Cadangan Devisa Naik Terimbas Penjualan Global Bond

Selasa, 08 Januari 2019 - 20:16 WIB
Cadangan Devisa Naik...
Cadangan Devisa Naik Terimbas Penjualan Global Bond
A A A
JAKARTA - Kenaikan cadangan devisa (Cadev) menjadi USD120,7 miliar dinilai penyebabnya adalah penjualan global bond untuk pembiayaan APBN 2019 pada pertengahan Desember yang lalu. Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam juga memperkirakan, ke depannya aliran investasi asing bakal terus masuk untuk memperkuat cadev.

"Sementara di sisi lain rupiah selama Desember juga relatif stabil cenderung menguat sehingga BI tidak harus mengeluarkan Cadev untuk menjaga nilai rupiah," katanya saat dihubungi SINDO, Selasa (8/1/2019).

Ke depan kalau melihat kondisi aliran modal asing yang masuk cukup deras di awal tahun 2019 yang kemudian mendorong penguatan rupiah cukup significant mendekati batas psikologis Rp14.000. Dia mengaku optimistis cadangan devisa pada kuartal I/2019 ini akan bisa bertahan di kisaran USD120 sampai dengan USD121 miliar. "Selama sentimen positif investor asing terjaga penguatan rupiah bisa terus berlanjut. Bahkan sangat mungkin menembus kebawah Rp14.000 per dollar," pungkasnya.

Rupiah yang menguat juga ditopang oleh risk-on sentiment di pasar negara berkembang setelah pernyataan Jerome Powell, Gubernur bank sentral AS, pada akhir pekan lalu yang mengatakan bahwa ada potensi perubahan stance kebijakan monter Fed mempertimbangkan potensi perlambatan ekonomi global termasuk ekonomi AS pada tahun ini.

Selain itu, data pertumbuhan pendapatan per bulan Desember juga tumbuh 0,4% MoM atau 3,2% YoY meskipun tingkat pengangguran sedikit naik menjadi 3,9%. "Rupiah juga ditopang oleh masuknya aliran modal di pasar SBN dimana yield SUN seri benchmark turun sekitar 8-10bps sejak akhir tahun lalu," tambah Ekonom Bank Permata Josua Pardede saat dihubungi.

Selain itu, pelemahan dollar AS (USD) juga dipengaruhi oleh partial shutdown dari pemerintah AS seiring dengan penutupan sebagian pemerintah AS karena pemerintah AS dan parlemen masih membahas terkait anggaran pembangunan tembok di perbatasan AS. Jika penutupan pemerintah AS terus berlanjut tentu akan berdampak negatif bagi perekonomian AS dalam jangka pendek.

Bukan hanya itu, penutupan pemerintah AS berpotensi berdampak positif bagi pasar keuangan negara berkembang. "Dengan demikian, cadangan devisa yang meningkat juga sudah sesuai dengan perkiraan," ungkap Josua.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Cadangan Devisa Indonesia...
Cadangan Devisa Indonesia Akhir September Turun Jadi 130,8 Miliar Dolar AS
Peningkatan Cadev Dipengaruhi...
Peningkatan Cadev Dipengaruhi Dua Faktor, Trennya Bakal Berlanjut
Ekonom Sebut Cadangan...
Ekonom Sebut Cadangan Devisa RI Masih Aman Meski Menurun
Cadev Naik Saat Ekspor...
Cadev Naik Saat Ekspor dan Devisa Pariwisata Anjlok Sinyal Abnormal, Apa Jawabannya
Cadangan Devisa Indonesia...
Cadangan Devisa Indonesia Naik Jadi USD137,1 Miliar
Cadangan Devisa Akhir...
Cadangan Devisa Akhir September 2021 Meningkat Jadi Rp2.092 Triliun
Berita Terkini
BI Respons Rupiah Tembus...
BI Respons Rupiah Tembus Rp18.000, Samakan Nasib dengan Tetangga RI
1 jam yang lalu
Pemerintah Pastikan...
Pemerintah Pastikan Harga MinyaKita Naik, Ini Sebabnya
2 jam yang lalu
Pastikan Kelancaran...
Pastikan Kelancaran Pemulangan Jemaah Haji, Garuda Indonesia Intensif Koordinasi dengan Arab Saudi
2 jam yang lalu
DSI Dinilai Bisa Perkuat...
DSI Dinilai Bisa Perkuat Ekspor dan Transparansi Tata Kelola SDA
2 jam yang lalu
IHSG Kebakaran, Rontok...
IHSG 'Kebakaran', Rontok 3,58% ke 5.734 Siang Ini
3 jam yang lalu
Mendorong Standar Baru...
Mendorong Standar Baru Hilirisasi Nikel Berkelanjutan Tengah Tuntutan Global
3 jam yang lalu
Infografis
Jadwal MotoGP Mandalika...
Jadwal MotoGP Mandalika 2025, Mampukah Marc Marquez Naik Podium?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved