Millennials Kill Advertising

Minggu, 03 Februari 2019 - 08:32 WIB
Millennials Kill Advertising
Millennials Kill Advertising
A A A
Note: Menyongsong peluncuran buku saya Millennials Kill Everything (Gramedia Pustaka Utama, 2019) dalam beberapa minggu ke depan saya akan menulis beberapa produk, industri, atau apa pun yang ”dibunuh” oleh milenial.

Kali ini saya menulis salah satu korban milenial yaitu: ”advertising ”.Ada tiga dosa besar iklan yang tidak diampuni oleh milenial.

Pertama, dengan semena-mena iklan menginterupsi saat kita sedang seru-serunya nonton Liverpool vs Chelsea di layar TV. Padahal, milenial tak mau diinterupsi oleh iklan, mereka maunya berinteraksi secara mendalam dengan brand .

Kedua, iklan tidak mampu berdialog dengan audiens karena sifat komunikasinya satu arah. Ia hanya bisa ngomong ke audiens, tapi audiens tidak bisa ngomong balik ke dia.

Iklan bahkan tak mampu mendengar. Padahal, milenial ingin dialog dan conversations bukan komunikasi satu arah. Karena komunikasinya satu arah, maka iklan bisa dengan semena-mena memelintir informasi yang disampaikan sesuai kepentingan jualan mereka.

Inilah yang menyebabkan pesan-pesan iklan tidak jujur dan tidak otentik. Hanya 1% saja milenial yang mengatakan bahwa pesan-pesan jualan dari iklan membuat mereka trust kepada brand. Mereka meyakini bahwa iklan sarat dengan rekayasa dan tidak otentik.

Padahal, 43% milenial lebih mementingkan otentisitas ketimbang konten saat mengonsumsi informasi. Milenial ingin pesanpesan pemasaran yang otentik. Mereka ingin membina hubungan yang dalam dengan brand , bisa berkontribusi, dan menjadi bagian dari brand . Hal ini mustahil terwujud jika format komunikasinya masih satu arah seperti halnya iklan.

Ketiga , iklan selalu nerocos jualan. Padahal, milenial butuh story , bukan sales pitching .

Story menciptakan engagement, sementara sales pitching menciptakan antipati dan kebosanan (boredom).

Karena tiga dosa besar tersebut, tak terhindarkan lagi iklan bakal dicuekin dan dibunuh pelan-pelan oleh milenial. Untuk bisa tetap survive , maka iklan harus bermetamorfosa menjadi bentuk baru yang lebih millennial -friendly .

Studi dari Rapt Media di AS dan Inggris menunjukkan bahwa 63% milenial lebih percaya pada konten yang dia cari dan telusuri sendiri ketimbang iklan yang tiba-tiba nyelonong menginterupsi mereka. Milenial tak mau diinterupsi oleh iklan, maunya mereka mencari sendiri konten yang relevan dengan kemauannya.

Sementara hasil survei lain oleh The McCarthy Group menunjukkan 84% milenial tak lagi merespons iklan tradisional dan tak lagi memercayainya. Iklan juga tidak relevan karena kini milenial lebih memercayai apa yang dikatakan dan direkomendasikan oleh peers ketimbang iklan.

Dengan social circle yang dimilikinya di Facebook, Instagram, atau Twitter, maka milenial begitu mudah memutuskan brand mana yang mereka pilih hanya dengan mendengar comments dan opini dari para peers .

”Millennials donít trust corporations, they trust each other. And they love to share .” Indikator ketidaksukaan milenial kepada iklan paling jelas terlihat dari penggunaan aplikasi pemblokir iklan (adblocker) yang melonjak pesat sejak 2013.

Menurut PageFair, penggunaan adblocking (baik desktop maupun mobile ) tumbuh fantastis 41% setiap tahunnya dan milenial mendownload lebih dari 40% dari seluruh adblocking yang ada. Yang menarik, untuk mobile , penggunaan adblocking di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia di mana penetrasinya mencapai 58%.

YUSWOHADY
Managing Partner Inventure www.yuswohady.com
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Terancam Tutup, Perusahaan...
Terancam Tutup, Perusahaan Perparkiran Butuh Sederet Relaksasi Pajak
Pabrik Mulai Berproduksi,...
Pabrik Mulai Berproduksi, VW Ubah Logo seperti Game PacMan
Sosialisasikan COVID-19,...
Sosialisasikan COVID-19, Pengelola Apartemen Manfaatkan Jaringan TV Lokal
Jukir CentrePark Kembalikan...
Jukir CentrePark Kembalikan Dompet Temuan Berisi Jutaan Rupiah ke Pemiliknya
Berkat Kerja Keras Tim,...
Berkat Kerja Keras Tim, CentrePark Raih Penghargaan Wajib Pajak Terbaik
Pura Trans dan Hino...
Pura Trans dan Hino Latih Smart Driving untuk Para Sopir
Berita Terkini
Perkuat Daya Saing Industri...
Perkuat Daya Saing Industri Wellness dan Beauty Nasional Mendunia, BRI Dukung BWB Expo 2026 di Bali
20 menit yang lalu
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
1 jam yang lalu
Bunga Mulai 1,75%! BRI...
Bunga Mulai 1,75%! BRI KPR Hadirkan Solusi Paling Ringan untuk Miliki Rumah Impian
1 jam yang lalu
Danantara Bantah Isu...
Danantara Bantah Isu Pemilik Tabungan Rp3 Miliar Wajib Beli Patriot Bond
1 jam yang lalu
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
2 jam yang lalu
IFG Life Beri Proteksi...
IFG Life Beri Proteksi 10 Ribu Pelari di Ajang Yellow Run 2026
2 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved