoditas tersebut.

Penghentian pengiriman paket komoditas Kratom menjadi pertanyaan besar bagi karyawan PT Pos Indonesia yang tergabung dalam Serikat Pekerja Pos Indonesia. Karena pendapatan dari jasa pengiriman paket komoditas Kratom cukup besar, yakni Rp10 miliar per bulan.

Setelah melakukan tata kelola dengan baik, PT Pos Indonesia mendapatkan pendapatan sekitar Rp9 miliar sampai Rp10 miliar per bulan atau sekitar 1 ton per sekali kirim per hari.

Sebelum dihentikan, PT Pos Indonesia mampu mendapatkan penghasilan ratusan miliar per tahun. Dan sangat disayangkan kenapa jasa pengiriman paket ini dihentikan. Padahal menghasilkan pendapatan cukup besar buat negara.

"Kami sudah menanyakan ke Dirut PT Pos Indonesia alasan penghentian paket pengiriman kratom tersebut, tetapi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan," kata Iman Wahidin dari Serikat Pekerja Pos Indonesia yang berdomisili di Pontianak, Kalimantan Barat, yang dikonfirmasi lewat telepon, Senin (17/12).



Menurutnya kalau memang komoditas tersebut membahayakan atau tidak diizinkan pemerintah untuk di ekspor, kenapa pihak jasa pengiriman swasta dibolehkan, seperti DHL atau JNE.

"Ini tidak ada larangan dari BNN atau Kesehatan, dan di Amerika sendiri kratom ini dijadikan bahan kosmetika dan obat herbal," jelasnya.

Pihak Serikat Pekerja Pos Indonesia sempat menanyakan masalah ini tetapi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Direktur Utama PT Pos Indonesia. "Kalau alasan tidak tersedianya alat angkut, tidak masuk akal," kata Iman.

Kapuas Hulu dan Ketapang merupakan daerah penghasil Kratom terbesar di Kalimantan Barat. Dan mampu menciptakan lapangan usaha rumahan serta penghasilan yang lumayan buat masyarakat setempat.



Komoditas asli hutan ini setelah diolah di rumahan kemudian dikirim ke Pontianak dari Kapuas Hulu dan Ketapang, dan dari Pontianak di ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Daerah penghasil Kratom terbesar berasal dari Kapuas Hulu, dan Ketapang di Kalbar serta sebagian daerah di Kalsel.

Sementara itu, Direktur Komersial Pos Indonesia Charles Sitorus yang dikonfirmasi melalui telepon dan pesan singkat tidak merespon pertanyaan yang diberikan.
(ven)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top